Kurang tidur selama kehamilan bisa berakibat buruk

lead image

Bahaya kurang tidur selama kehamilan bisa berdampak buruk bukan hanya pada si ibu, tapi juga si calon bayi.

Kehamilan terkadang bisa membuat stres. Karena terjadi perubahan besar dalam tubuh wanita yang sedang hamil, Di antarnya mungkin perubahan pola makan, dan tidur tidak dapat dihindari. Namun bahaya kurang tidur saat hamil harus lebih diperhatikan, karena mengakibatkan sesuatu yang tidak baik.

Apa bahaya kurang tidur selama kehamilan?

Sebaiknya bunda mempelajari apa bahaya kurang tidur pada ibu hamil, akibatnya pada kehamilan, dan pada janin yang sedang berkembang. Kurang tidur dapat berdampak buruk pada kesehatan, dan juga berdampak penting pada kehamilan. Tidur yang tidak teratur berpotensi menyebabkan komplikasi, seperti hipertensi dan diabetes gestasional.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/006662800 1541588605 shutterstock 731558587 1.jpg Kurang tidur selama kehamilan bisa berakibat buruk

Mendengkur dan Obstructive sleep apnea (OSA) sering terjadi selama kehamilan, terutama selama trimester kedua dan ketiga. OSA adalah gangguan tidur yang membuat anda berhenti bernapas untuk sementara saat tidur. Ini merupakan gangguan tidur yang serius.

Diperkirakan bahwa sleep apnea memengaruhi 10% wanita hamil, dan gangguan pernapasan selama tidur dapat memiliki konsekuensi serius, termasuk:

– Hipertensi (tekanan darah tinggi)
– Preeklampsia
– Gestational diabetes
– Hipertensi pulmonal

Pada wanita yang sebelumnya tidak terkena hipertensi, tekanan darah tinggi dalam kehamilan datang saat tekanan darah lebih besar dari 140/90 mm Hg, dan ini terjadi berulang kali setelah 20 minggu.

Jika protein juga dicatat dalam urin, kondisi yang disebut preeklampsia dapat terjadi. Hal ini berhubungan dengan cedera organ potensial pada ibu. Preeklamsia bahkan bisa meningkatkan risiko kematian bagi ibu dan anak.

Sejumlah penemuan tentang preeklampsia ini biasanya terjadi pada pengaturan dengkuran kronis, sekitar 59% wanita preeklamsi mendengkur secara rutin. Ini dapat menyebabkan pembengkakan di sepanjang saluran napas, yang pada gilirannya akan mempersempit jalan dimana udara harus mengalir.

Pada wanita yang gemuk atau yang memiliki lingkar leher besar mungkin berisiko lebih. Faktor-faktor ini berkontribusi pada runtuhnya saluran napas dan kesulitan bernafas saat tidur.

Jika nafas berhenti maka disebut apnea, ini mungkin bisa dikaitkan dengan lonjakan tekanan darah. Gelombang ini dapat menyebabkan perubahan dalam pembuluh darah, dan meningkatkan tekanan darah secara keseluruhan.

Ini dapat mengurangi volume darah yang dipompa oleh jantung, penurunan output jantung. Akibatnya, aliran darah ke janin melalui plasenta dapat membahayakan.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/kurang tidur pada ibu hamil bisa memicu penyakit ini.jpg Kurang tidur selama kehamilan bisa berakibat buruk

Lemahnya aliran darah ke bayi yang sedang berkembang akan berdampak pada penurunan kadar oksigen. Ini berakibat pada pembatasan pertumbuhan janin yang sedang berkembang, dan perkembangan kehamilan yang tidak baik.

Selain itu, tidur yang tidak teratur dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Hal ini disebabkan perubahan regulasi glukosa dan kontrol nafsu makan. Dengan adanya kebiasaan mendengkur, ada peningkatan risiko mengembangnya diabetes gestasional.

Nah, bagi ibu hamil ada baiknya untuk lebih memperhatikan kualitas tidur. Bahaya kurang tidur selama kehamilan bisa berdampak buruk bukan hanya pada si ibu, tapi juga si calon bayi.

Sumber verywellhealth.com

Baca juga:

Penelitian: Ibu Hamil yang Kurang Tidur Berisiko Terkena Diabetes

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.