Alami Gangguan Mental, Seorang Anak Aniaya Ayahnya hingga Tewas

Alami Gangguan Mental, Seorang Anak Aniaya Ayahnya hingga Tewas

Peristiwa pembunuhan yang dilakukan anggota keluarga sendiri kembali terjadi. Kali ini, seorang anak tega menghabisi ayahnya sendiri.

Peristiwa pembunuhan dalam keluarga kembali terjadi dan menghebohkan warga. Kejadian kali ini berlokasi di sebuah desa di Tulungagung, di mana seorang ayah dianiaya anak hingga tewas.

Melansir dari laman Kompas, polisi mengamankan seorang pria berinisial IB berusia 30 tahun yang merupakan warga Desa Banjarejo, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. IB diduga menganiaya ayahnya sendiri berinisial TM (80 tahun) hingga tewas.

Peristiwa naas ini terjadi pada Kamis (23/7). Dari informasi yang dihimpun, penganiayaan yang berujung pada hilangnya nyawa korban itu dikarenakan pelaku mengalami gangguan mental.

Kronologi Kejadian Ayah Dianiaya Anak hingga Tewas

ayah dianiaya anak hingga tewas

Sumber foto: Kompas.

Kasus pembunuhan anak kepada ayahnya ini terungkap setelah seorang warga bernama Ilham melihat korban sudah tergeletak di halaman rumah dalam kondisi sekujur tubuh penuh luka. Pada saat itu, pelaku terlihat memangku korban sambil menangis.

Mengetahui hal itu, warga tak langsung berani mendekat. Mereka takut dan khawatir pelaku kembali mengamuk.

“Saya melihat korban dipangku oleh anaknya sambil menangis,” ungkap Ilham.

“Mau mendekat kami takut,” lanjut Ilham memberi keterangan.

Untuk menghindari hal-hal tak diinginkan, warga langsung melaporkan kejadian kepada polisi.

Pelaku Alami Gangguan Jiwa

Alami Gangguan Mental, Seorang Anak Aniaya Ayahnya hingga Tewas

Menurut Zainudin Kepala Desa Banjarejo, kasus pembunuhan itu diduga dilakukan pelaku pada Kamis dini hari. Berdasarkan penuturan tetangga, sebelumnya sempat terdengar keributan antara pelaku dan korban.

Warga sekitar awalnya menyangka keributan itu hanya masalah biasa. Mereka tidak menduga sama sekali bahwa dalam peristiwa itu akan jatuh korban jiwa.

Di sisi lain, diketahui jika pelaku memang memiliki gangguan kejiwaan. Bahkan sudah 10 tahun terakhir penyakit tersebut dideritanya. Pihak desa setempat pun sudah merujuknya ke rumah sakit.

“Dari pihak desa sudah empat kali membawa ke rumah sakit jiwa Lawang,” kata Zainudin di lokasi kejadian.

Akan tetapi setelah itu, pelaku tetap dibawa pulang ke rumah untuk dirawat. Dilandasi rasa sayang kepada pelaku, orangtuanya memilih merawatnya sendiri.

“Sebenarnya orangtuanya itu sayang sekali sama anaknya. Sama tetangga juga tidak pernah ada masalah,” ujar Zainudin, seperti dikutip dari situs Kompas.

Artikel Terkait: Seorang perawat diduga membunuh 8 bayi di rumah sakit, apa alasannya?

Dugaan Sementara atas Peristiwa Ayah Dianiaya Anak hingga Tewas

Setelah mendapat laporan dari warga, Kapolsek Rejotangan Iptu Heri Purwanto langsung menerjunkan tim ke lokasi kejadian. Setelah dibujuk, pelaku akhirnya mau melepaskan jenazah ayahnya yang sebelumnya sempat dipangkunya.

Pelaku selanjutnya diamankan polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Menurut Heri, jika melihat kondisi korban, diduga kuat pelaku menganiayanya dengan menggunakan tangan kosong.

“Dugaan sementara, pelaku menganiaya korban hingga meninggal dunia dengan tangan kosong,” jelas Heri saat dikonfirmasi.

Hukuman bagi Pelaku dengan Gangguan Jiwa

Alami Gangguan Mental, Seorang Anak Aniaya Ayahnya hingga Tewas

Pelaku pembunuhan dengan riwayat gangguan jiwa tidak dapat dijatuhi pidana dan dilepas dari tuntutan hukum. Hal ini berdasarkan hukum dan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Akan tetapi, peristiwa tersebut sangat patut disayangkan. Orang yang memiliki gangguan mental yang berat seharusnya mendapat penanganan medis, agar peristiwa serupa tak terulang di kemudian hari.

Menangani Gangguan Mental

Gangguan jiwa atau gangguan mental adalah sebuah penyakit yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya. Sederhananya, gangguan jiwa adalah penyakit pada mental yang meliputi pikiran dan perasaan.

Seperti halnya penyakit fisik yang perlu diobati, penyakit mental pun demikian. Penyakit ini bisa ditangani dengan psikoterapi, pemberian obat-obatan, maupun kombinasi dari keduanya. Dokter akan mengobservasi keadaan pasien sebelum memberikan terapi yang sesuai.

Artikel Terkait: 5 gejala gangguan mental pada anak-anak, Bunda wajib tahu!

Stop Stigma!

Salah satu faktor yang menghalangi penderita gangguan mental mendapatkan penanganan yang tepat adalah stigma negatif yang melekat pada dirinya. Penyakit mental kerap dianggap aib yang memalukan.

Padahal dalam situasi mental yang terganggu, penderita seharusnya diberi dukungan agar mereka dapat pulih. Alih-alih menjauhi penderita dan keluarganya, berilah perhatian dan dukungan kepadanya.

Alami Gangguan Mental, Seorang Anak Aniaya Ayahnya hingga Tewas

Sementara itu, keluarga dan orang terdekat pun memiliki peran penting dalam proses pemulihan penyintas gangguan mental. Jika orang terdekat memiliki penyakit mental, Parents harus meluangkan waktu untuk dapat memahami perasaan dan pikiran mereka.

Sering kali, hal mendasar yang paling dibutuhkan oleh orang yang mengalami gangguan mental adalah keinginan untuk didengarkan. Ketika mereka merasa dihargai dan didengar, pikiran dan perasaannya akan lebih mudah membaik.

Namun apabila penderita menunjukkan gelagat gejala adanya gangguan yang lebih serius, jangan ragu untuk menghubungi pusat kesehatan terdekat.

Nah, itulah kronologi dan fakta di balik peristiwa ayah dianiaya anak hingga tewas yang terjadi belum lama ini. Semoga peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi kita semua, ya, Parents!

Baca Juga :

Anak rentan alami gangguan kesehatan mental, orangtua jadi salah satu pemicunya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner