Anak-anak yang menjadi Korban Terorisme dan Trauma yang Akan Menghantui Mereka

Aksi terorisme di sebuah wilayah adalah bencana yang mestinya bisa dihindari. Hal itu akan memunculkan trauma atas terorisme yang berat bagi anak-anak.

Kita baru saja mengalami duka mendalam akibat terjadinya bom di bumi Samarinda yang korbannya adalah anak-anak. Trauma atas terorisme itu seperti hantu yang menakuti anak-anak dalam kasus terorisme manapun di dunia.

Hari ini, kita semua berduka karena satu dari empat balita korban bom Gereja Oikumene dinyatakan meninggal. Gadis kecil tersebut adalah Intan Olivia Marbun yang usianya baru menginjak 2,5 tahun.

Saat kejadian itu berlangsung, Intan Olivia, Triniti Hutahaean (3), Alfarou Sinaga (4), dan Anita Christabel (2) sedang berada di parkiran gereja. Mereka adalah anak-anak sekolah Minggu yang diadakan oleh Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan bahwa Intan meninggal pukul 03.05 WITA di rumah sakit Abdul Muis Samarinda,

"Intan menderita luka bakar 78% dan mengalami infeksi pernafasan," ujarnya kepada detikcom.

Anak yang seharusnya ceria dan bermain dengan lincah bersama teman-temannya kini tergeletak lunglai di rumah sakit. Trinity misalnya, saat ini ia sedang kritis di Rumah Sakit IA Moies, karena menderita luka bakar sebanyak 50%.

"Dua korban lainnya menderita luka bakar sebanyak 16%," ungkap Direktur RSUD AW Syahranie, dr Rachim Dinata.

Kepada Kompas, Ia menjelaskan bahwa anak-anak tersebut mengalami luka bakar yang cukup parah. Selain itu paru-paru mereka juga mengalami gangguan karena menghirup asap maupun zat saat terjadi ledakan.

Pelaku bom molotov yang berinisial J (32) telah diamankan oleh pihak kepolisian saat mencoba kabur ke sungai Mahakam. Polisi menyatakan bahwa pelaku adalah mantan narapidana kasus terorisme.

Anak-anak menjadi korban terorisme yang utama

Terorisme, perang, kecelakaan, dan bencana adalah peristiwa traumatis yang dialami oleh anak-anak. Mereka tidak hanya menderita soal fisik, namun juga secara mental.

Asosiasi Psikolog Amerika (American Psichological Association/APA) menegaskan bahwa anak-anak yang alami trauma atas terorisme adalah korban yang paling rentan dalam peristiwa tersebut.

Anak-anak yang berpotensi terdampak pada terorisme berada dalam kondisi berikut:

  1. Korban maupun saksi mata langsung atas peristiwa tersebut
  2. Berada di dekat area terdampak
  3. Ada anggota keluarga yang terpisah, dirawat di rumah sakit, maupun pemicu stres lain pada anak
  4. Memiliki anggota keluarga yang mengalami trauma atas kejadian tersebut
  5. Adanya gangguan pada keseharian anak akibat peristiwa tersebut
  6. Tayangan televisi yang menayangkannya tanpa henti sekalipun anak bukanlah korban maupun tidak berada di wilayah tersebut.

Hal yang dapat diberikan pada anak untuk dapat lewati trauma atas aksi terorisme

  1. Dukungan kuat dari lingkungan keluarga, lingkungan, dan sekolah
  2. Pendampingan intensif oleh orang tua
  3. Mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan pada anak
  4. Adaptasi dengan keadaan ekonomi dan lingkungan paska aksi teror berlangsung
  5. Menyadari adanya gangguan kecemasan dan depresi pada anak di tingkat awal
  6. Mengajari anak caranya mengatasi masalah dan beradaptasi dengan keadaan yang baru
  7. Memberikan pengertian atas peristiwa yang terjadi sesuai dengan usianya.

Dampak psikologis yang dialami anak paska kejadian terorisme

Anak korban dari aksi terorisme rentan mengalami PTSD (Post Trauma Stress disorder atau Gangguan Stres Paska Trauma). 40% anak yang mengalami peristiwa terorisme dinyatakan mengalami PTSD 3 bulan setelah peristiwa yang menimpa mereka.

Mereka akan mengalami gambaran kejadian trauma atas terorisme tersebut yang berulang-ulang di dalam pikiran mereka tanpa dapat melenyapkannya. Selain itu, akan jadi lebih mudah cemas saat ada hal-hal kecil yang dapat mengingatkan pada trauma (trigger).

Rata-rata anak akan mengalami dampak trauma atas terorisme sampai 15 tahun ke depan. Sehingga terapi dari psikolog maupun psikiater untuk memulihkan mental anak dalam menghadapi trauma harus segera dilakukan secara intensif.

Gejala lain dari PTSD adalah depresi, gangguan kecemasan, mudah kaget, tidak bersemangat, lekas marah, memiliki gangguan tidur, merasa dalam keadaan mencekam terus menerus seolah keselamatannya akan terganggu, dan gelisah.

Selain itu, anak juga cenderung akan mengisolasi diri sendiri dari lingkungan sosial, menolak untuk berteman, sering merasa terintimidasi, bolos sekolah, penurunan prestasi akademik, dan tidak dapat menikmati kegiatan yang sebelumnya menjadi hobi anak-anak.

Halaman selanjutnya: Upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk membantu trauma atas terorisme pada anak.

Upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun pengambil kebijakan untuk korban terorisme anak

  1. Melatih tenaga ahli yang dapat menangani dan mengidentifikasi masalah mental anak
  2. Memberikan dukungan riset kepada tenaga ahli untuk meneliti dampak, respon, faktor pemicu trauma, dan meneliti reaksi anak atas sebuah peristiwa terorisme.
  3. Mengaplikasikan hasil riset untuk membuat kebijakan terkait pencegahan, penanganan, dan perawatan kepada anak-anak yang mengalami trauma.
  4. Memberikan dukungan ekonomis kepada keluarga korban agar mereka dapat melanjutkan medikasi dan terapi pada anaknya.

Trauma anak dan pendidikan

Peristiwa bom bunuh diri di sebuah wilayah biasanya adalah awal dari terbentuknya zona konflik. Hal ini sudah terjadi di Suriah, Sudan Selatan, Irak, Afganistan, dan wilayah lainnya.

Data UNICEF menyatakan bahwa 51% anak yang lingkungan rumahnya berubah jadi zona perang berpotensi untuk meninggalkan bangku sekolahnya. Anak usia 15 tahun yang mengalami peristiwa traumatis seperti terorisme akan mengalami adanya kesulitan belajar.

"Anak yang mengalami trauma paska kejadian terorisme biasanya akan sulit belajar, akibatnya mereka akan mengalami kesulitan  untuk berkontribusi untuk lingkungan sosial dan ekonomi saat ia dewasa nanti. Dalam kata lain, mereka cenderung kehilangan masa depannya." Jo Bourne Kepala Pendidikan Anak UNICEF.

Aksi terorisme yang banyak terjadi belakangan ini di Indonesia adalah pelajaran bagi kita semua untuk saling menghargai antar sesama. Pendidikan di masa kecil tentang pentingnya menghargai nilai-nilai kemanusiaan akan mencegah anak-anak dari tindakan yang akan menyakiti orang lain.

Semoga ke depannya, aksi seperti ini tidak terjadi lagi di manapun. Duka cita mendalam kami sampaikan kepada keluarga korban bom Gereja Oikumene.

 

Baca juga:

Kejadian Traumatis Pengaruhi Perkembangan Otak Anak