Penyakit Mematikan yang Tak Terduga; “Flu Merenggut Nyawa Anakku”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Influenza biasanya akan hilang dalam waktu 1-2 minggu, namun bukannya sembuh, Shannon malah meninggal karena flu yang dideritanya.

"Tak terhitung berapa kali saya menangis hari ini. Mungkin kau berpikir bahwa saat ini, saya tidak akan menangis lagi. Namun saya tidak bisa melepaskan rasa bersalah." Gwen, ibu dari Shannon yang meninggal karena flu tahun 2014 lalu berujar sedih.

"Shannon hanya mengeluh tenggorokannya sakit, demamnya juga tidak mengkhawatirkan." Gwen mengenang, sembari menahan pedih di hati atas kehilangan putri yang dicintainya. "Jika saja saya bisa berbicara dengannya sekali lagi, mengatakan betapa menyesalnya saya. Apakah dia tahu? Apakah dia bisa melihat dari surga?"

Influenza biasanya adalah penyakit ringan, yang akan sembuh dengan sendirinya meski dibiarkan tanpa diobati. Berbagai merek obat flu bisa mudah didapatkan di warung dekat rumah, tapi pernahkah Anda mendengar kasus orang meninggal karena flu?

Gwen Zwanzigger yang berasal dari Minnesota, membagikan kisah pilunya kehilangan sang putri pada CNN.

 

Saat itu, Shannon baru berusia 17 tahun, sebelum terkena influenza dia merupakan remaja yang aktif dan sehat. Dia jarang sekali sakit, namun suatu hari ia pulang sekolah mengeluh sakit, seminggu kemudian dia meninggal di pelukan ibunya.

Shannon berangkat sekolah pada hari Rabu, dia pulang ke rumah seperti biasa. Namun dia mengatakan bahwa seorang teman menularkan flu padanya. Saya menyuruhnya ke kamar dan mulai melakukan perawatan.

Saya membawakan minuman, saus apel dan sup. Shannon mengeluh tenggorokannya sakit, jadi ayah Shannon memberinya semprotan untuk tenggorokan, Tylenol, dan juga hadiah kecil. 

Kemudian Shannon mengalami demam, namun tidak terlalu tinggi sehingga kami tidak membawanya ke UGD.

Beberapa hari kemudian, saya pikir dia sudah merasa lebih baik. Saya malah menganggap dia mengambil keuntungan dari bolos sekolah.

Saya pergi ke kamarnya, dan melihat matanya tertutup. Saya tidak tahu apakah dia pura-pura sakit atau tidak. Saya mengambil ponselnya dan meletakkannya di bawah tumpukan baju bersih di laci. 
Ketika saya kembali mengunjungi kamarnya, saya lihat dia sudah memegang ponsel lagi. Jadi saya tahu dia baik-baik saja. Saat hari minggu tiba, dia terlihat sangat lemah.
Dia bermain ponsel dan menonton televisi, tapi dia tidak makan dengan baik dan terlihat gelisah. Jadi saya mengirim Shannon ke UGD bersama ayahnya. Dengan laporan perawatan di rumah yang telah kami berikan padanya.
Saya tidak ikut bersama mereka karena saya ingin membersihkan kamar Shannon. Terry suami saya mengirimkan foto Shannon sedang duduk di kursi roda mengenakan masker, dia meletakkan kepalanya di bahu Terry.
Itu adalah foto terakhir dia yang kami miliki.
Meninggal karena flu

Foto terakhir Shannon yang diambil ayahnya saat menunggu antrian di UGD

Meninggal karena flu setelah pulang dari rumah sakit

Saat pulang ke rumah, Shannon mengatakan bahwa kunjungan ke dokter itu hanya membuang waktu. Dokter mengatakan untuk membiarkan flu yang diderita Shannon sembuh dengan sendirinya.

30 jam kemudian, Shannon turun ke lantai bawah. Dia pergi ke kamar mandi. Saya membantunya masuk ke dalam bak mandi. Saat itulah saya mulai merasa takut. Saya sudah tidak pernah membantunya mandi sejak dia masih kecil.

Sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. 

