Dalam Sekejap Mata, Ayah ini Kehilangan Kedua Buah Hatinya di Perang Suriah

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Tak terbayangkan bagaimana perasaan ayah yang kehilangan kedua anak beserta dengan istri tercinta ini. Perang Suriah telah merenggut harapan dan masa depannya.

Abdel Hameed Alyousef (29) memeluk kedua putra kembarnya erat-erat tepat di dadanya. Namun, keduanya bukan sedang tertidur. Anak kembar berusia 9 bulan itu adalah dua anak dari ribuan korban keganasan perang Suriah yang sudah berlangsung selama lebih dari 6 tahun lamanya sejak 2011.

"Sampaikan selamat tinggal pada ayah, duhai anakku... Katakan selamat tinggal padaku..." ucapnya sambil mengusap tubuh anaknya yang sudah tak bernyawa.

Nada suara sang ayah tampak tercekat, air matanya mengaliri pipi yang dekil diterpa ganasnya debu medan peperangan yang tak jelas pihak mana yang akan menang selain duka dan kehilangan.

Anak yang belum bisa bicara dan berjalan itu tampak sudah kaku dan memucat di pelukan ayahnya. AP News melaporkan bahwa si kembar Aya dan Ahmed itu tidak meninggal sendirian, kepergiannya disusul oleh ibu dan kerabat lainnya akibat serangan gas kimia Sarin pada Selasa (4/4/2017) di Khan Sheikhoun yang berlokasi di Suriah Utara.

"Saat kami mendengar deru pesawat udara, aku sedang berada bersama anak, keluarga, serta istriku," isak Alyousef. Ia melanjutkan, "kemudian, tiba-tiba saja, anak dan istriku pingsan. Sepuluh menit kemudian, tercium bau gas. Mereka tampak sakit."

Dengan cepat, ia membawa mereka menemui tenaga medis gawat darurat yang berjaga-jaga di sana. Ia ingin memastikan bahwa keluarga dan kerabatnya yang mengalami hal serupa akan baik-baik saja. Namun, ia harus menerima kenyataan bahwa harapannya lenyap disapu tragedi tepat di depan matanya.

Dalam tragedi tersebut, ia tak hanya kehilangan dua anak kembar dan istri, melainkan juga dua keponakan lelaki dan perempuan, keluarga, kerabat, serta tetangganya.

"Mereka semua telah tiada, aku gagal menyelamatkan mereka semua..." ucapnya terpukul.

Dari seluruh keluarganya, sepupu Alyousef yang bernama Alaa termasuk yang beruntung karena selamat. Ia mengatakan bahwa saat ini saudaranya juga mendapatkan perawatan karena indikasi menghirup zat berbahaya saat serangan terjadi.

"Dia sedang sangat berkabung karena telah kehilangan banyak anggota keluarga," papar Alaa.

Perang adalah peristiwa yang tidak diinginkan siapapun. Korbannya selalu saja orang-orang tak berdosa yang bahkan tak mengerti persoalan politik apa yang sedang terjadi di negaranya.

Saling menyalahkan

Mayoritas media di dunia menyalahkan pemerintahan Assad sebagai biang keladi atas terjadinya serangan kimia tersebut. Namun, tak sedikit pula yang mencurigai bahwa serangan itu dilakukan oleh Al Qaeda yang diwakili kelompok Hay’at Tahrir al-Sham.

Banyak pihak seperti jurnalis senior spesialis isu Timur Tengah Elijah JM yang meyakini bahwa serangan tersebut dilakukan kelompok Hay’at Tahrir al-Sham. Pasalnya, Presiden Assad telah menyetujui perjanjian bahwa pemerintahannya tak akan pernah menggunakan senjata kimia seperti klorin dan Sarin untuk melawan pemberontak Suriah.

Perjanjian tersebut ia lakukan demi menghindari ikut campurnya tentara Amerika di dalam konflik Suriah. Jika Assad melanggar perjanjian tersebut, Presiden Donald Trump memerintahkan tentara Amerika untuk segera melakukan agresi ke pihak pemerintah Suriah seperti yang terjadi pada negara Irak di era Presiden Bush yang lalu.

Karena, jika Amerika ikut campur, negara yang terlibat mensponsori carut marut perang Suriah akan makin banyak setelah Rusia, Arab Saudi, Iran, Lebanon, Kurdi, serta Turki. Jika benar bahwa serangan tersebut adalah inisiasi Assad, maka itu akan merugikan pihaknya sendiri karena artinya ia mengundang pihak Amerika untuk ikut andil dalam persoalan domestik negaranya.

Apalagi, kini Amerika dipimpin oleh seorang presiden yang haus perang. Sebelum peristiwa ini, tentara Amerika sudah bersiap-siap menempatkan pasukannya di dua bandara Suriah, Kobane dan Tabqa.

Sementara itu, Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan keprihatinannya di Twitter atas peristiwa tersebut. Kicauannya banyak menjadi cibiran dunia karena selama ini pihak Israel tak pernah ragu-ragu membombardir warga Palestina sekalipun itu adalah perempuan dan anak-anak.

Kicauan tersebut artinya:

Ketika aku melihat foto bayi-bayi yang menderita karena serangan kimia di Suriah, aku sangat terguncang dan marah.

Hingga kini, perdebatan tentang siapa yang menjadi pelaku serangan kimia belum diketahui. Spekulasi media masih mengarah secara liar antara pemerintahan Assad atau justru pihak pemberontak.

BBC mencatat, perang Suriah selama 6 tahun tersebut awalnya terjadi karena adanya protes para pemberontak atas pemerintahan Assad. Kemudian, warga yang pro pemerintah menjawab protes tersebut dengan menggelar demonstrasi tandingan.

Pihak anti pemerintah awalnya mempersenjatai diri untuk mengusir pihak keamanan pemerintah di wilayahnya masing-masing untuk melindungi diri. Namun, seiring dengan berkembangnya faksi pemberontak yang merupakan sayap ISIS dan Al Qaeda, upaya tersebut kini jadi perang sipil antar kelompok serta pemerintah.

TheAsianparent turut berduka kepada siapapun yang kehilangan keluarganya di Suriah. Duka mereka, duka kita juga. Mari kirimkan doa kepada mereka yang telah wafat dan mereka yang sedang berjuang hidup di sana. Semoga perang Suriah dan negara lainnya bisa segera berakhir.

 

Baca juga:

Foto dan Video Anak Korban Perang Suriah ini Menuai Tangis Dunia

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Berita