“Aku Ingin Membesarkan Anak Lelakiku Seperti Anak Perempuan”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Ibu ini membesarkan anak lelaki dalam keluarganya seperti membesarkan anak perempuan. Alasan yang ia berikan ada di tulisan berikut ini.

Seorang ibu bernama Gloria Steinem berbicara pada Huffington Post tentang harapannya pada natal tahun 2016 kemarin. Secara mengejutkan, ia menulis bahwa salah satu keinginannya adalah membesarkan anak lelakinya seperti anak perempuannya.

“Aku senang kita sudah mulai membesarkan putri kita seperti anak laki-laki – tetapi itu tidak akan berhasil sampai kita membesarkan anak-anak lelaki kita seperti anak perempuan.”

Harapan masyarakat sering ditempatkan pada gadis-gadis kecil yang jauh dari sempurna. Perempuan diharapkan untuk menjadi cantik, ramah, dan tidak pernah suka memerintah.

Kebanyakan orang masih bermental tahun 1950. Yaitu adalah ketika menikah dan berkeluarga jadi satu-satunya tujuan kehidupan nyata disajikan kepada perempuan.

Aku dibesarkan untuk percaya aku bisa menjadi apa pun yang aku nginkan. Aku dipuji karena memiliki impian besar di dunia yang secara tradisional didominasi laki-laki dalam hukum dan politik.

Hal yang sama tidak terjadi pada anak lelakiku.

Anak-anak lelaki diajarkan soal mimpi tanpa batas. Anak-anak lelaki diajari untuk meraih mimpi mereka dan melakukan apa yang mereka mau asalkan bukan hal yang dianggap untuk perempuan.

Amos mencintai cat kuku tapi tidak akan memakainya lagi karena orang-orang (dewasa dan anak-anak) telah mengatakan kepadanya itu untuk anak perempuan. Griffin menyukai serial My Little Pony sampai ia mendapat pesan bahwa acara itu untuk anak perempuan.

Seseorang berpendidikan mengatakan kepadaku sepanjang waktu bahwa mereka tidak akan membiarkan anak mereka memakai baju tertentu atau berpartisipasi dalam aktivitas tertentu karena itu “girly”.

Anak laki-laki yang girly dianggap sesuatu yang buruk. Girly dianggap tidak menarik. Girly sesuatu yang lebih buruk dibanding menjadi seorang yang tomboy.

Sikap ini berbahaya, tidak hanya untuk anak-anak lelaki yang secara halus diberitahu tentang jati diri mereka dan hal yang mereka suka tersebut tidak baik untuk mereka.

Tapi juga untuk gadis-gadis kecil yang secara halus diberi tahu siapa jati diri mereka dan apa yang mereka senangi selama ini ternyata tidak cukup baik untuk anak laki-laki.

Aku baru-baru ini mendengar Anne-Marie Slaughter, dan mengapa perempuan tak memiliki semua kepopuleran yang mestinya mereka dapatkan di radio Freakonomics. Aku pikir, idenya tentang isu ini sangat tepat sasaran.

Dia berkata:

Jadi, inilah yang aku sadari: Aku punya dua anak laki-laki. Aku melihat anak lelakiku dan berpikir, “Kau tahu, jika aku punya seorang putri, kita akan membesarkan dengan cara yang 100 persen berbeda dari cara ibuku membesarkannya, dan bahkan berbeda dari saya dibesarkan,”

Meskipun ayahku sangat progresif dan dia membesarkanku menjadi wanita karir yang mapan. Tetapi jika aku melihat anak-anakku, aku berpikir, “aku membesarkan anak-anak lelakiku cukup persis seperti ayah membesarkanku.”

Maksudku, harusnya kita membesarkan mereka untuk memiliki peran yang lebih aktif sebagai ayah. Sedangkan ayahku tidak pernah mengganti popok.

Tentu saja suamiku telah berubah banyak, aku harap anak lelakiku pun demikian.

Tapi kita masih terpaku apa kata orang-orang, “Kepantasanmu di dalam fungsi sosial masyarakat adalah saat kau menjadi kepala keluarga. Seberapa banyak uang yang akan kau dapatkan dan seberapa tinggi karir yang kau capai”

Berbeda dengan perempuan. Ketika ibu membesarkan anak perempuannya, ia akan berkata, “Kapatutanmu di masyarakat tergantung pada apakah kamu bisa menikah dan punya anak.”

Poinku adalah, kita semua harus memiliki akses pada kedua hal itu.

Sebagai seorang wanita aku benar-benar ingin dapat bersaing. Aku ingin memiliki karier. Hal itu adalah sesuatu yang luar biasa.

Tapi di sisi lainnya, aku yakin tidak ingin melakukan itu dengan mengorbankan diriku sebagai ibu, istri, saudara perempuan, dan seorang putri dari orang tuaku.

Sekarang ini, yang aku katakan kepada anak-anakku adalah, “Jika kamu percaya pada kesetaraan dan kamu menikahi seorang wanita atau pria -siapapun yang kalian suka- kamu akan mendukung karir wanita itu.”

“Meskipun mungkin hal itu akan membuatmu menjadi seorang kepala rumah tangga dengan istri sebagai pencari nafkah utama.”

Hal itulah yang terjadi dalam pernikahan kami.

Mereka memahami bahwa aku tidak bisa memiliki karir besar seperti ini kecuali Andy memainkan peran tersebut. Begitulah caraku mengatakan pada orang-orang.

Jika Anda percaya pada kesetaraan antara lelaki dan perempuan, maka Anda tak bisa berkata, “Baiklah, aku percaya pada kesetaraan. Tapi aku akan mendapatkan semua posisi yang ditawarkan oleh perusahaan. Jika kamu mendapatkan promosi. Aku tak mau mendukungmu.”

Ketika kita mengatakan pada anak-anak lelaki bahwa menjadi “girly” adalah hal yang berada di luar batas, kita tidak hanya membatasi mainan yang dapat mereka mainkan; namun kita juga membatasi jalan yang merupakan takdir mereka dan juga membatasi kebahagiaan mereka.

Kita harus membesarkan anak laki-laki dengan kepercayaan bahwa mengasuh dan merawat anak-anak adalah sama berharganya dengan tugas sebagai pencari nafkah keluarga. Kita harus mengajari mereka satu-satunya pilihan yang memiliki nilai riil adalah pilihan yang akan membawa mereka memenuhi standar pribadinya.

Sulit. Sulit untuk menghilangkan apa yang telah diajarkan pada kita sebelumnya. Sulit untuk melihat pilihan kita sendiri dan bertanya-tanya apakah kita akan mengambil jalan yang berbeda karena mata kita terbuka soal itu.

Sulit karena membesarkan anak dengan cara seperti itu memiliki banyak tantangan yang harus dilakukan dengan diri kita sendiri seperti halnya dengan anak-anak kita.

Tapi kita harus mencoba. Biarkan anak lelaki Anda mengecat kukunya. Biarkan anak perempuan Anda memotong pendek rambutnya.

Beritahu anak Anda, suatu hari jika ia besar nanti, ia akan menjadi seorang ayah. Beritahu anak Anda dia akan menjadi bos besar.

Kita harus membiarkan diri kita tak nyaman demi melawan anggapan masyarakat kebanyakan – bahkan jika masyarakat mengejeknya.

Orang sering bilang bahwa aku akan membuat anak-anakku diejek.

Pertama-tama, aku belum pernah bertemu dengan seorang anak pun yang mengalami masa kecil mereka dengan bebas ejekan dari anak-anak lainnya. aku lebih memilih untuk mengajarkan anak-anakku untuk menghadapi ejekan- tidak dengan menghindari semua hal itu.

Kedua, aku tidak ingin mengajari anak-anakku bahwa mereka harus mengubah perilaku mereka hanya karena berdasarkan pendapat orang lain.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Gloria Steinem mengatakan, “Aku berharap bahwa suatu hari masyarakat berubah karena adanya pribadi yang unik, bukan individu yang unik lah yang akan menyesuaikan masyarakat. Tapi kita semua berada di sini, dan kita berusaha menemukan solusinya. Kita perlu saling mendukung solusi untuk mereka”

Itulah yang ada di daftar keinginanku- untuk diriku sendiri, untuk semua orang, dan TERUTAMA untuk anak-anak lelakiku.

Aku mencintai anak-anak lelakiku Aku suka hal kecil yang membuat mereka jadi unik.

Mereka bisa menjadi apapun yang mereka inginkan, bahkan jika mereka ingin jadi girly sekalipun.

Itulah alasan mengapa Gloria Steinem ingin membesarkan anak lelakinya seperti ia membesarkan anak perempuan. Pada intinya, ia ingin anak perempuan dihargai dalam masyarakat sebagaimana masyarakat menghargai anak lelaki.

Apakah parents setuju dengan cara pangasuhan seperti itu?

 

 

Baca juga:

3 Manfaat Bermain Boneka untuk Anak Perempuan Maupun Laki-laki





Better Parenting