Nekat! Remaja 14 Tahun Lompat dari Gedung Sekolah Usai Ditampar Ibu

Nekat! Remaja 14 Tahun Lompat dari Gedung Sekolah Usai Ditampar Ibu

Ini menjadi bukti bahwa hukuman fisik apalagi sampai mempermalukan anak di depan umum bukan tindakan yang bijaksana.

Menghukum anak dengan kekerasan fisik kerap menjadi kontroversi. Pasalnya, hukuman fisik memiliki dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Hal ini bukan isapan jempol semata, buktinya seorang anak lompat dari sekolah usai ditampar oleh ibunya.

Kejadian ini membuat pihak sekolah dan keluarga merasa terpukul karena kondisi bocah tersebut sempat kritis akibat loncat dari lantai lima gedung sekolah. Seperti apa kondisinya sekarang? Apa yang menyebabkan ia ditampar hingga akhirnya lompat? Simak laporan lengkapnya berikut ini.

Ketahuan Main Poker, Anak Lompat dari Sekolah Setelah Ditampar Ibu

anak lompat dari sekolah

Ilustrasi hukuman fisik pada anak

Seorang remaja berusia 14 tahun di Wuhan, Cina nekat melompat dari lantai lima gedung sekolah setelah ditampar oleh ibunya di depan teman-temannya. Insiden itu bermula saat ia ketahuan bermain poker dengan teman-temannya di koridor kelas.

Pihak sekolah kemudian melaporkan para siswa tersebut kepada orang tua masing-masing dan meminta para orang tua dan wali untuk segera datang ke sekolah. Sambil menunggu para orang tua murid datang, mereka yang ketahuan main poker dihukum berdiri di depan koridor kelas.

Tak lama kemudian, ibu dari bocah tersebut datang dan marah besar melihat kesalahan putranya. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menampar pipi anaknya tak peduli meskipun ada banyak teman-teman anaknya yang menyaksikan.

Pihak sekolah sempat mengamankan sang ibu usai menampar putranya. Bocah tersebut juga tampak tenang selama sekitar 3 menit sebelum akhirnya memilih untuk melompat dari lantai lima gedung sekolah. Peristiwa tersebut terjadi secara cepat dan tiba-tiba hingga tak ada yang mampu mencegah bocah itu melompat.

Baca juga: Ini bahayanya jika Anda punya kebiasaan memukul anak. Hentikan sekarang juga!

Nyawa Tak Bisa Tertolong

anak lompat dari sekolah

Ilustrasi dampak hukuman fisik 

Mengutip World of Buzz via Pikiran Rakyat, bocah tersebut sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan pertama. Namun, akibat benturan yang amat keras, nyawanya tak lagi bisa diselamatkan. Ia meninggal dunia di rumah sakit sekitar pukul sembilan malam waktu setempat.

Kejadian ini pun meninggalkan luka mendalam bagi ibu korban, keluarga, dan pihak sekolah. Pasalnya, semua terjadi begitu cepat hingga tak ada yang mampu mencegah siswa SMP tersebut loncat dari ketinggian. Sayangnya, nasi telah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain mendoakan bocah tersebut.

Kabar ini sempat menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. Sebagian warganet menyalahkan remaja tersebut karena bersikap terlalu rapuh. Namun, tak sedikit pula yang mengecam tindakan ibunya.

Mereka meminta para orang tua untuk lebih memerhatikan kesehatan mental anak-anak. Mempermalukan anak di depan umum tentu bukan keputusan yang bijaksana dan dapat berakibat fatal.

Baca juga: Penelitian: Memukul Anak Sebagai Hukuman, Berdampak Buruk Pada Perkembangan Mental dan IQ Mereka

Dampak Buruk Hukuman Fisik Bagi Anak-anak dan Remaja

anak lompat dari sekolah

Kejadian di atas adalah bukti nyata bahwa hukuman fisik pada anak-anak dan remaja sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Justru hal tersebut bisa memicu masalah yang lebih besar di kemudian hari. Dikutip dari berbagai sumber, berikut bahaya hukuman fisik bagi anak-anak:

1. Memengaruhi kerja otak

Penelitian yang dipublikasikan di Annals of Global Health pada tahun 2018 menemukan adanya hubungan antara memukul dan memarahi anak dengan keterlambatan perkembangan otak. Ini membuktikan bahwa kekerasan fisik memengaruhi kinerja otak terutama pada anak-anak.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan fisik kemampuan bahasanya 5 kali lipat lebih lambat daripada mereka yang tidak. Tentu ini sebuah pukulan telak bahwa hukuman fisik sama sekali tidak direkomendasikan sebagai cara untuk mendisiplinkan anak-anak.

2. Berdampak buruk pada kesehatan mental

Sebuah penelitian tahun 2012 yang melibatkan 34.600 orang dewasa di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa 2-7% gangguan kesehatan mental seperti, depresi, kecemasan, dan paranoia memiliki hubungan erat dengan hukuman fisik. Sebanyak 6% peserta melaporkan bahwa mereka memiliki riwayat kekerasan fisik seperti didorong, ditampar, atau dipukul oleh orang tua mereka.

Ini menjadi bukti bahwa hukuman fisik pada anak mengganggu kesehatan mental mereka bahkan jauh setelah mereka dewasa. Akibatnya, sebanyak 59% peserta akhirnya mengalami ketergantungan pada alkohol, 41% mengalami depresi, dan 24% mengalami serangan panik.

3. Memicu KDRT dalam hubungan

Dalam sebuah penelitian tahun 2017, peneliti mewawancarai 758 orang dewasa muda. Hasilnya, mereka menemukan 29% responden yang menerima hukuman fisik saat masih anak-anak, terlibat dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan ketika dewasa. Selain itu, anak-anak yang dipukul dan mendapat hukuman fisik lainnya juga berubah menjadi 3 kali lipat lebih agresif dari mereka yang tidak.

Nah, Parents, semoga kisah di atas bisa menjadi peringatan bagi kita semua bahwa hukuman fisik pada anak-anak bukan keputusan yang bijak. Dengarkan masalah anak dan hadapi bersama-sama apabila mereka membuat kesalahan. Tidak mau kan masa depan mereka terganggu? Jadi katakan tidak pada hukuman fisik ya!

Baca juga:

Kejam! Ibu ini mengikat dan menyeret anaknya pakai motor sebagai hukuman mencuri

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner