6 Hal tentang anak jenius yang harus dipahami orangtua dan guru

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Sudah siapkah Parents punya anak jenius dan menerima semua "keanehannya"?

Punya anak jenius adalah sebuah berkah untuk orangtua karena ia adalah sebagian kecil orang di dunia yang diberi berkah berupa kecerdasan di atas rata-rata anak lainnya.

Namun, membesarkan anak jenius tak bisa sembarangan. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua dan guru agar dapat memahami anak yang super cerdas ini.

Sebuah penelitian selama 45 tahun melibatkan lebih dari 5.000 orang jenius dari seluruh dunia mempelajari beberapa hal terkait dengan hal-hal yang biasa dilakukan oleh si jenius. Penelitian psikologi yang dikutip oleh the Independent ini dimulai pada tahun 1971 meneliti 1%, 0,1%, dan 0,01% anak yang dikategorikan sebagai orang sangat cerdas di masanya.

Penelitian tak hanya dilakukan saat anak tersebut masih sekolah, melainkan juga di saat ia telah dewasa. Terbukti, anak jenius memiliki penghasilan yang jauh lebih besar dari orang lain yang memiliki kecerdasan sedang.

Ingin tahu 6 hal penting tentang anak jenius? Berikut daftarnya:

1. Mereka adalah minoritas yang berkuasa

Orang jenius jumlahnya memang sedikit. Tapi kehadirannya bisa berdampak ke sebagian besar orang di dunia ini.

Jonathan Wai, Psikolog dari universitas Duke menyatakan bahwa anak-anak jenius yang meraih pendidikan sarjana hingga dokter adalah orang yang penghasilannya lebih banyak dari yang lainnya. Ia akan jadi pemegang hak paten atas segala sesuatu yang menyangkut dengan penemuannya.

2. Kurang mendapat perhatian dari orangtua dan guru

Jonathan Wei yang spesialisasi psikolognya ada di bidang identifikasi bakat menyatakan bahwa di sekolah maupun di rumah anak jenius sering tidak mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan. Orang dewasa jarang menyadari kejeniusannya, maka mereka diperlakukan sama dengan yang lain sehingga anak-anak ini kelak mengasah bakatnya sendiri tanpa bantuan orang sekitarnya.

Sekolah yang menerapkan satu kurikulum untuk banyak siswa sama sekali tak membantu anak jenius menggapai potensinya. Sebaiknya, guru memberikan tugas dan pelajaran berbeda kepada siswa yang punya potensi diri lebih dari yang lainnya untuk membantunya berkembang.

3. Anak jenius tak selalu butuh pendidikan berjenjang

Beberapa anak yang jenius justru bosan dengan sekolah karena mengajari mereka hal yang sudah mereka tahu. Sehingga wajah bosan anak di sekolah mungkin ini akan membuat guru sebal.

Solusinya adalah beberapa anak yang jenius memang butuh kelas akselerasi (percepatan), bukan kelas berjenjang biasa. Hal ini dilakukan agar sesuai dengan kemampuan otaknya.

Metode kelas akselerasi ini memang mendapat banyak kritikan karena membuat anak kurang punya kehidupan sosial yang baik. Kecerdasan bukan hanya soal pelajaran sekolah, namun juga sosial.

Solusinya adalah membantu anak menyeimbangkan kehidupan akademis dan sosialnya. Jika ia memang senang dengan hal tertentu, bantu ia untuk bisa lebih fokus sambil minta ia berbagi dengan sesama.

4. Kecerdasan itu beragam

Tak semua orang jenius berarti ia jago matematika dan fisika. Beberapa di antaranya punya kecerdasan ruang, emosional, bahasa, dan lainnya.

Anak yang jenius bukanlah anak yang sempurna pada banyak hal. Justru, karena ia menguasai satu hal secara mendalam, maka ia akan punya kekurangan di bidang lainnya.

Artikel terkait: 5 ciri anak cerdas yang wajib diketahui orangtua dan guru.

5. Soal ujian yang sama untuk anak lainnya bukanlah kesia-siaan, tapi…

Ujian penyeragaman seperti pada Ujian Nasional (UN) banyak dikritik orang sebagai hal yang tidak dapat menjadi tolok ukur kecerdasan siswa. Di satu sisi ini memang benar, tapi di sisi lainnya, menerapkan tes standar untuk seluruh siswa bukanlah hal yang sia-sia.

Jika tes dengan sistem UN ini adalah untuk menentukan seberapa jauh pemahaman siswa tentang kurikulum yang diberikan, maka ini adalah hal yang baik. Namun jika UN dipakai untuk menentukan kelulusan siswa, tes seperti ini baiknya tidak terlalu didukung.

6. Anak jenius selalu tahu apa yang ia mau

Beberapa orangtua yang ambisius dengan anaknya akan memaksa anaknya mempelajari sesuatu, bahkan untuk hal yang tidak disukai anak. Jika anak tersebut termasuk jenius, ia akan melakukan segala cara untuk menolak paksaan orangtuanya dan menemukan sendiri apa yang ia ingin pelajari.

Sehingga, jika anak Anda menolak les yang sudah Parents biayai, jangan ngambek dulu. Barangkali dia adalah jenius yang sedang menemukan jalannya sendiri.

Ingatlah bahwa anak jenius adalah orang super minoritas yang ada di sekitar kita. Memahami pikiran mereka yang tidak biasa adalah sebuah tantangan tersendiri.

Anak jenius sering dianggap sebagai anak aneh yang tidak wajar. Maka, di sinilah peran orangtua untuk mendampingi anak apa adanya, seaneh apapun aktivitas yang ia sukai.

 

Baca juga:

10 Sikap yang Mendukung si Kecil Tumbuh Jadi Anak Cerdas

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting