Gara-gara Hal Ini, Seorang Ayah Tega Laporkan Anaknya ke Polisi

Gara-gara Hal Ini, Seorang Ayah Tega Laporkan Anaknya ke Polisi

Sang anak dijatuhi tuduhan mengemudi hingga menyebabkan kecelakaan lalu lintas, serta menerobos lampu lalu lintas di lokasi kejadian.

Tak semua orangtua tega menghukum anaknya sendiri apalagi sampai melaporkannya ke kantor polisi. Tapi, berbeda dengan seorang ayah di Kolombia ini. Sang ayah laporkan anak kandung ke polisi usai mengetahui putranya berbuat onar di jalan raya.

Apa yang dilakukan bocah tersebut hingga dilaporkan ke polisi? Simak laporan lengkapnya berikut ini.

Ayah Laporkan Anak Kandung ke Polisi, Sempat Curiga Mobil Tak Dibawa Pulang

ayah laporkan anak kandung ke polisi

Ilustrasi kecelakaan (Sumber: Shutterstock)

Sebagai sosok yang telah mengerti baik dan buruk, idealnya orangtua memang harus bersikap adil, termasuk kepada anak sendiri. Sayangnya, hal ini seringkali sulit untuk dilakukan. Tidak sedikit orangtua yang tidak tega memberi hukuman kepada orang yang kita kasihi.

Namun, hal ini rupanya tidak berlaku bagi seorang ayah di Kota Bogota, Kolombia. Mengutip Carscoops, media lokal setempat, pria tersebut berani melaporkan anaknya ke pihak kepolisian setelah mengetahui putranya berbuat onar di jalan raya.

Awalnya, lelaki yang tidak disebutkan identitasnya itu menaruh curiga karena mobil yang dikendarai putranya tak dibawa pulang sementara bocah tersebut sudah berada di rumah. Hal ini tak pernah terjadi sebelumnya sehingga membuatnya curiga. Kendaraan roda empat merk Ford Mustang itu selalu bersama dengan anaknya ke mana pun pemuda itu pergi.

Baca juga: Akibat menunggak SPP, anak 10 tahun di Bogor jalani hukuman hingga trauma

Ayah Laporkan Anak Kandung ke Polisi karena Tabrak Pengendara Sepeda Motor

ayah laporkan anak kandung ke polisi

Ilustrasi tabrakan (Sumber: Shutterstock)

Kecurigaan sang ayah ternyata bukan isapan jempol semata. Ia baru mengetahui peristiwa yang sebenarnya ketika menonton sebuah berita tentang kecelakaan maut antara pengendara sepeda motor dengan pemilik mobil sport.

Kecurigaannya pun semakin kuat ketika ia mengamati mobil yang disiarkan di televisi. Pria itu memperhatikan dengan saksama dan yakin betul bahwa mobil sport mahal itu adalah milik putranya. Selain itu, di hari yang sama putranya tidak pulang membawa mobil yang selalu dikendarai ke mana pun bocah itu pergi.

Merasa yakin dengan apa yang dilihatnya, ia kemudian memaksa anaknya untuk pergi ke kantor polisi bersama dirinya. Pria itu pun membuat laporan resmi di kantor kepolisian dan mengatakan putranya lah yang bertanggung jawab atas kecelakaan maut yang belum lama ini terjadi di kota tersebut.

Atas laporan itu, sang anak pun diperiksa dan dijatuhi tuduhan mengemudi hingga menyebabkan kecelakaan lalu lintas, serta menerobos lampu lalu lintas di lokasi kejadian.

Apa yang dilakukan sang ayah bisa menjadi contoh, bahwa orangtua memang perlu bertindak tegas. Melatih anak untuk bisa tanggung jawab atas kesalahannya sendiri serta berani menerima konsekwensi atas perbuatannya. Di mana sang ayah menyerahkan anaknya ke kantor polisi, meski hukuman penjara menanti.

Baca juga: Kejam! Ibu ini mengikat dan menyeret anaknya pakai motor sebagai hukuman mencuri

Tips Menghukum Anak dengan Cara yang Tepat dan Mendidik

ayah laporkan anak kandung ke polisi

Ilustrasi cara mendidik anak (Sumber: Shutterstock)

Tak hanya jadi pelindung dan memberikan kasih sayang,  sudah sepatutnya mengajarkan pelajaran hidup untuk buah hatinya. Termasuk memberikan konsekwensi atau hukuman yang tepat akan membuat anak menjadi lebih disiplin dan belajar dari kesalahan yang telah ia perbuat.

Tapi, seperti apa sih hukuman yang tepat itu?

Mengutip sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of New Orleans di Amerika Serikat (AS), ada tiga hukuman yang dinilai lebih efektif untuk mendisiplinkan anak ketimbang hukuman fisik.

Kita tahu, hukuman fisik alih-alih membuat anak jera justru bisa berakibat buruk bagi perkembangan mentalnya. Lalu, seperti apa hukuman yang tepat untuk anak?

1. Berikan mereka waktu untuk mereka merenungi kesalahannya. Setelah itu, ajak anak mengobrol dan tanyakan mengapa ia berbuat kesalahan.

2. Berikan anak tugas rumah tambahan seperti bersih-bersih, menyiram tanaman, mengangkat jemuran, dan lain sebagainya.

3. Batasi kegiatan favoritnya untuk sementara. Misalnya, anak suka menonton film maka jangan izinkan ia untuk melakukannya selama beberapa waktu hingga ia sadar atas kesalahannya.

Paul Frick, seorang pengajar dari University of New Orleans mengatakan bahwa kunci dari hukuman yang tepat adalah konsisten. Ia juga menegaskan bahwa hukuman fisik sama sekali tak membantu memperbaiki keadaan dan justru berpotensi membuat situasi menjadi lebih buruk.

“Kuncinya adalah konsistensi. Memberikan hukuman fisik, bagi Anda mungkin cukup keras sehingga si kecil bisa menghentikan kenakalannya. Tapi, cara itu justru bisa menimbulkan masalah yang lebih besar. Lebih baik fokus pada konsistensi,” kata Paul Frick.

Semoga kisah di atas bisa menjadi inspirasi bagi para orang tua ya. Salut, sang ayah berani melaporkan anak kandungnya sendiri ke kantor polisi.

Kecelakaan apalagi hingga menyebabkan orang lain merugi adalah kesalahan yang cukup fatal. Maka, selama hukum dipandang adil, kita perlu memperjuangkannya agar yang salah bisa mendapat hukuman yang setimpal.

Baca juga:

Ayah ini mengikat anaknya di lantai sebagai hukuman akibat membully, efektifkah?

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner