Anak laki-laki ini mengucapkan 3 kata terakhir pada ibunya sebelum menyerah pada kanker

lead image

Siapkan tisu sebelum membaca kisah mengharukan ini...

Kanker pada anak sangatlah jahat, kejam, dan tak kenal ampun. Penyakit ini tanpa segan-segan mengambil nyawa malaikat kecil yang berharga, termasuk anak yang meninggal karena kanker ini.

Setiap kisah pertarungan anak melawan kanker, entah menang atau kalah, selalu menyisakan cerita untuk dibagikan. Inilah salah satu cerita yang memilukan hati tentang kata-kata perpisahan dari anak yang meninggal karena kanker kepada ibunya.

Awal mula Nolan mengalami kanker

Semua ini bermula dari sesuatu yang tampaknya tidak berbahaya. Namun, keadaan jadi memburuk. Seiring berjalannya waktu, kondisi Nolan – yang pada saat itu berusia tiga tahun – menjadi semakin memprihatinkan.

Awalnya hanyalah hidung tersumbat, kemudian meningkat jadi kesulitan bernapas. Pengobatan tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.

Dua bulan kemudian, dokter mengungkapkan diagnosis yang memilukan itu. Sebuah tumor menyebabkan penyumbatan di saluran pernapasannya.

Nolan menderita rhabdomyosarcoma, bentuk kanker langka dan agresif yang resisten terhadap segala macam pengobatan.

Ibunya yang patah hati, Ruth, memutuskan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya penyakit ini dan memperingatkan para orangtua. Tidak seperti foto-foto yang biasanya menggambarkan penderitaan anak yang mengalami kanker, Ruth berbagi foto-foto yang dengan kuat menangkap trauma dan menguras emosi yang dirasakan oleh anak penderita kanker.

Ruth membagikan sebuah foto saat Nolan tidur di luar lantai kamar mandi sebab anaknya tak mau pergi jauh-jauh darinya bahkan ketika ia mandi. Bayangkan betapa mengerikannya bagi anak sekecil Nolan karena ia berpikir ia tak akan pernah tahu kapan bisa melihat ibunya lagi.

anak yang meninggal karena kanker tidur di lantai depan kamar mandi Anak laki laki ini mengucapkan 3 kata terakhir pada ibunya sebelum menyerah pada kanker

Nolan memilih tiduran di lantai sembari menunggu ibunya selesai mandi. Ia selalu ketakutan tak akan pernah bisa bertemu ibunya lagi.

Coba bayangkan, di saat anak-anak usia tiga tahun lainnya belum memahami konsep kematian, Nolan yang malang ini harus menghadapi kenyataan bahwa kematian terus membayanginya.

Kanker Nolan semakin memburuk

Waktu tak berpihak pada Nolan. Pengobatan justru membuat dirinya lemah dan sel kanker menyebar ke seluruh tubuhnya.

Peluangnya untuk bertahan hidup menurun dari 40% menjadi 20%. Ibunya tahu bahwa Nolan berjuang dalam pertandingan yang dapat dipastikan hasilnya: kekalahan.

Ruth hanya bisa terus mendokumentasikan putaran terakhir dari pertarungan Nolan yang gagah berani. Saat Nolan pergi ke rumah sakit yang terakhir kalinya, kondisinya telah memburuk sampai-sampai ia tidak dapat makan.

Nolan terus muntah jika ia dipaksa makan.

Hari-hari terakhir anak yang meninggal karena kanker

anak yang meninggal karena kanker berjuang hingga akhir Anak laki laki ini mengucapkan 3 kata terakhir pada ibunya sebelum menyerah pada kanker

Nolan kecil bertarung melawan kanker hingga akhir.

Saat waktu Nolan hampir habis, Ruth pun bercakap-cakap dengannya. Ruth menanyakan tentang rasa sakit luar biasa yang dialami anaknya.

Ia mengatakan bahwa Nolan tak perlu lagi berjuang dalam pertarungan melawan kanker jika ia sudah tidak sanggup. Nolan membalas, “Tidak perlu berjuang lagi? Tapi aku ingin melakukannya untukmu, Bun!”

Kebaikan hati Nolan sulit digambarkan dengan kata-kata. Dalam usia yang sangat muda, ia memiliki kasih sayang seluas samudera.

Artikel terkait: Ayah ini ajak anak yang sakit keras untuk main di calon liang kuburnya

Kemudian, ibunya mengatakan kepadanya bahwa ia tak bisa lagi menjaga Nolan agar tetap aman. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan ibunya adalah dengan membiarkan Nolan pergi ke surga karena di sanalah tempat aman untuknya.

Tentu saja hati Ruth hancur dengan setiap kata yang ia sendiri ucapkan. Nolan kecil dengan ikhlas menerima kenyataan sulit tersebut sambil meyakinkan ibunya bahwa ia akan pergi ke surga dan bermain di sana hingga ibunya datang.

Untuk beberapa hari berikutnya, Nolan banyak tidur. Ketika mereka bersiap pulang ke rumah untuk menghabiskan malam terakhir bersama, Nolan meraih tangan ibunya dan meminta untuk tetap tinggal di rumah sakit saja.

Ia baru berumur empat tahun dan benar-benar bertindak seperti seorang pahlawan. Ia berusaha untuk membuat segalanya mudah bagi ibunya.

Perpisahan yang manis namun memilukan

Malam itu sekitar pukul sembilan, mereka sedang menonton YouTube. Kemudian, Ruth bertanya apakah boleh ia mandi sebentar (ingat bagaimana posesifnya Nolan pada ibunya sampai-sampai tak boleh meninggalkan sisinya barang sedetik pun?).

Nolan setuju asalkan pamannya duduk menemaninya. Ruth berdiri di pintu kamar mandi dan menyuruh Nolan untuk terus memandang ke arah pintu kamar mandi sementara sang ibu mandi dalam.

Setelah itu, Ruth berlari dan melompat ke arah tempat tidur Nolan dengan tangan sang ibu memegang sisi kanan wajah anaknya. Saat itu pukul 23:54 dan Ruth menyanyikan lagu You Are My Sunshine di telinga Nolan.

Nolan mengumpulkan seluruh kekuatannya, terbangun untuk terakhir kalinya, dan berkata,

“Aku mencintaimu, Bunda.”

Ia telah bertarung dengan sangat baik dan akhirnya Sersan Rollin Nolan Scully meninggal dunia.

Kisah anak yang meninggal karena kanker ini membuat kami menangis. Kita hanya bisa mendoakan sang malaikat kecil yang kini sudah berada di surga, bermain dengan para malaikat lainnya sembari menunggu sampai ia dapat berjumpa lagi dengan ibunya.

 

Referensi: Newsner, theAsianparent Singapura

Baca juga:

Perjuangan Ibu Tunggal dengan Anak Penderita Kanker