"Banyak Anak Tak Harus Mati Gaya"

Banyak anak di masa sekarang seringkali dianggap aneh dan merepotkan. Benarkah demikian? Seorang ibu berbagi pengalamannya...

Banyak anak banyak rejeki, benarkah demikian? Banyak anak banyak rejeki, benarkah demikian?

Memiliki banyak anak, seringkali dijadikan alasan untuk berhenti bekarya. Anak-anak memang selalu bisa dijadikan alasan untuk membenarkan sikap antiproduktif para ibu.

Namun, Bunda, sikap itu sungguh tidak adil bagi anak-anak. Kehadiran mereka memang menuntut perhatian besar, namun bukan alasan untuk tidak produktif. Peribahasa yang mengatakan bahwa banyak anak banyak rezeki, menurut saya itu betul adanya.

Mengapa? Sebab kehadiran banyak anak justru menjadi sumber inspirasi dan pendorong semangat untuk lebih produktif. Tidak mudah memang, namun di situlah letak daya tariknya.

Memiliki 6 orang anak dengan tiga tahap perkembangan yang berbeda-beda (dua orang remaja, dua anak usia SD, dan dua balita) memang dibutuhkan kesabaran lebih. Namun bila dinikmati, semua berjalan normal.

Tiap tahap perkembangan anak menuntut perhatian dan penangan yang berbeda. Misalkan saja ketika seorang anak memecahkan piring atau gelas. Sudah barang tentu reaksi yang kita keluarkan berbeda, sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Misal ketika yang memecahkan gelas anak usia balita, tentu kita akan bereaksi cepat dengan menyingkirkan anak sejauh mungkin dari pecahan kaca yang bisa melukai kulitnya. Pada saat itu, kita lebih cenderung mengatakan pada anak agar tidak mendekat untuk menghindari kemungkinan terluka.

Namun, pada anak usia SD, kita akan mulai mengomel dan bertanya kenapa gelas tersebut bisa pecah. Mungkin, pada saat yang sama si anak akan bergerak otomatis menjauhi lokasi pecahan kaca. Dan kita pun akan bereaksi membersihkan lokasi dengan mulut penuh nasehat agar si anak tidak mengulangi kecerobohan yang sama.

Sedangkan pada anak remaja, mungkin kita hanya bisa terdiam beberapa waktu. Menerka-nerka penyebab si anak memecahkan piring. Sebelum menyuruh si anak membereskan pecahan kaca tersebut sebelum kemudian mengajaknya bicara.

Mengelola reaksi dan emosi seperti itulah yang saya hadapi sepanjang waktu. Memiliki banyak anak memang tidak mudah, tapi menyenangkan ketika berhasil melewatinya dengan baik. Di tengah-tengah segala kehebohan yang tak kunjung putus itulah kegiatan menulis saya berlangsung.

Saya memilih untuk menekuni dunia menulis setelah mencoba berbagai kegiatan yang memungkinkan untuk saya lakukan, seperti bisnis minuman ringan di sekolah-sekolah swasta, membuat coklat hias dan bahkan membuat es krim rumahan.

Keberadaan banyak anak tidak serta-merta menjadikan saya memiliki alasan untuk bersikap kontra produktif dan mati gaya. Karena pada saat yang bersamaan, ketika bersama mereka, pada saat-saat seperti itulah ide-ide yang bisa dijadikan bahan tulisan bermunculan.

Tulisan-tulisan saya yang dimuat di media masa sebagian besar berasal dari anak-anak. Bahkan dalam buku duet saya bersama seorang psikolog, tingkah laku anak-anak itulah yang menjadi sumber inspirasi.

Tips agar tetap produktif seperti yang saya lakukan mungkin bermanfaat bagi Bunda ;

1. Jangan panik

Anak-anak memang pencipta kekacauan luar biasa dalam rumah tangga. Hadapilah kekacauan itu dengan tenang. Dengan berpikir jernih, kita akan melihat kekacauan itu dengan sudut pandang yang positif.

2. Berhentilah menjadi ibu yang sempurna

Menjadi ibu yang sempurna itu melelahkan. Lakukanlah yang terbaik, namun maafkanlah diri sendiri ketika kita tidak mampu melakukan satu atau beberapa hal. Bukankah hidup adalah proses? Dan kita bisa berproses tanpa harus membebani diri dengan tuntutan-tuntutan yang melelahkan diri.

Baca juga : Menjadi Ibu yang Bahagia

3. Kenali kemampuan diri

Dengan mengenali diri sendiri, kita akan mengetahui kegiatan apa yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi keluarga. Optimalkan kemampuan diri kita tanpa mengabaikan anak dan keluarga.

4. Ajak anak-anak bekerjasama

Anak-anak bukanlah benda mati yang kaku. Anak-anak merupakan keajaiban Tuhan yang dititipkan pada kita, lengkap dengan kemampuan berempati dan pemahamannya akan kondisi hidup sehari-hari. Dengan memberi pengertian, ataupun mengadakan bargaining kita akan bisa menjalin kerjasama dengan mereka.

5. Nikmati dan syukuri kehidupan yang Anda jalani

Tidak ada kehidupan yang berjalan stabil. Persoalan dan ujian akan silih berganti menemui Anda, begitu juga dengan kebahagiaan. Nikmatilah hidup Anda, dan syukuri, karena hal itulah yang membuat Anda tetap bersemangat dan produktif.

So, banyak anak tak harus mati gaya kan?

Baca juga artikel menarik lainnya:

Apakah Saya Seorang Ibu yang Baik?

Kapan Sebaiknya KB Setelah Melahirkan?