Anak Minder Berlebihan, Apa Penyebabnya?

Dalam dunia psikologi, minder atau rasa rendah diri disebut dengan istilah "inferior kompleks". Bagaimana bila anak Anda mengalaminya, bacalah ulasan ini.

Gangguan inferior membuat anak tidak semangat beraktivitas.

Gangguan inferior membuat anak tidak semangat beraktivitas.

Kompleks inferior, atau minder berlebihan, mengapa terjadi?

Kalau istilah ini terlalu ‘berat’ untuk Anda pahami, bagaimana dengan kata ‘minder’? Pasti Anda sudah pernah mendengarnya ‘kan?

Ya, Parents. Kompleks inferior adalah nama lain dari rasa minder, rendah diri, atau rasa malu, grogi, gugup untuk tampil di hadapan orang banyak.

Anak (dan orang dewasa) yang mengalaminya merasa dirinya tidak atau kurang sempurna dibandingkan orang lain. Maka tidak heran jika mereka yang mengalami gangguan kompleks inferior juga memiliki masalah dengan rasa percaya diri.

Siapa saja yang bisa mengalami rasa minder yang berlebih ini?

Tiada asap tanpa api. Anda boleh berlega hati karena gangguan kompleks inferior pada anak tidak muncul sekonyong-konyong.

Gangguan ini berpotensi muncul pada anak yang mengalami goncangan hebat dalam kehidupannya dan bisa menetap seumur hidup jika tak ditangani.

Berikut adalah beberapa peristiwa yang bisa memicu timbulnya kompleks inferior pada anak.

 

1. Pemerkosaan atau pelecehan seksual

Anak atau remaja yang pernah mengalami kekerasan atau pelecehan seksual merupakan golongan yang paling berpeluang mengalami rasa minder berlebihan. Para korban kekerasan seksual menganggap dirinya kotor, rendah dan hina karena sudah tidak ‘suci’ akibat area pribadi sudah disentuh secara paksa.

Mereka yang telah menganggap dirinya tidak berharga otomatis akan beranggapan menjaga dirinya sendiri dari perbuatan tercela seperti perilaku seks bebas atau penyalahgunaan narkotika adalah sesuatu yang sia-sia.

2. Bullying

Tayangan media yang kurang bermutu tentang kecantikan atau ketampanan membuat masyarakat  mudah mengolok-olok seseorang yang tidak sempurna secara fisik.

Seorang anak yang terlalu gendut atau kurus, misalnya, akan menjadi bulan-bulanan di sekolah dan  merasa minder dengan keadaan dirinya.

3. Perceraian atau kematian orangtua

Kehilangan sosok yang dicintai akibat perceraian atau kematian juga bisa membuat anak minder.

Mereka merasa dirinya berbeda karena hanya mempunyai seorang ayah/ ibu dan merasa tidak sanggup menjalani kehidupan karena tidak didampingi oleh ayah/ ibu mereka.

4. Kondisi ekonomi

Anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan penghasilan pas-pasan juga berpeluang mengalami rasa minder atau kompleks inferior.

Apalagi jika mereka banyak menghabiskan waktunya untuk menonton acara televisi yang banyak mengekspos kehidupan glamor anak-anak selebritis.

5. Kurang bersosialisasi

Anak dengan kehidupan ‘baik-baik saja’ dan keluarga berkecukupan pun juga berpeluang mengalami kompleks inferior atau minder berlebihan jika mereka tak pernah bersosialisasi dengan kawan-kawan seusianya.

Karena tidak pernah bergaul, seorang anak tidak memiliki referensi tentang berbagai  karakter teman dan selalu merasa khawatir dirinya tidak cukup ‘cool‘ di mata teman-temannya.

Selesaikan sebelum terlambat

Cinta, cinta dan cinta, hanya dengan itulah kita bisa membongkar kompleks inferior pada anak-anak kita.

Karena cinta Anda tidak malu membesarkan seorang anak yang pernah menjadi korban kejahatan seksual. Dan karena cinta pula Anda tak kehilangan semangat untuk memberikan dukungan dan dorongan agar anak lebih sering bergaul serta tampil di depan umum.

Adalah suatu hal yang luar biasa jika Anda ‘memerintahkan’ anak untuk terlibat banyak kegiatan di lingkungan RT, mengikuti aneka lomba yang sesuai dengan minatnya atau menemani Anda menghadiri acara-acara keluarga.

Jangan biarkan anak nge-game terlalu lama, Bunda. Daripada menghadiahkan perangkat game konsol di hari ulang tahunnya, minta ia mengadakan pesta ulang tahun dan berbagi keceriaan dengan mengundang semua temannya ke rumah.

Sering dikucilkan teman membuat remaja mengalami gangguan inferior.

Sering dikucilkan teman membuat remaja mengalami gangguan inferior.

Rasa minder bisa ditaklukkan

Desi (nama samaran), seorang pengguna narkoba yang telah bertobat, berbagi kisah hidupnya pada theAsianParent.com (baca juga: Jauhkan Anak dan Remaja Dari Bahaya Narkoba Dengan Cinta).

“Saya selalu merasa diri saya tidak penting dan tidak berharga, sampai seorang kakak kelas secara tiba-tiba mengajak saya bergabung bersama band-nya. Ada rasa bebas yang tiba-tiba muncul ketika saya tampil bersama mereka, bernyanyi bareng penonton (yang sebagian besar adalah teman-teman saya sendiri).

Ketika tampil di panggung, semua kekhawatiran, ketakutan, dan rasa benci pada diri saya sendiri mendadak hilang. Dan saya merasa bahagia.”

Parents, kita tidak bisa membebaskan anak dari kompleks inferior atau minder seperti kita memberi obat untuk menyembuhkan sakit batuk anak kita. Hanya diri si anak sendirilah yang bisa mengalahkan gangguan psikologis ini.

Sama seperti yang dilakukan bandmates Desi, yang bisa kita lakukan adalah memberinya senjata/ pegangan untuk mengenyahkan rasa minder untuk selamanya.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

Baca juga:

Menumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak

Psikologi Anak: Ketika Anak Merasa Dirinya Berbeda