10 Fakta Kehamilan yang Tak Dikatakan Dokter Kandungan Anda

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Dokter kandungan adalah orang yang Anda cari ketika hamil, namun ada hal-hal yang mungkin luput ia beritahukan pada Anda. Berikut penjelasannya.

Hamil adalah proses yang luar biasa bagi seorang ibu, ia menjaga kehidupan selama sembilan bulan di dalam rahim. Rutin periksa ke dokter kandungan adalah hal yang diutamakan, agar ibu dan bayi sehat hingga melahirkan.

Mengacu pada tulisan di laman Fox News, ibu hamil selalu mendapatkan tips kesehatan saat mengunjungi dokter kandungan. Namun karena singkatnya waktu kunjungan, ada beberapa hal yang luput ditegaskan oleh sang dokter pada ibu hamil, berikut diantaranya.

1. Dokter bekerja untuk ibu hamil

Saat ibu hamil memilih dokter, dia memilih orang tersebut untuk memberikan pelayanan dan informasi. Sama halnya seperti mempekerjakan pelatih pribadi atau guru privat.

Meski kelihatannya dokter yang berwenang dalam segala hal menyangkut kesehatan, namun perlu diingat bahwa, Andalah yang berwenang dalam kehamilan Anda. Proses persalinan dan lainnya adalah sepenuhnya pilihan ibu, dokter hanya bisa memberi saran.

Jeanne Faulkner, seorang perawat di Portland menyatakan, “Dokter adalah pemandu bagi ibu hamil untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.”

2. Haid terlambat belum tentu hamil

Bila Anda menyadari menstruasi datang terlambat, jangan langsung periksa ke dokter. Lebih baik gunakan tes kehamilan di rumah terlebih dulu. Bila hasilnya positif, barulah mengunjungi dokter untuk mengetahui usia kehamilan.

3. Kehamilan adalah normal

Tubuh perempuan diciptakan untuk mengandung bayi. Meski kehamilan sering dirasakan sebagai hal yang luar biasa bahkan kadang menakutkan, sebenarnya hamil adalah sebuah proses normal bagi manusia. Karena bukan termasuk ke dalam penyakit, dan hampir semua wanita mengalaminya.

4. Jangan stres jika minum alkohol saat pembuahan terjadi

Bila Anda termasuk orang yang rutin minum alkohol, mungkin akan merasa cemas saat menyadari bahwa Anda hamil. Dan proses pembuahan janin terjadi saat Anda berada pada pengaruh alkohol.

Meski alkohol bisa menyebabkan mandul, namun konsumsi alkohol saat pembuahan terjadi tidak akan memengaruhi bayi. Tapi jangan pernah mengonsumsi alkohol selama kehamilan, karena bisa berdampak buruk bagi kandungan Anda.

5. Memilih bidan dibanding dokter kandungan

Bila Anda menjalani kehamilan yang normal dan sehat, sebaiknya lebih memilih pergi ke bidan dibanding dokter kandungan. Bidan melihat kehamilan sebagai sesuatu yang normal bagi perempuan, sehingga tidak akan membuat ibu hamil khawatir.

Sedangkan dokter kandungan adalah tenaga medis spesialis operasi, yang diperuntukkan bagi pasien dengan risiko tinggi. Mereka akan menggunakan uji lab, pemindaian dan sebagainya untuk mencari masalah kesehatan. Karena mereka terlatih untuk itu.

6. Ibu hanya perlu dua kali USG

Sepanjang proses kehamilan, ibu hanya perlu dua kali melakukan USG. Yakni pemindaian nuchal translucency (NT) yang dilakukan pada minggu ke 11 hingga minggu ke 12, beserta dengan tes darah. NT dilakukan untuk memeriksa apakah ada cacat lahir pada bayi, dan perkiraan waktu lahir

Yang kedua adalah USG yang dilakukan pada minggu ke 18 hingga minggu ke 21 untuk melihat jenis kelamin bayi.

7. USG tidak selalu bisa diandalkan

Alat USG memiliki keterbatasan, sehingga tidak 100% akurat. USG lebih akurat dilakukan pada semester pertama dibandingkan semester ketiga. Karenanya, dokter juga sering menggunakan tangan untuk mengukur berat bayi.

USG tidak selalu akurat

8. Mengetahui jenis kelamin bayi bukanlah hal wajib

Meski Bunda sangat penasaran dengan jenis kelamin bayi, sebaiknya menahan diri. Karena hasil dari pemindaian medis, belum tentu menyatakan jenis kelamin bayi secara akurat.

Banyak ibu yang terkecoh, karena saat pemindaian jenis kelamin menyatakan perempuan, namun ketika lahir bayinya laki-laki. Jadi sebaiknya tunggu saja sampai bayi lahir untuk mengetahui jenis kelaminnya.

9. Rencana melahirkan bukanlah sebuah kontrak

Rencana melahirkan biasanya didasarkan pada prakiraan lahir dari dokter, namun seringkali bayi lahir sebelum itu, atau malah setelah tanggal itu. Menyiapkan diri untuk proses persalinan memang bagus, namun bukan berarti harus ketat pada aturan dan rencana yang telah dibuat.

Ada banyak faktor tak terduga yang bisa terjadi saat proses persalinan, karena itu ibu hamil harus lebih fleksibel saat melahirkan dan tidak menuntut semua berjalan sesuai rencana.

10. Melewati tanggal perkiraan lahir bukan berarti bayi terlambat lahir

Ibu hamil dan petugas medis biasanya memilih menjalankan persalinan setelah usia kehamilan 40 minggu. Namun tanggal perkiraan lahir hanyalah sebuah tebakan. Nyatanya hanya 5% ibu hamil yang melahirkan sesuai tanggal perkiraan lahirnya.

Ibu hamil 42 minggu dianggap melebihi waktu kehamilan, namun sekitar 90 dari 100 ibu hamil akan mengalami konraksi sendiri dalam jangka waktu dua minggu.

Kehamilan lebih dari 40 minggu dikhawatirkan akan membuat ketuban tidak bekerja dengan baik. Tapi ini jarang terjadi, dan dokter memiliki alat yang bisa memantau kesehatan bayi.

Selengkapnya baca: Kehamilan Postmatur, Ketika Bayi Terlambat Lahir

Jadi, selama bayi belum lahir, ibu bisa menjalani pemeriksaan dan perawatan untuk memantau kesehatan bayi sebelum ia siap dilahirkan.

***

Semoga penjelasan in bermanfaat ya, Bunda.

 

Baca juga:

Akuratkah Alat Uji Kehamilan Anda? Dokter Menjawab Mitosnya!





Kehamilan