Ketika dia bersandar di bak mandi, saya melihat matanya. Detik itu saya tahu bahwa dia sedang sekarat. Saya mengangkat tubuhnya, lalu duduk di toilet dengan Shannon berada di pangkuan saya. 

Dia meninggal dalam pelukan saya, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyelamatkannya. Flu itu telah merusak organ dalam tubuhnya. Dia bahkan tidak tahu hal itu.

Secara teknis, saat itu Shannon masih hidup, namun ia tidak pernah siuman. Gwen mencoba memberi napas buatan, berteriak memanggil suaminya yang kemudian menghubungi rumah sakit.

Shannon dibawa ke rumah sakit, dokter menemukan bahwa detak jantungnya sangat lemah, sehingga ia dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Beberapa jam kemudian, detak jantung Shannon berhenti sama sekali.

"Dia adalah anak yang luar biasa. Dia telah merancang hidupnya sendiri, mau apa kedepannya, dia adalah anak yang sempurna." Gwen mengenang putrinya dengan sedih.

Shannon meninggal pada 9 Desember 2014, dan baru sekarang Gwen berani menceritakan kisah meninggalnya Shannon. Baik Gwen maupun Terry tidak pernah menyangka bahwa putri mereka tercinta meninggal karena flu, liver Shannon rusak karena flu tipe A yang ia derita.

Dulu, Shannon menolak untuk diberi suntikan vaksin flu. Hal inilah yang paling disesali oleh Gwen, seandainya dulu ia memaksa Shannon untu menerima vaksin, mungkin Shannon memiliki kekuatan lebih untuk melawan flu yang menyerangnya.

Artikel terkait: Vaksin Flu; Apakah Efek Sampingnya Berbahaya untuk Anak?

Namun, para ahli tidak dapat memastikan apakah jika dulu Shannon menerima vaksin, dia akan selamat dari serangan flu ini. Gwen sendiri tidak menerima vaksin karena ia mengalami reaksi negatif saat menerima vaksin swine flu pada tahun 1970.

meninggal karena flu

Kini Gwen dan Terry hanya bisa mengenang Shannon dan keceriaannya semasa hidup.

Epidemik flu

Menurut laporan CNN, Pusat Pengendali dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat merilis data statistik para korban penyakit flu seperti Shannon. Penyakit flu tersebut sudah mencapai tahap epidemik.

Tahun 2016 lalu, dilaporkan ada 15 anak yang meninggal karena penyakit flu yang sama. Termasuk seorang balita berumur 4 tahun di Texas. Tapi CDC tidak bisa memastikan apakah mereka yang meninggal karena flu itu pernah menerima vaksin atau tidak.

Akan tetapi, dengan menerima vaksin, mengurangi risiko terkena flu musiman dan menularkannya ke orang lain. Dan vaksin juga membuat penyakit menjadi tidak terlalu parah jika Anda terjangkit.

Dr. Seema Yasmin, seorang analis medis dari CNN mengatakan, "Vaksin masih efektif sebesar 61%. Kebanyakan vaksin flu melindungi tubuh dari tiga atau empat macam flu. Jadi, meskipun vaksin ini tidak melindungi sepenuhnya dari satu jenis flu, dia masih bisa melindungi dari flu jenis lain yang sedang berkembang sekarang."

Data dari CDC menyatakan, ada 37 kematian karena flu pada tahun 2010-2011. Pada musim berikutnya, tahun 2012-2013, terdapat 171 kasus meninggal karena flu. Pada 2013-2014, mereka memperkirakan ada 109 kasus kematian karena flu. Penyakit flu ini aktif menyerang di Amerika pada bulan Desember-Februari.

Rutin memberi suntikan vaksin pada seluruh anggota keluarga bisa mencegah terjadinya penyakit parah, dan kitapun terhindar dari duka mendalam yang dirasakan oleh Gwen karena kehilangan Shannon.

Tetap waspada untuk menjaga kesehatan seluruh keluarga ya, Parents.

 

Baca juga:

Fakta Penting Seputar Virus Flu Babi (Swine Flu) yang Parents Wajib Tahu

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kesehatan Kisah Mengharukan