"Jangan menangis ibu..." Anak pengidap kanker mencoba menghibur ibunya

lead image

Momen sedih ketika balita penderita kanker menenangkan ibunya yang menangis. Orangtua Junyang sedih karena tak punya biaya untuk pengobatan anaknya.

Orangtua mana yang tak hancur hatinya saat tahu anaknya yang masih balita divonis sebagai penderita kanker. Belum lagi biaya pengobatan yang tak sedikit, membuat banyak orangtua sedih karena tak bisa memenuhinya. 

Kisah sedih tentang anak penderita kanker berikut ini begitu menyentuh, melihat ibunya yang menangis karena sih tak memiliki dana untuk membiayai pengobatan anaknya, sang anak berusaha menghibur ibu dengan segala cara.

Artikel terkait: Kenali Gejala Kanker Pada Anak

Anak penderita kanker masih berusia 3 tahun

cancer baby2 "Jangan menangis ibu..." Anak pengidap kanker mencoba menghibur ibunya

Anak penderita kanker menghibur ibunya yang sedang sedih.

Li Junyang baru berusia tiga tahun, si kecil asal Tiongkok Timur ini menderita neuroblastoma, sebuah jenis kanker langka yang biasanya berawal dari perut. Dia didiagnosis menderita penyakit tersebut pada Oktober 2017.

Di usianya yang masih balita, Li Junyang sudah menjalani tujuh kali sesi kemoterapi, dua operasi bedah di bagian dada, dan tujuh  kali sesi radioterapi. Untuk semua perawatan itu, orangtua Lin Junyang menghabiskan seluruh tabungan mereka, dan terjerat hutang sekitar 39 ribu dolar atau setara 423 juta rupiah.

Dokter mengatakan, perawatan lanjutan dibutuhkan agara Li Junyang bisa bertahan hidup. Dan dana yang dibutuhkan sekitar 90 ribu dolar, atau tiga kali lipat dari jumlah hutang yang sekarang mereka miliki. Orangtua Li Junyang yang hanya berprofesi sebagai petani tidak mampu mendapatkan dana sebesar itu.

“Ibu jangan menangis…” Video mengharukan saat anak penderita kanker menenangkan ibunya

Mau tak mau, perawatan Junyang harus dihentikan karena tidak ada lagi orang yang bisa meminjamkan uang pada mereka. Sedih, terpukul dan marah bercampur aduk. Bahkan ayah dan ibu Junyang jadi sering bertengkar karena frustasi tak mampu lagi membiayai pengobatan anak mereka. 

Apalagi keduanya sudah berhenti bekerja sejak Junyang jatuh sakit demi merawat anak mereka.

Tak kuasa menahan tangis, sang ibu akhirnya terisak sambil memeluk Junyang. Si kecil Junyang ikut menangis dan berusaha menghibur ibunya. 

Momen sedih tersebut terekam dalam video berikut ini.

 

Kesedihan keluarga Junyang akhirnya didengar, mereka mendapatkan bantuan dari lembaga Dahe Charity. Sebuah yayasan penyalur dana sumbangan untuk mereka yang membutuhkan. Junyang kemudian dibawa ke  Xinhua Hospital di Shanghai untuk menjalani pengobatan.

Pemilik Dahe Charity mengatakan, memang sudah umum terjadi ketika anak menderita sakit parah, kedua orangtuanya akan berhenti bekerja. Sebab itulah, Dahe Charity membuat kampanye untuk mengumpulkan dana guna pengobatan Junyang. Dan Junyang akhirnya bisa kembali menjalani perawatan yang ia sangat butuhkan. 

Perjuangan Junyang belum berakhir, tubuh kecilnya masih harus bertahan melawan penyakit ganas dan efek samping dari kemoterapi yang dijalani. 

Semoga si kecil Junyang segera sembuh dan bisa membuat orangtuanya tersenyum kembali!

 

Disadur dari artikel Nalika Unantenne di theAsianparent Singapura

Baca juga: 

Perjuangan Ibu Tunggal dengan Anak Penderita Kanker