6 Tips Agar Anak Berhenti Ngempeng

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Banyak ibu yang mengeluh karena sulit melepaskan ketergantungan anaknya pada empeng. Padahal, anaknya sudah memasuki usia sekolah. Bagaimana cara menghilangkan kebiasaan ngempeng ini? Sejak usia berapa kebiasaan ngempeng harus dihentikan?

Bagaimana Cara Menghentikan Ngempeng

Ngempeng sebaiknya dihentikan sebelum usia 3 tahun.

Sejak dulu, empeng sudah digemari oleh anak-anak dan orang tua. Bagi anak-anak, kebiasaan ngempeng membuatnya nyaman dan dapat menjadi teman tidur ataupun bermain. Bagi orang tua, sering kali empeng dijadikan senjata ampuh untuk menghentikan tangisan anak. Karena itulah, kebiasaan ngempeng akhirnya berlanjut terus hingga bayi beranjak dewasa dan sulit dihilangkan.

Sebenarnya para ahli masih memperdebatkan dampak positif negatif empeng bagi anak. Di satu sisi, empeng dianggap dapat mengurangi resiko SIDS (Suddent Infant Death Syndrome) yaitu kematian mendadak pada anak usia sebelum 1 tahun yang penyebabnya hingga saat ini belum diketahui. Di sisi lain, empeng dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan gigi dan mulut.

Kapan harus menghentikan kebiasaan ngempeng? Menghentikan kebiasaan ngempeng sebaiknya dilakukan sebelum masa prasekolah atau usia 3 tahun. Semakin lama anak memiliki kebiasaan ngempeng, semakin sulit menghentikannya dan gangguan pada gigi dan mulut mungkin sudah mulai terjadi.

Bagaimana cara-cara yang dapat dicoba untuk menghentikan kebiasaan ngempeng? Berikut ini tips – tips yang diolah dari saran-saran Malia Jacobson :

Bantuan Boneka atau Teddy Bear

Bicaralah kepada anak agar ia mau berusaha meninggalkan empeng. Setelah ia menyetujuinya, belilah boneka atau teddy bear yang terbuat dari kain sehingga dapat dibongkar dan dijahit kembali. Ajaklah anak Anda membongkar boneka tersebut agar empeng dapat dimasukkan ke dalamnya, lalu jahit kembali. Biarkan boneka tersebut menjadi kenang-kenangan untuknya karena ada empeng kesayangannya di dalamnya.

“Menyumbangkan” empeng kepada bayi lain

Ajaklah anak Anda mengunjungi kerabat yang memiliki bayi. Lalu bujuklah agar anak Anda tergerak hatinya untuk “menyumbangkan” empengnya untuk bayi tersebut. Namun sebaiknya sebelum melakukan hal tersebut, latih dulu anak Anda untuk menyumbangkan barang lain yang ia tidak terlalu pedulikan kepada orang yang lebih membutuhkan, sehingga sifat dermawannya mulai terlatih.

“Peri Empeng”

Bersama anak Anda sebelum ia tidur, masukkan empeng ke dalam amplop untuk dikirim kepada “Peri Empeng”. Letakkan di kotak surat atau di suatu tempat agar Peri Empeng dapat mengambilnya di malam hari. Ketika anak tertidur, tukarlah isi amplop tersebut dengan sebuah hadiah. Esok paginya, seolah-olah empeng sudah diambil Peri Empeng dan sebagai gantinya anak Anda mendapatkan hadiah dari Peri Empeng tersebut.

Lubangi atau gunting empengnya

Selain cara-cara yang terkesan membohongi anak Anda, cara ini lebih sering dilakukan orang tua, yaitu menggunting atau melubangi empeng supaya sudah tidak nyaman untuk digunakan. Lama kelamaan, anak akan menyerah sendiri dengan empeng tersebut.

Stop ngempeng secara tegas

Ini adalah cara yang tidak menggunakan trik apapun. Cukup dengan ketegasan Anda untuk melarang anak mengempeng. Untuk cara ini Anda harus tega bila ia menangis atau sulit tidur di beberapa hari pertama. Namun setelah beberapa hari seharusnya ia sudah mulai bisa meninggalkan ketergantungannya pada empeng.

Mencelup empeng pada jamu pahit, bolehkah?

Sering kita jumpai bunda yang memanfaatkan jamu pahit atau cairan brotowali untuk dioleskan pada empeng, supaya si anak merasa pahit dan kapok dengan empengnya. Sebaiknya hal ini tidak dilakukan, karena perut anak masih sangat sensitif dan kita tidak tahu apakah akan ada reaksi yang tidak diinginkan bila jamu tersebut tertelan oleh anak.

 

Baca juga artikel menarik lainnya :

Batita Bayi 6-12 bulan Bayi baru lahir