"Hatiku hancur saat anakku bertanya apa agama pelaku teror," curahan hati seorang ibu

lead image

Seorang ibu berbagi kisahnya kala sang anak bertanya hal yang tak terpikirkan kebanyakan balita: "Ibu, apakah agama pelaku teror itu?"

Publik dunia kembali dibuat geram saat mendengar Sri Lanka, sebuah negara eksotis di Asia Selatan yang diguncang ledakan bom pada Minggu (21/4) lalu. Ledakan yang dilaporkan terjadi di delapan tempat itu menewaskan hampir 300 orang dan melukai 400 orang lainnya di tengah perayaan Minggu Paskah. Saat anak menyaksikan kejadian menyayat hati ini, sebagai orangtua apa yang sebaiknya dilakukan jika anak bertanya soal terorisme?

Anak bertanya soal terorisme

Pasca terjadinya peristiwa ini, salah seorang editor theAsianparent, Nalika Unantenne, yang berdomisili di Sri Lanka, mengunggah status terkait kondisi terkini yang membuat negerinya hancur lebur.

Dalam akun facebook pribadinya, Nalika mengungkapkan kebingungannya perihal anak bertanya soal terorisme yang ia alami.

“Dengan hati berat, aku mencoba menjawab pertanyaan anak-anakku tentang aksi teror hari ini.

Aku ceritakan pada mereka bahwa banyak sekali keluarga di Sri Lanka yang terkoyak dengan peristiwa ini, bahwa banyak anak-anak seperti mereka yang kehilangan orangtuanya dan memikirkan dengan penuh keharuan serta kesedihan.

Hatiku hancur saat mereka bertanya kepadaku, “Agama apa yang mealakukan itu, Ammi?” Aku mengungkapkan bahwa orang yang melakukan hal tersebut adalah teroris, itulah mereka. Salah satu anakku lalu berkomentar, “Teroris bisa membelah dunia ini menjadi dua ya Ammi, benarkah begitu?” Betapa anak-anak bisa melihat segala sesuatunya dengan sudut pandang yang jujur 💔” demikian bunyi statusnya.

Setujukah Parents bahwa anak adalah sosok yang paling jujur di muka bumi ini? Tanpa tedeng aling-aling mereka akan menanyakan segala hal yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya oleh Anda. Tak hanya Nalika, banyak ibu di luar sana pasti pernah mengalaminya.

Jika kita mau menggali lebih dalam, aksi teror bisa terjadi karena keluarga sebagai gerbang awal tidak berhasil untuk mengajarkan anak untuk menghormati, menghargai dan menerima perbedaan yang ada di sekitarnya.

Walaupun begitu, menjadi tugas penting orangtua untuk mendorong anak tumbuh menjadi sosok yang toleran terhadap apapun perbedaan yang ada seperti budaya, ras, agama maupun ideologi yang selama ini kerap menjadi sekat pembatas di tengah masyarakat.

Hal ini tentunya menjadi kewajiban orangtua untuk mengakhiri lingkaran ketakutan, kebencian dan kekerasan yang ditebarkan melalui aksi terorisme. Melalui kasih sayang dan cinta kasih, akan terbentuk pondasi kuat sehingga orangtua bisa tanggap kala anak bertanya soal terorisme dengan respon tepat.

Diperlukan komunikasi dua arah sehingga anak tidak salah memahami aksi kekerasan yang terjadi di luar sana.

“Jawablah dengan terbuka dan jujur apa adanya, namun sesuaikan juga dengan pemahaman anak. Menurut saya, fokus penjelasan bukan pada agamanya tetapi menitikneratkan bahwa apapun bentuk kekerasan tidak ada satupun agama yang memperbolehkan.

Jelaskan pada anak bahwa orang bisa menyakiti orang lain atau bisa bersikap baik atau buruk karena pemikiran salah. Dan, bukan karena agamanya karena tidak satu pun agama mengajarkan untuk menyakiti sesama manusia”, ungkap Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi, psikolog anak dan remaja saat dihubungi theAsianparent melalui surel.

Cara mengajarkan anak mencintai sesama

Beberapa langkah berikut sebaiknya Parents lakukan agar si kecil lebih terbuka dengan segala perbedaan yang ada, apa saja?

mengajarkan anak perbedaan

Apa yang harus dilakukan saat anak bertanya soal terorisme?

#1 Biasakan anak mengucapkan kata sakti

‘Magic words’ seperti tolong, terima kasih dan maaf sejatinya didapatkan anak sejak dini. Kendati sederhana, membiasakan anak mengucapkan ketiga hal ini akan mendidik anak lebih empati dan penuh perhatian terhadap lingkungan sekitar.

#2 Jadikan traveling sebagai rutinitas

Tak harus mengunjungi tempat jauh, mengunjungi situs budaya seperti Chinatown atau Little India di negeri sendiri akan menjadi langkah awal bagus untuk anak mengetahui seperti apa perbedaan yang ada di luar sana. Anak akan melihat hal baru seperti pakaian tradisional dan bertemu orang baru yang menarik.

Jadilah penonton dan jangan takut kala anak bereksplorasi dan berbicara untuk pertama kalinya dengan orang asing yang ditemuinya. Sesekali ajak juga anak mengunjungi tempat ibadah untuk ia mengetahui keyakinan pemeluk agama lain.

#3 Dengarkan musik

Jika membaca buku dirasa monoton, tak ada salahnya Bunda memperkenalkan perbedaan melalui musik. Isi waktu luang anak dengan genre musik yang beraneka ragam seperti hip hop, K-Ppo, Japanese Pop dan musik dari negara lainnya. Selain menyenangkan, Anda akan mengetahui selera musik anak dan tentunya membuka mata si kecil akan banyaknya budaya berwarna di dunia ini.

#4 Jadilah panutan

Yang tak kalah penting adalah cara orangtua mampu menjadi teladan yang murni. Perlu diingat bahwa anak adalah peniru ulung. Pastikan Anda memberikan contoh yang baik dengan konsisten sehingga anak bisa melakukan perbuatan positif dan membina interaksi yang sehat dengan orang lain.

#5 Bebaskan anak mencari tahu

Menurut sebuah penelitian di Inggris pada 2013 lalu, seorang anak mampu mengajukan hingga 300 pertanyaan setiap harinya. Bahkan terungkap anak perempuan akan lebih banyak bertanya dibandingkan anak laki-laki.

Bunda sebaiknya bersyukur dan jangan sampai meredam bahkan ‘mematikan’ keingintahuan anak. Keingintahuan anak yang tinggi akan mendorong dirinya untuk belajar dan mengalami hal baru. Hal ini merupakan batu loncatan vital bagi si kecil membangun karakter berwawasan luas.

 

Referensi : The Guardian, theAsianparent Singapore

Baca juga : 

Selamat jalan malaikat kecil… 2 Bocah jadi korban teror bom Surabaya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.