5 Sikap Orang Tua yang Ternyata Menurunkan Kepercayaan Diri Anak

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Ada banyak kebiasaan orang tua yang diam-diam menurunkan kepercayaan diri anak. Padahal, kepercayaan diri anak sangat penting untuk masa depannya.

Kepercayaan diri anak dapat dibentuk sejak dini oleh orang tua. Kadang, beberapa sikap kita sebagai orang tua justru diam-diam menurunkan kepercayaan diri anak. Padahal, kepercayaan diri tinggi adalah salah satu hal yang membuat ia sukses di kemudian hari.

Berikut hal-hal yang Anda lakukan dan tanpa sadar akan menurunkan kepercayaan diri anak:

1. Menyepelekan usahanya

Hal yang menurut kita mudah, belum tentu jadi hal yang mudah baginya. Sekalipun jika anak seusianya sudah mampu melakukan hal tersebut sejak dulu.

Misalnya, ketika ia sudah mampu menghitung angka 1-30 dalam bahasa Inggris. Bagi Anda maupun anak lain, hal itu barangkali mudah. Tapi, siapa tahu ia mengalami kesulitan tertentu yang membuatnya sulit menghafal kosa kata dalam bahasa asing. Apalagi, tipe kecerdasan anak itu berbeda-beda.

Ketika anak sedang menyelesaikan sesuatu yang menurutnya sulit, ia akan berkata pada diri sendiri bahwa ia telah berhasil menyelesaikan pekerjaan berat. Jika Anda menyepelekan usahanya, maka anak akan berpikir bahwa dirinya bodoh dan tidak memiliki kemampuan mumpuni untuk berkembang.

2. Terlalu banyak membantu anak

Banyak orang tua yang berpikir bahwa ia tak ingin anaknya mengalami hidup susah sepertinya. Sehingga pada akhirnya ia berperan sebagai orang tua yang terlalu sering membantu anak dalam banyak hal.

Barangkali ini memang akan membuatnya sangat terbantu. Namun, hidupnya tak selalu berada di sekitar Anda. Sesekali, biarkan ia berusaha sendiri dengan kemampuannya. Membantunya terus hanya akan membuatnya lupa caranya berdiri dengan kakinya sendiri.

Biarkan ia belajar tentang kesalahan, kegagalan, dan berkeringat dengan usahanya sendiri. Saat hal itu terjadi, tugas Anda untuk membesarkan hatinya. Mengajarinya caranya belajar dari kesalahannya.

3. Mengungkit-ungkit kesalahan

Dari kesalahan, ia akan belajar menggunakan cara lain yang lebih efektif untuk membuatnya berkembang. Dari kesalahan ini, anak bisa belajar di mana letak kekuatan dan kelemahannya.

Manusia memiliki kemampuan untuk mengingat lebih baik hari-hari kesedihannya dibanding dengan hari bahagianya. Ia sudah sering mengingat kesalahan di dalam benaknya sendiri.

Artikel terkait: Mengajari anak Berlapang dada terhadap kegagalan.

Jika Anda menambahkan kesulitannya tersebut dengan mengungkit lagi kegagalannya, maka ia akan terus menerus mengingat dirinya sendiri sebagai orang yang gagal dan tidak punya kapasitas untuk sukses.

4. Membanding-bandingkannya dengan saudara kandung maupun orang lain

Banyak orang tua yang meyakini bahwa menyebutkan prestasi orang lain yang lebih tinggi di depan anak akan membuatnya lebih termotivasi. Hal ini malah sebaliknya, ia akan merasa diremehkan dan tak berharga di mata orang tuanya.

Orang yang sering dibanding-bandingkan akan cenderung lebih egois dan individualistis. Ia lebih senang berjuang untuk diakui kehebatannya daripada memperjuangkan sesuatu yang benar-benar penting.

5. Menciutkan mimpinya

Orang tua barangkali memang bersifat realistis dengan semua kondisi yang saat ini mungkin terjadi. Namun, berhati-hatilah, jangan-jangan Anda sedang menghancurkan mimpinya.

Membuat anak merasa bahwa mencapai impiannya adalah sesuatu yang mustahil akan membuat mentalnya jadi pesimis. Ia akan enggan berusaha karena ia merasa bahwa impiannya hanyalah bunga tidur belaka.

Apalagi, jika orang tua sudah merencanakan segalanya buat anak. Mulai dari sekolah sampai pilihan karir. Maka anak akan merasa bahwa hidup yang ia jalani bukanlah untuknya. Melainkan keinginan orang tuanya.

Anak yang besar dengan rencana hidup yang telah disusun oleh orang tuanya kebanyakan tidak bahagia. Ia justru akan menyesal karena ada banyak hal yang tidak sempat ia rasakan karena terlalu fokus memenuhi harapan orang tua hingga ia gagal menemukan makna hidup dan cita-citanya sendiri.

Anak yang kurang percaya diri akan memiliki pandangan negatif soal hidup. Ia juga akan merasa bahwa hidupnya terlalu keras karena apa yang ia usahakan cenderung akan gagal sehingga ia jadi lebih malas berusaha.

Orang tua yang sering menurunkan kepercayaan diri anak akan membuat anaknya merasa sulit untuk menjalin hubungan baik dengan teman maupun pasangannya. Karena ia merasa tidak pantas bahagia dan tidak tahu bagaimana caranya membahagiakan diri sendiri dan orang lain.

Selain itu, jika orang tua tak sengaja menurunkan kepercayaan diri anak, maka anak akan merasa sulit untuk memperhatikan kesehatannya karena ia cenderung tak peduli pada dirinya sendiri. Hidup yang ia jalani akan berjalan tanpa harapan dan gairah karena ia merasa bahwa pada akhirnya apa yang ia upayakan pada akhirnya akan gagal seperti dulu kala.

 

Referensi: Family Share, We Have Kids, Reach Out, CYH.

Baca juga:

Demi Kesehatan Mental Anak, Jangan Lakukan 7 Hal ini Pada Mereka

 





Better Parenting