Akibat Buruk Membandingkan Anak Kita Dengan Anak Lain

lead image

Membandingkan anak kita dengan anak lain, entah soal kecerdasan, kemampuan olahraga, maupun hal lainnya akan berakibat buruk pada psikologis anak.

Parents, apakah Anda sering membandingkan anak sendiri dengan anak lain? Entah dari segi kepatuhan, nilai di sekolah, maupun kemampuan bermain. Baiknya hentikan sekaang juga, karena efeknya akan buruk pada anak.

Mungkin Anda bermaksud baik dengan membandingkan anak, agar dia lebih kompetitif sehingga lebih terpacu untuk berprestasi. Namun anggapan ini sangatlah salah.

Anak justru akan merasakan berbagai emosi negatif bila orangtuanya terus-terusan membandingkan dirinya dengan orang lain. Dilansir dari laman Being The Parent, berikut ini adalah 8 efek negatif yang ditimbulkan dari sikap orangtua yang suka membanding-bandingkan anak.

1. Stres

Saat terus-terusan dibandingkan dengan anak lain, anak Anda akan merasa terbebani. Sikap orangtua yang menekan dia untuk menunjukkan kemampuan yang lebih baik, akan membuat anak gelisah dan sulit tidur.

Sebaiknya Anda mencoba bicara dengan anak, tanyakan dengan lembut apa yang membuat performanya turun. Apakah ada hal yang mengganggu pikirannya, kemudian cari solusinya bersama-sama.

2. Merasa rendah diri

Dengan dibandingkan, anak akan mulai berpikir bahwa anak-anak lain selalu lebih baik darinya. Dan dia tidak mampu membuat sesuatu yang baik, atau memenuhi harapan orangtua.

Perasaan seperti ini sangatlah buruk bagi kepribadian anak, dan akan membuat prestasi akademiknya menurun drastis.

3. Menghindari keramaian

Ketika anak terus-terusan dicibir karena kemampuannya kurang dibandingkan yang lain, atau terlalu sering menjadi bahan perbandingan. Dia akan mulai menghindari interaksi sosial dan keramaian.

Akibatnya, anak akan menjadi pribadi yang introvert dan tidak memiliki banyak teman.

4. Sikap acuh tak acuh

Bila segala pencapaian yang dilakukan anak selalu diabaikan, karena dianggap tidak sepadan dengan anak lain. Maka anak akan bersikap cuek, dan malas untuk meraih prestasi apapun untuk menyenangkan orangtuanya.

Karena orangtua terus-terusan memuji anak lain, maka anak akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya adalah kesia-siaan. Sehingga dia merasa tidak perlu repot berusaha untuk memuaskan orangtuanya lagi.

5. Bakat yang ditekan hingga menghilang

Saat anak suka sekali melakukan satu hal, ini bisa jadi indikasi bahwa bakatnya ada di bidang tersebut. Namun, saat orangtua menyuruhnya melakukan hal lain yang jauh lebih bermanfaat menurut orangtua, anak akan mengalami dilema.

Bakat yang sedang ia kembangkan tidak diapresiasi, dan iapun melakukan hal yang diinginkan orangtua dengan setengah hati. Akhirnya, anak tidak bisa mencapai apapun dengan maksimal.

Bakatnya tidak bisa tumbuh karena ditekan orangtua, dan kemampuannya di bidang yang lain tidak bisa maksimal karena bukan dari hatinya.

Tentu Anda tidak mau anak Anda menjadi menderita begini bukan?

6. Menilai diri dengan rendah

Saat dia sudah berusaha keras mencapai sesuatu, namun masih dibilang untuk mencontoh anak lain. Hal ini akan mematahkan kepercayaan dirinya.

Anak pun mulai mengembangkan pemikiran bahwa apa yang dilakukannya tidak akan pernah cukup. Hal ini akan sangat memengaruhi prestasi dia ke depannya.

7. Menjauh dari orangtua

Bila anak terus-terusan dibandingkan dengan anak lain, entah itu teman, tetangga, sepupu, atau bahkan saudara kandungnya sendiri. Akan menjadi jelas bagi anak bahwa ada yang salah dengan dirinya, dan Anda tidak merasa senang dengannya.

Orangtua menjadi sumber kesakitan bagi anak, sehingga dia mulai menjaga jarak dari Anda. Anak juga akan merasa rapuh dan kehilangan kepercayaan pada orangtuanya sendiri.

Hal ini bisa memicu masalah tumbuh kembang, atau masalah perilaku seiring anak bertumbuh dewasa.

8. Persaingan antar saudara

Saat Anda memuji anak lain di hapadannya, dia akan mulai membenci anak tersebut, bahkan bila yang Anda puji itu saudaranya sendiri.

Secara tak langsung, Anda menyampaikan pesan bahwa anak yang berprestasi lebih baik akan lebih dicintai dan disayangi. Hasilnya, anak akan menilai rendah terhadap dirinya sendiri.

Hal ini juga memicu sikap agresif anak, dia bisa mulai berkelahi dengan anak yang selalu Anda puji.

***

Parents, ingatlah bahwa setiap anak itu unik. Tidak bisa dibandingkan dengan anak lain. Dukung anak melakukan apapun yang ia sukai.

Puji dia jika memiliki prestasi, dan dukung hal yang ia sukai untuk menjunjung bakatnya. Jangan paksa ia menjadi seperti keinginan Anda.

Bila nilainya lebih rendah dari anak lain, jangan membuatnya merasa bahwa ia telah membuat Anda malu. Dukung ia untuk berusaha lebih baik. Dan selalu puji usaha kerasnya di depan publik, untuk membangun kepercayaan diri anak.

Semoga bermanfaat ya, parents.

 

Baca juga:

7 Cara Menghentikan Kebiasaan Membandingkan Anak