Ini alasan anak bisa kecanduan game dan bagaimana mengalihkannya. Parents wajib tahu!

lead image

Makin banyak anak kecanduan game membuat orangtua merasa resah dan khawatir. Lakukan beberapa tips berikut untuk mengatasi masalah ini,

Kasus anak kecanduan game tentu sudah sering kita dengar bukan?

“Rasya… kamu sudah berapa lama main game-nya?”

“Baru sebentar, kok, Bunda. Belum juga 30 menit.”

“Baru 30 menit? Bunda perhatikan sudah lebih, lho. Sudah, ya, nak.”

“Yah, Bunda. Sebentar lagi, dooooong.”

Rengekan Rasya yang berharap agar diberikan kesempatan lebih untuk bermain game mungkin bisa merefleksikan banyak kasus serupa. Parents pasti juga menyadari, saat ini makin banyak anak kecanduan game. .

Seperti juga yang dialami ibu lainnya yang mengeluh, anaknya sering minta untuk dibolehkan bermain game setelah sepulang sekolah. Jika tidak diberi izin, anaknya akan menjadi gelisah dan mudah marah.

Sebuah kondisi yang mengkhawatirkan, bukan?

Salah satu pertanyaan yang timbul  terkait dengan anak kecanduan game, mengapa hal ini bisa terjadi?

Hal ini ternyata karena semua produk yang memiliki energi listrik seperti handphone dan televisi, sebenarnya memiliki ‘denyutan’ yang memberikan stimulasi untuk mata yang kemudian akan diteruskan ke neuron (sel-sel saraf).

“Anak saat bermain games di handphone itu seolah-olah statis. Padahal ia menggunakan energi listrik, dan itu ada denyutannya yang mengakibatkan kerja di syaraf kita terstimulasi dan dihafal oleh otak. Dan sensasinya itu yang menyebabkan anak kecanduan game,” kata psikolog Ratih Ibrahim saat ditemui TheAsianParent Indonesia di acara press conference ‘Brick Live’.

Hal inilah yang membedakannya dari jenis permainan lain yang tidak menyebabkan adiksi. “Membaca buku, bermain lego, atau permaian lainnya yang tidak memberikan rangsangan denyutan seperti yang ditimbulkan smartphone memang tidak akan menimbulkan adiksi,” Ratih melanjutkan.

Terkait anak kecanduan game, bahkan saat ini organisasi kesehatan dunia (WHO) akan menetapkan kecanduan bermain game sebagai salah satu gangguan mental. Berdasarkan dokumen klasifikasi penyakit internasional ke-11 (Internatioal Classified Disease/ICD) yang dikeluarkan WHO, gangguan ini dinamai gaming disorder.

Seperti yang dikutip dari laman Kompas.com, penetapan gaming disorder sebagai salah satu gangguan mental disambut baik dokter spesialis kecanduan teknologi dari Rumah sakit Nightgale di London, Richard Graham. Ia menilai kalau bermain game secara berlebihan memang sudah seharusnya mendapatkan penanganan medis serius.

Alasannya, ia telah melihat ada 50 kasus kecanduan digital setiap tahunnya. Kriteria tersebut didasarkan pada pengaruh kecanduan yang berdampak pada kebutuhan sehari hari seperti tidur, makan, sekolah, dan bersosialisasi.

Apa yang bisa dilakukan mencegah anak kecanduan game?

Ratih Ibrahim mengingatkan agar orangtua lebih tegas dan memberikan rambu yang jelas saat memberikan izin pada anak untuk bermain games. Misalnya, membuat kesepatakan peraturan bermain games, lakukan kontrol terhadap semua media games anak, dan yang paling penting adalah menjadi role model bagi anak.

Baca juga : Jangan main HP saat bermain saat bersama anak

Tidak adil rasanya jika anak selalu dilarang memegang handphone atau bermain games online lewat media lainnya, sementara Anda selalu menghabiskan untuk memantau timeline sosial media atau ‘mengintip’ etalase di onlineshop.

Yang tidak kalah penting, jangan lupa berikan fasilitas dan stimulasi lainnya yang justru bisa meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan kreativitasnya. Misalnya dengan menyediakan permainan lainnya di rumah, seperti bricks.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/03/anak kencanduan game 1.jpg Ini alasan anak bisa kecanduan game dan bagaimana mengalihkannya. Parents wajib tahu!

lakukan beberapa peraturan dan kesepakatan untuk hindari anak kecanduan game

Ratih Ibrahim menjelaskan permainan bricks merupakan salah satu stimulus yang baik untuk mendorong anak mengeksplorasi serta mengembangkan seluruh aspek kecerdasan anak, baik kecerdasan kognitif, psikomotor dan psikososial.

Kabar baiknya, 7-17 Juni 2018 nanti akan dilangsungkan Bricklive yang akan menghadirkan 16 area permainan LEGO. Acara yang akan diadakan di PIK Avenue, Jakarta, akan memberikan kesempatan pada anak-anak untuk berinteraksi dan berkreasi dengan berbagai jenis LEGO.

Bahkan akan ada 16 area permainan LEGO yang bisa dinikmati, mulai dari Brick Pool dan Duplo Pool, Race Tracks, sebuah area di mana anak-anak bisa membangun mobil atau kendaraan dari LEGO dan mengikuti balapan, dan masih banyak area petualangan interaktif lainnya seperti Brick Wall, LEGO Cities, LEGO Architecture, LEGO Star Wars.

Penasaran? Jika tertarik, pembelian tiket acara Bricklive ini sudah dapat dilakukan di Tokopedia.com, outlet LEGO dan PIK Avenue.

 

 

Baca juga :

Main Video Games Kurang Dari 1 Jam Sehari Ternyata Bermanfaat untuk Anak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.