4 Situasi yang Membuat Anak Diam-Diam Menangis di Belakang Anda

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Anak menangis sebenarnya adalah hal biasa. Yang jadi persoalan adalah jika anak senang diam-diam menangis sendirian. Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Kadang, orang tua tidak memikirkan dampak dari perbuatannya pada anak. Sehingga membuat anak diam-diam menangis , terutama saat malam hari.

Anak-anak sebenarnya adalah pribadi yang sensitif, terutama jika ia mengetahui bahwa ada kabar sedih di sekitarnya. Dalam beberapa kasus, jika seorang anak punya kecenderungan untuk diam-diam menangis, maka itu tanda bahwa mereka akan cepat menjadi pribadi yang dewasa.

Berikut hal yang membuat anak diam-diam menangis:

1. Anak mengetahui kabar buruk

Jika ada anggota keluarga yang sakit, meninggal, maupun musibah lainnya adalah satu hal yang membuat anak diam-diam menangis. Apalagi jika anak mengetahui bahwa orang tuanya sudah banyak menangis karena peristiwa tersebut.

Anak yang sudah lebih dewasa dalam berpikir akan merasa bahwa ia ikut menanggung masalah yang menerpa orang tuanya atau sekedar ingin meringankan beban orang tua dengan tak menangis di depannya.

2. Orang tua bertengkar di depan anak

Tak ada anak yang merasa baik-baik saja setelah melihat orang tuanya bertengkar. Apalagi jika pertengkaran tersebut menyangkut hal yang berhubungan dengan anak.

Misalnya jika pertengkaran itu menyangkut masalah finansial dan seputar pendidikan anak. Maka, anak akan merasa bahwa ia adalah salah satu penyebab pertengkaran.

Perasaan merasa bersalah sekaligus bersedih akan membuat anak menangis diam-diam, terutama jika pertengkaran tersebut berujung pada perceraian. Apalagi jika anak melihat orang tuanya menangis karena hal tersebut.

Bukan berarti orang tua dilarang sama sekali untuk bertengkar maupun beda pendapat di depan anak. Namun, menurut laman Family Share, hal yang berdampak sangat buruk pada anak adalah ketika ia mulai melihat orang tuanya saling memaki, berteriak, maupun melakukan kekerasan fisik pada pasangannya.

Artikel terkait: Tips aman bertengkar dengan pasangan di depan anak.

3. Bullying maupun kekerasan seksual

Tak semua anak mau bercerita pada orang tuanya bahwa ia menjadi korban bullying di sekolah. Karena, banyak anak cenderung tak ingin melibatkan orang tua dengan persoalan yang terjadi di sekolah.

Seorang perempuan usia 26 tahun mengatakan pada The Asian Parent bahwa pada saat usianya 9 tahun, ia sering menangis diam-diam saat jelang tidur karena bullying yang ia dapatkan di sekolah. Di sisi lain, ia tak berani melaporkan kasus bullying tersebut pada orang tuanya karena takut akan makin diejek oleh teman-teman sebagai si pengadu.

Kebanyakan anak-anak korban kekerasan seksual juga takut untuk bicara pada orang tuanya karena ia sendiri bingung dan tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Sehingga kebanyakan anak akan menyembunyikan rasa sakitnya. Apalagi jika pelakunya adalah orang terdekatnya.

Artikel terkait: Cara mendeteksi anak yang alami kekerasan seksual.

4. Diejek maupun dipukul oleh orang tua

Seorang Blogger usia 25 tahun bercerita pada The Asian Parent tentang pengalamannya menjadi anak yang sering menangis diam-diam. Saat usia 7 tahun, ia sering menangis diam-diam jelang tidur karena sering diejek oleh ibu dan tantenya.

Sebagai kakak usia 7 tahun dengan 3 orang adik, ia sering dihukum karena ia tak mau mengalah dengan adik-adiknya. Apalagi, ia akan mendapatkan hukuman jika ia menangis di depan orang tuanya.

Ia mengaku, bahwa pengalamannya sebagai anak yang sering menangis diam-diam membuatnya tumbuh menjadi orang yang tertekan dan tak percaya diri hingga dewasa. Sejak pertama kalinya menangis diam-diam, ia tak pernah lagi menyampaikan pendapatnya tentang sesuatu kepada orang tuanya maupun di depan umum karena ada perasaan takut salah dan takut dihukum.

Hingga kini, ia tak dapat melupakan pengalaman menangis diam-diam, sekalipun ia sudah berdamai dengan ibu dan tante yang sering membuatnya menangis.

"Mama saya pernah meminta maaf karena ia merasa bahwa dulunya ia sangat bodoh dalam hal parenting. Tapi saya tetap tak dapat melupakan peristiwa itu dan tak dapat memaklumi alasanya," ujarnya.

Parents, sebagai orang tua, barangkali kita memang pernah tak sengaja membuat anak menangis diam-diam. Namun, ada baiknya untuk lebih berhati-hati dan segera minta maaf jika telah melakukan kesalahan pada anak.

Segera minta maaf pada anak sangat penting untuk perkembangan mentalnya karena luka yang ia alami belum dalam. Orang tua juga perlu berbesar hati untuk mengakui kesalahan di depan anak.

Meminta maaf pada anak saat melakukan kesalahan bukan sesuatu yang memalukan kok, Parents. Hal itu justru akan membuatnya jadi pribadi yang berbesar hati saat dewasa nanti karena ia telah mendapatkan contoh yang baik dari orang tuanya.

 

Baca juga:

3 Trik Atasi Anak Menangis di Tempat Umum

 

 

Dapatkan info Terkini Seputar Dunia Parenting

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting Usia Sekolah