Adele dan Kisahnya Berjuang Melawan Depresi Pasca Melahirkan

Adele blak-blakan mengaku kalau dirinya mengalami depresi setelah anaknya Angelo lahir, dia berbagi bagaimana menghadapi postpartum depression.

Siapa yang tak kenal Adele, penyanyi kelas dunia yang telah menyihir pendengar dengan suaranya yang khas. Adele sempat menghilang dari dunia hiburan setelah melahirkan anaknya.

Namun tak lama kemudian, ia kembali merilis album untuk para penggemarnya. Siapa sangka, selebriti setenar Adele pun tak luput dari depresi pasca persalinan atau pospartum depression.

Postpartum depression (PPD) adalah sebuah kondisi yang memengaruhi kondisi emsional seorang ibu tak lama setelah anaknya lahir. Penderita PPD akan merasakan berbagai emosi negatif seperti sedih, tak berdaya, tak layak, takut dan sebagainya. Kondisi inilah yang sempat dijalani oleh Adele.

Baca: Bunda, Kenali 4 Tanda Depresi Paska Melahirkan (Postpartum Depression) Ini

Ia bahkan sempat merasa melakukan kesalahan besar setelah melahirkan Angelo di tahun 2012. “Saya takut telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup,” katanya.

kisah adele melawan depresi pasca melahirkan

Adele bersama suami dan anaknya. Sumber: Youtube.

Setelah mengetahui dirinya menderita PPD, Adele menolak meminum obat anti depresan. Simon Konecki, ayah dari Angelo, menyarankan agar Adele berbicara dengan perempuan hamil lain untuk mengatasi situasi yang dialaminya.

Adele menolak saran Simon, namun tanpa sadar Adele malah cenderung mendekat dan mengobrol dengan para perempuan hamil. “Saya melihat perempuan hamil dan ibu yang memiliki anak lebih sabar,” ujar pelantun lagu Skyfall tersebut.

Adele mengaku sangat takut saat sadar dirinya menderita PPD, dan ia juga merasa malu membicarakannya dengan orang lain. Adele merasa tak cakap untuk menjadi orangtua bagi anaknya, ia juga takut akan menjadi ibu yang buruk.

Pada akhirnya, Adele memutuskan untuk menyisihkan waktu sehari dalam seminggu bagi dirinya melakukan apapun yang ia suka tanpa anaknya.

“Temanku bertanya, apakah kau tidak merasa buruk melakukannya? Tentu saja, tapi tidak seburuk apa yang kurasakan jika aku tak melakukannya,” tegas Adele.

Adele menyatakan bahwa seorang perempuan akan menjadi ibu yang lebih baik jika memberi waktu pada dirinya sendiri untuk bersantai dan merasa lebih baik.

Adele mengaku bahwa dirinya memang mudah terkena depresi, meski tidak membuatnya menjadi seseorang yang ingin melakukan bunuh diri. Adele telah melewati banyak terapi kejiwaan sejak kakeknya meninggal saat dirinya berusia 10 tahun.

“Saya memiliki 4 orang teman yang mengalami hal serupa seperti saya. Suatu hari saya berkata pada teman saya ‘saya sangat membenci keadaan ini.’ dia menangis dan mengatakan hal serupa. Dan seperti itulah, perasaan depresi itu terangkat,” ujar Adele.

Sejak saat itu, Adele tak pernah merasa dirinya begitu rendah. Meski kadang perasaan bersalah menghampirinya ketika ia harus melakukan tur musik dan tidak memiliki waktu yang cukup bersama anaknya, Angelo.

“Saya tidak pernah merasa bersalah saat saya tidak bekerja. Saat kau menjadi seorang ibu, kau selalu ingin memperbaiki kesalahan demi anakmu. Karena cinta saya pada anak saya, saya tidak peduli jika saya tidak pernah bisa melakukan apapun lagi untuk diri saya sendiri,” pungkasnya.

Proses hamil dan melahirkan adalah pengalaman yang sangat emosional bagi seorang perempuan, perubahan besar terjadi dalam hidupnya dengan kehadiran seorang anak. Apa yang terjadi pada Adele menjadi cermin bagi kita bahwa siapapun bisa mengalami depresi.

Adele beruntung bisa melewati depresinya tanpa bantuan dokter atau obat-obatan. Tapi jika Anda menemukan diri anda dalam kondisi yang sama, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan ahli kejiwaan untuk menghindari efek buruk dari depresi itu pada Anda.

Referensi: people.com, vanityfair.com, cnn.com

Baca juga:

Penelitian: Kehamilan Mengubah Otak Wanita Secara Tak Terduga