Balita di Semarang alami gangguan mata dan telinga akibat virus rubella

lead image

Virus rubella memang termasuk ke dalam salah satu penyakit yang memiliki tingkat bahaya yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan rubella dapat terjadi kepada siapa saja, terutama anak-anak.

Virus rubella juga sering dikenal dengan istilah campak Jerman yakni sebuah infeksi virus akut yang dapat menular pada siapa saja. Meskipun penyakit jenis ini tergolong ke dalam penyakit yang ringan, namun tetap saja harus diwaspadai.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/balita di semarang upload 300x228.jpg Balita di Semarang alami gangguan mata dan telinga akibat virus rubella

Ayni dengan ditemani ibunya saat bermain mobil-mobilan. (foto: detikcom)

Seperti yang terjadi pada seorang balita di Semarang, Ayni Tiya Rahmadani berusia 2 tahun 3 bulan terserang virus rubella. Dampak virus tersebut, sekarang dia mengalami gangguan pendengaran dan penglihatan.

Saat ditemui di rumahnya Dusun Krajan RT 02/RW 01, Desa Dadapayam, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Ayni tengah bermain di teras bersama ayahnya, Suryadi (33). Ketika itu, Ayni baru saja pulang dari terapi wicara di RSUP Dr Kariadi Semarang. Sekilas bila dilihat dari kejauhan, Ayni sama seperti anak pada umumnya yang seusianya.

Ibu Ayni, Siti Zakiyah (35), menuturkan, pada saat usianya baru satu bulan di retina mata sebelah kiri ada bintik-bintik putih. Untuk itu, kemudian diperiksakan di puskesmas dan disarankan agar memeriksakan di rumah sakit mata.

“Saat di rumah sakit mata, kami diberitahu kalau Ayni katarak. Kami dikasih tahu seperti itu, kaget dan disarankan untuk pemeriksaan lebih lanjut di RS Kariadi Semarang,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Selasa siang.

Untuk katarak, salah satu harus penangannya dilakukan operasi. Namun karena masih bayi, harus menunggu usianya bertambah. Sebelum menjalankan operasi katarak, dilakukan pemeriksaan laboratorium dan ketika Ayni berusia 3 bulan diketahui terserang virus rubella.

Semenjak diketahui terkena virus rubella tersebut, Ayni pun harus mendapatkan perawatan yang intensif. Selain itu, dilakukan pemeriksaan THT (Telinga Hidung dan Tenggorokan). Setelah memasuki usia 5 bulan dilakukan operasi katarak untuk mata sebelah kiri, kemudian pada usia 6 bulan dilakukan operasi katarak di mata sebelah kanan.

Dampak lainnya pun diketahui, saluran pembuluh darah yang menuju jantung bocor. Untuk itu, semenjak usia 6 bulan, Ayni harus minum obat untuk kesembuhan jantungnya. Selain itu, semenjak usia 8 bulan setiap Selasa dan Kamis, Ayni pun harus menjalani terapi di RSUP Dr Kariadi Semarang.

Adapun terapi yang dijalani meliputi fisioterapi, okupasi terapi dan terapi wicara. Untuk terapi ini pun masih berlangsung hingga sekarang. Sedangkan sekarang hanya terapi wicara setiap hari Selasa.

“Dulunya seminggu dua kali terapi pada Selasa dan Kamis. Sekarang tinggal seminggu sekali tiap Selasa terapi wicara,” katanya. Mereka berangkat terapi dari rumahnya pukul 05.00 WIB.

Selanjutnya, pada Agustus 2018 lalu, Ayni menjalani operasi kateterisasi jantung di RSUP Dr Kariadi Semarang. Dalam operasi ini sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan.

“Pada Agustus lalu, pemasangan kateterisasi jantung melalui selangkangan. Alhamdulillah operasinya berhasil, nanti 6 bulan tepatnya April 2019 harus kontrol lagi,” kata dia sambil matanya berkaca-kaca.

Virus rubella inipun berdampak pada pendengaran Ayni. Untuk itu, membeli sepasang alat bantu pendengaran sebesar Rp17 juta. Alat bantu pendengaran inipun setiap mandi dan tidur dilepas, kemudian setiap seminggu sekali harus diganti baterainya. Selain memakai alat bantu pendengaran, kini Ayni memakai kaca mata plus.

Dokter pun sempat menyarankan untuk memasang alat bantu pendengaran dengan implan dipasang dalam telinga. Namun hal tersebut tidak dilakukan karena biaya sampai Rp200 juta. Untuk itu, memilih membeli alat bantu pendengaran.

“Sepasang alat bantu pendengaran ini harganya Rp17 juta, BPJS sebesar Rp1 juta,” tuturnya.

Siti mengakui, jika sebelumnya sempat berjualan sembako. Namun seiring berjalannya waktu kini praktis hanya merawat putri keduanya. Bahkan saat musim kemarau kemarin, sempat berjualan es di depan rumahnya. Sedangkan, suaminya dulu bekerja sebagai sopir, namun sekarang bekerja serabutan.

Adapun untuk setiap harinya, Ayni susah makan. Untuk itu, tiap harinya minum susu sekitar 7-8 botol ukuran 150 mili liter. Selain itu, hingga sekarang setiap seminggu sekali tepatnya tiap Selasa harus menjalani terapi di RSUP Dr Kariadi Semarang.

“Kalau susu 800 gram itu hanya cukup untuk 4 hari,” kata dia.

“Harapan kami Ayni bisa mandiri, sehat, bisa mendengar dan bicara,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Pakde Ayni, Eko Haryanto (40).

“Harapan kami, Ayni diberikan kesembuhan bisa seperti anak-anak lainnya,” tuturnya lirih.

 

Sumber : Detik.com

 

Baca juga :

Rencana liburan ke Jepang? Wabah rubella sedang merebak, Bumil wajib waspada!

"Cukup anak saya yang jadi korban!" Pesan ibu terinfeksi Rubella saat hamil

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.