Tragis, Ayah Membunuh Bayinya Secara Live di Facebook dan Bunuh Diri Setelahnya

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Sebuah video Facebook live kembali menuang kontroversi. Setelah tega membunuh bayinya, seorang ayah memutuskan untuk bunuh diri.

Seorang ayah bernama Wuttisan Wongtalay tega menghabisi nyawa bayinya sendiri dan bunuh diri setelahnya. Tragisnya, pembunuhan yang ia lakukan direkam lewat tayangan Facebook Live.

Kejadian tersebut terjadi di sebuah hotel di wilayah Phuket, Thailand. Video pembunuhannya bertengger selama 24 jam di Facebook sebelum akhirnya dihapus secara permanen oleh pihak Facebook pada tanggal 25 April 2017 lalu. Selain di Facebook, video yang sama telah diposting ulang di YouTube dan ditonton oleh ribuan orang.

Video mengenaskan tersebut kini telah dihapus paksa oleh tim YouTube. Itu pun setelah media BBC mengingatkan tentang perlunya menghapus video macam itu karena dapat berdampak buruk bagi yang melihatnya dan bertentangan dengan aturan yang telah dituliskan oleh YouTube sendiri.

Seorang kerabat bernama Wuttisan Wongtalay sempat menghubungi polisi agar segera ke hotel tempat terjadinya peristiwa begitu video tersebut ditayangkan di Facebook. Sayangnya, bayi dan ayah tersebut sudah tiada saat polisi sampai di lokasi kejadian.

Jiranuh Triratana, ibu dari bayi malang tersebut menyampaikan pada Benar News bahwa selama ini ia hidup dengan rasa takut yang teramat sangat pada suaminya. Namun, ia tak pernah berani mengungkapkan sikap buruk pasangannya tersebut karena takut jika aksinya justru akan membuat dia dan anaknya disiksa oleh sang suami.

Kejadian pembunuhan terhadap anaknya ini sangat mengguncang hatinya. Jika bisa, ia mau saja menggantikan posisi bayi berumur sebelas bulan tersebut daripada menyaksikannya terbunuh di tangan ayahnya sendiri.

"Sekalipun suamiku belum pernah menyakitiku secara fisik, jika sedang marah, maka ia tidak segan menyakiti anak lelakinya sebagai pelampiasan," tutur Jiranuh.

Begitu mengetahui bahwa ia kehilangan buah hatinya, Jiranuh rasanya ingin ikut mengakhiri nyawanya sendiri. Untunglah keluarga selalu mendampinginya di kala duka.

Wuttisan membunuh anaknya dengan cara berdiri di atas gedung dan menggantung leher bayi mungil tersebut sebelum menjatuhkan talinya. Ia memang tak merekam bunuh dirinya di Facebook seperti yang ia lakukan pada bayinya. Namun, polisi menemukan bahwa tubuhnya tergantung di sebelah bayinya.

Peristiwa yang terjadi Thailand tersebut juga menggegerkan dunia. Pasalnya, ini bukan hal tragis pertama yang disiarkan langsung lewat video Facebook. Di Indonesia sendiri, ada kasus Pahinggar Indrawan beberapa waktu yang lalu.

Artikel terkait: Putus Asa, Anak Usia 12 Tahun Siarkan Video Bunuh Diri

Video langsung di Facebook memang beberapa kali memuat peristiwa bunuh diri, perkosaan, pembunuhan yang tak dapat dicegah oleh pihak kepolisian. Sekalipun berlangsung beberapa menit dan ditonton oleh banyak orang, polisi seringkali kesulitan untuk mencapai lokasi kejadian hingga semuanya terlambat.

Pentingnya kesadaran tentang kesehatan mental

Kecenderungan seseorang untuk bunuh diri sebenarnya merupakan masalah kesehatan mental serius yang banyak diabaikan oleh masyarakat. Namun, kebanyakan masyarakat masih menganggap bahwa orang yang menyatakan ingin bunuh diri sedang cari perhatian, mengancam, atau justru bercanda.

