7 Tanda bahwa anak berasal dari keluarga broken home

lead image

Anak dari keluarga berantakan memiliki beberapa sifat maupun perilaku yang terus terbawa hingga ia dewasa dan biasanya menyulitkan dirinya sendiri.

Beberapa orang mengalami masa kecil hingga remaja yang tak membahagiakan karena tinggal di keluarga berantakan. Keluarga berantakan ini bagaikan racun yang harus “ditelan” oleh anak-anak.

Saat anak sudah dewasa, ia akan memiliki beberapa masalah psikologis. Beberapa masalah tersebut biasanya akan berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan pasangan, dan hubungan sosial pada umumnya.

1. Posesif

Anak dari keluarga berantakan akan lebih posesif dalam pertemanan maupun dalam hubungan percintaan. Secara emosional anak lebih ‘haus kasih sayang’ dari anak lainnya.

Ia takut jika ia tidak ‘menahan’ orang-orang terdekatnya, maka mereka akan pergi seperti orangtuanya. Ia juga punya rasa cemburu berlebih pada orang lain yang berada di sekitarnya.

2. Selalu takut dibohongi

Ia punya ketakutan yang berlebihan tentang kebohongan. Ia melihat bagaimana ayahnya memanipulasi sang bunda atau sebaliknya sehingga ia menganggap bahwa orang lain pasti melakukan hal yang sama.

3. Sulit percaya pada orang lain

Penelitian dari Universitas Brown tentang ikatan anak dengan orangtuanya mengungkapkan fakta bahwa sering dibohongi oleh anggota keluarganya sendiri membuat anak sulit percaya pada orang lain. Sekalipun pasangannya adalah orang yang jujur, ia akan selalu merasa bahwa ia sedang dibohongi.

Perasaan sulit menaruh kepercayaan pada orang lain ini sering menyebabkan ia mudah frustasi. Ia pun jadi sosok yang sering berkecil hati ketika berurusan secara pribadi dengan orang lain.

4. Takut menikah maupun menjalin hubungan dengan orang lain

Ide tentang berkeluarga bisa jadi momok tersendiri buat anak karena ia hidup bersama keluarga yang tak bahagia. Akibatnya, ia sendiri ragu bahwa ia akan bisa membentuk keluarga yang bahagia nantinya.

5. Tidak punya identitas diri yang kuat

Mental anak sangat lemah hingga ia sering bingung dengan dirinya sendiri. Ia merasa bahwa hidupnya berbeda dengan hidup orang lain.

Karena itulah, ia jadi lebih mudah untuk mengalami depresi, krisis identitas, merasa tak ada harganya, dan merasa di dunia ini tak ada orang yang menyayanginya.

6. Kurang menghargai diri sendiri

Sikap orangtua yang sering merusak anak adalah saat mereka tak menghargai anak. Misal, orangtua menaruh ekspektasi tinggi terhadap anaknya dan tak mengapresiasi anak.

Akhirnya, anak merasa tidak menghargai dirinya juga. Kurang pujian dari orangtuanya membuat ia merasa bahwa dirinya tak cukup baik di mata siapa pun.

Artikel terkait: 21 pola asuh yang perlu Anda ketahui.

7. Kurang bisa mengekspresikan perasaan

KEsulitan mengekspresikan perasaan biasanya dimulai dari orangtua yang suka melarang anaknya melakukan banyak hal. Akhirnya anak jadi sering menahan perasaannya agar dapat menjaga perasaan orang lain.

Padahal tindakan itu tidak perlu ia lakukan karena hanya akan membuat dirinya terkekang secara emosional.

Seperti apa keluarga berantakan itu?

Berikut sikap orangtua yang membuat anak merasa ada dalam keluarga berantakan menurut penelitian dari Brown University:

  • Salah satu atau kedua orang tua memiliki kecanduan atau kompulsif (misalnya, obat-obatan terlarang, alkohol, pergaulan bebas, perjudian, gila kerja, maupun suka makan berlebihan) yang memiliki pengaruh kuat pada anggota keluarga.
  • Salah satu atau kedua orang tua menggunakan ancaman atau penerapan kekerasan fisik sebagai alat kontrol utama. Anak-anak mungkin harus menyaksikan kekerasan, dipaksa untuk berpartisipasi dalam menghukum saudara kandungnya, atau mungkin hidup dalam ketakutan akan kemarahan orangtuanya.
  • Salah satu atau kedua orang tua mengeksploitasi anak-anak dan memperlakukan mereka sebagai harta benda yang tujuan utamanya adalah untuk merespons kebutuhan fisik atau emosional orang dewasa (misal melindungi orang tua, menghibur orangtua yang depresi, maupun memenuhi kebutuhan keluarga).
  • Salah satu atau kedua orang tua tidak dapat memberikan rasa aman, jaminan kesehatan, maupun persoalan finansial untuk anak-anak mereka. Demikian pula, salah satu atau kedua orang tua gagal memberi anak-anak mereka dukungan emosional yang memadai.
  • Salah satu atau kedua orang tua bersikap otoriter terhadap anak-anak. Seringkali keluarga berantakan memaksa anak untuk patuh pada keyakinan tertentu (agama, politik, keuangan, dan pendapat pribadi).

Jika anak-anak Anda masih kecil, ada baiknya untuk menghindari sifat-sifat di atas. Jika dulunya Anda berasal dari keluarga berantakan, sekarang saat yang tepat untuk tidak mengulang siklus yang sama.

 

Baca juga:

10 Cara Agar Anak tak jadi Pribadi yang Membenci Orangtuanya Sendiri

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.