Baikkah Memberikan Tablet Untuk Anak Balita?

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

“Anakku yang berusia 1.5 tahun sudah pintar lho bermain Ipad”, kata seorang ibu. Ada juga efek negatif dalam penggunaan tablet untuk anak balita.

Baikkan memberikan tablet untuk anak balita?

Baikkan memberikan tablet untuk anak balita?

Sekarang gadget elektronik bukan menjadi suatu barang yang mewah lagi tetapi sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keluarga. Bahkan penggunaan barang elektronik seperti TV, video game, handphone, Ipad atau Android tablet untuk anak diperlakukan sebagai “digital babysitter” terutama agar balita lebih tenang. Banyaknya aplikasi dan games yang menarik, edukatif juga interaktif bagi balita menjadi pertimbangan orang tua untuk memberikan tablet untuk anak bermain dan membaca. Tetapi ada beberapa efek negatif yang dapat terjadi bila orang tua memberikan tablet untuk anak usia balita yang sedang dalam masa perkembangan.

Gangguan tidur

Anak dapat mengalami susah tidur atau kualitas tidur yang kurang baik bila sebelum waktu tidur ia menonton TV, membaca cerita lewat aplikasi e-Book di tablet, bermain video games. Ini dapat terjadi karena cahaya yang dipancarkan dari layar gadget elektronik tersebut yang membuat anak sulit untuk tidur. Jadi pikirkanlah matang-matang sebelum membelikan tablet untuk anak.

Keterlambatan bicara

Menurut penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics, sangat disarankan agar anak berusia di bawah 2 tahun tidak diberikan “screen time” atau ekspos pada layar dari gadget elektronik karena dapat mengakibatkan keterlambatan bicara dan gangguan tidur. Penelitian lain juga menyingkap bahwa TV berpengaruh dalam “talk time” atau waktu bicara berkualitas antara orang tua dan anak, di mana sangat penting bagi perkembangan bahasa anak.

Sikap pasif

Sikap pasif ini maksudnya anak kurang bergairah untuk melakukan aktivitas fisik seperti berjalan, berlari, bermain puzzle. Dengan bermain tablet, anak berhadapan dengan layar yang disentuh sesuai dengan petunjuk interaktif. Namun kurangnya stimulasi sebanyak anak dapat memegang langsung benda konkrit seperti bola atau puzzle, membuat anak cenderung lebih pasif. Sedangkan anak terutama batita yang kemampuan kognitifnya sedang berkembang dapat distimulasi lewat sensori dengan cara memegang, menyentuh, mencium, melihat serta mendengar. Anak lebih membutuhkan objek konkret daripada lewat layar dalam proses belajar dan perkembangan kognitifnya.

Kurang baik bagi perkembangan fungsi mata

Tentunya layar TV, tablet, handphone sangat menarik untuk anak sehingga ia terpaku melihatnya. Namun perlu diingat bahwa gerakan (motion) yang cepat berpindah dari satu ke yang lainnya, warna yang terang dari layar dapat membuat otot mata lelah bahkan berubah secara fisiologis. Ditambah lagi bila jarak antara mata dan layar dekat dan kurang terekspos sinar matahari sangat berpengaruh bagi perkembangan mata balita.

Dampak selanjutnya, pada halaman berikut ini :

 

Dapatkan info Terkini Seputar Dunia Parenting

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Batita