Di dalam kasus Pahinggar, saat ia mengatakan pada viewers bahwa ia ingin bunuh diri, banyak netizen yang justru menantang keberaniannya bunuh diri alih-alih mencegahnya. Padahal, bisa saja peristiwa bunuh diri tersebut tak terjadi jika kesadaran masyarakat soal pentingnya kesehatan mental tinggi.

Kecenderungan seseorang yang ingin bunuh diri memang merupakan masalah mental yang bisa disembuhkan lewat terapi kepada psikolog maupun psikiater. Jika kejadiannya di Indonesia, maka Anda bisa menyarankan kepada kerabat yang mengatakan ingin bunuh diri untuk berkonsultasi ke lembaga peduli tentang kesehatan mental pencegahan bunuh diri.

Anda juga dapat berperan untuk mencegah niat bunuh diri seseorang jika melihat tanda-tanda sebagai berikut:

  1. Orang tersebut berbicara tentang mencari cara untuk bunuh diri
  2. Mengungkapkan keinginan untuk bunuh diri dalam keadaan tertentu
  3. Tampak tidak bisa membicarakan tentang masa depan dan harapan
  4. Meninggalkan wasiat tertentu kepada orang terdekat seolah ia akan pergi 'jauh' dan 'lama'
  5. Mengucapkan perpisahan secara tiba-tiba
  6. Menarik diri dari kehidupan sosial
  7. Menyakiti diri sendiri
  8. Membenci diri sendiri

Anda bisa membantu orang yang berniat bunuh diri dengan cara mengajaknya bicara dari hati ke hati atau mengantarnya konsultasi pada ahli jiwa maupun psikolog. Yakinkan ia bahwa depresi bisa terjadi pada siapa saja dan meminta bantuan dokter atau profesional adalah hal normal ketika seseorang sedang sakit.

Sayangi diri dan keluarga serta rutinlah melakukan pengecekan kesehatan mental secara berkala di Poliklinik Kesehatan Jiwa Setempat. Jangan khawatir dianggap tak normal karena semua orang punya potensi memiliki penyakit mental.

Di Rumah Sakit seperti RSCM, pendaftaran konsultasi seputar kesehatan mental di Poliklinik Kesehatan Jiwa memakan biaya pendaftaran sekitar Rp 150.000,00. Konsultasi selanjutnya sebesar Rp 75.000,00. Biaya tersebut belum termasuk dengan obat yang mungkin diresepkan oleh dokter.

Di lembaga Yayasan Pulih yang berkonsentrasi pada pemulihan mental, biaya perkonsultasi adalah Rp 100.000,00. Anda bisa menegosiasikan biaya tersebut jika tak mampu membayarnya. Jangan lupa buat janji konsultasi psikologis dulu lewat WhatsApp ataupun sms ke nomer 0812 8348 1128 atau telepon ke (021) 98286398.

Anda bisa juga menghubungi lembaga pencegahan bunuh diri seperti In to the Light dengan menulis curhatan di email dengan alamat intothelight.email@gmail.com.

Seperti halnya kesehatan fisik, kesehatan mental pun perlu dicek secara berkala. Stigma dan kurangnya pendidikan soal kesehatan mental membuat orang yang punya masalah kesehatan mental jadi lebih diremehkan daripada yang punya masalah tentang kesehatan fisik.

Jika Anda melihat video bunuh diri maupun kriminalitas lewat tayangan video langsung di media sosial, segera hubungi nomer darurat kepolisian di layanan bebas pulsa 112. Ingatkan pada sesama untuk tidak menyebar video maupun foto kejadian perkara di media sosial agar tidak menimbulkan efek yang tak diinginkan pada orang lain.

Sebarkan informasi ini untuk menyelamatkan orang-orang tersayang di sekitar Anda. Berhenti memberikan stigma negatif pada orang dengan gangguan kesehatan mental akan membuat lebih banyak orang tertolong sebelum terlambat.

 

Baca juga:

Surat Seorang Suami yang Istrinya Bunuh Diri Akibat Depresi Pasca Melahirkan

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Berita