Saya Membunuh Anak Saya

by Martha W  
Filed under Ibu-ibu, Keluarga
Saya Membunuh Anak Saya
space Saya Membunuh Anak Saya
Saya Membunuh Anak Saya

Saya pernah baca bahwa di setiap kehidupan, gerimis harus turun untuk membuatnya menarik dan bermakna. Tapi saya menciptakan badai dalam kehidupan suami saya tiga tahun yang lalu. Sebuah badai yang dia tidak ketahui.

Suami saya pebisnis dan saya guru piano. Kita memiliki tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan. Anak-anakku usianya dekat satu sama lain, hal ini bukan kejutan karena saya melahirkan tiap tahun. Ketika anak ke lima tiba saya tahu saya sudah merasa cukup. Saya memohon suami saya untuk vasektomi tapi dia menolak. Saya sadar bahwa pil pengendali kelahiran adalah hal yang bisa menjaga saya waras.

Tapi kita tahu bahwa pil, kondom dan metode pengendalian kelahiran lain hanya membantu sebanyak 99%. Dengan persentase keberuntungan seperti itu, yang 1% ternyata menjadi kehamilan saya yang ke enam.

Awalnya saya tidak tahu saya hamil, tapi ketika saya sering muntah dan perasaan berubah-rubah saya mencoba mengambil tes kehamilan untuk pastinya. Histeris sekali ketika sadar! Saya tak percaya ini terjadi untuk ke enam kalinya! Saya masih ingat pembantu menatap saya ketika saya mengutuk dalam berbagai macam dialek (untungnya suami dan anak-anak saya tidak ada di rumah). Saya mulai menangis tak terkendali dan memukul perut saya. Ini harusnya jangan terjadi. Saya sama sekali tak punya waktu dengan saya sendiri dengan lima monster yang sudah ada!

Saya tahu suami saya akan kukuh mempertahankan anak ini jika saya memberitahu dia. Dia selalu mengatakan pada saya bahwa 6 adalah angka keberuntungannya dan selalu berdoa bahwa kita akan punya anak lagi agar lima menjadi enam. Juga, sebagai penganut Katolik yang taat dan percaya pada keluarga besar, tak mungkin ia akan memberikan anak ini untuk adopsi atau hal yang lain. Saya tahu saya tak menginginkan anak ini dan saya harus menyingkirkannya sendiri. Jadi saya berdiri di atas tangga dan melihat ke bawah. Saya berdiri di ujung tangga dan menutup mata. Sebelum tubuh saya mundur ke belakang, saya berhenti. Saya tak sekuat itu.

Lalu saya berlari seperti maniak di rumah saya, dengan sengaja menabrakkan tubuh saya ke ujung meja dan piano yang tajam dan lain sebagainya. Tapi saya hanya memar dan anjing keluarga mengira saya bermain dengannya. Setelah menabrak vas dan kaca pecah di sekitar saya, saya mulai mencoba untuk masuk akal. Perilaku konyol ini harus berhenti dan saya harus mencari jalan keluar dengan serius.

Mencari Klinik

Maka setelah mencari beberapa tempat yang menawarkan jasa aborsi saya mencari yang terjauh dari rumah. Awalnya saya ingin menyebrang pematang tapi karena, untuk ke situ saya harus menjelaskan keberadaan saya pada semua orang rencana itu batal. Terlalu beresiko.

Hari itu Senin pagi. Saya masih ingat hari itu dengan jelas karena saya bangun merasakan hal yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Muda, bahagia dan penuh antusiasme untuk hari itu. Sampai saya menyadari bahwa ini adalah hari di mana saya akan membunuh bayi saya.

Saya memakai baju kesukaan saya dan menuju klinik. Saya merasa agak aneh dan seperti versi gila dari film ‘Rosemary’s Baby’. Setelah prosedur penandatanganan selesai, saya dibawa. Kata ‘merdeka’ muncul di kepala saya layaknya kilatan lampu neon.

Setelah sebuah perjalanan ke antah berantah dan kembali, saya bangun dengan sisa pembiusan. Istirahat sebentar saya bisa pulang dengan keadaan agak pusing. Di rumah saya meminta anak-anak dan pembantu untuk membiarkan saya sendiri karena saya kena flu berat.

Suami saya percaya akan kebohongan flu ini dan seisi rumah menjauhi saya cukup lama sehingga saya cukup waktu untuk beristirahat. Sekarang saya ibu yang bahagia dengan lima anak sehat dan istri yang puas karena tak ada yang tahu rahasia saya.

Ya aborsi buruk, aborsi kejam tapi bukankah membawa anak di dunia ini dan mengabaikannya adalah dua kali lebih buruk? Setidaknya dengan cara ini janin tak merasakan apapun!

*Nama dirubah untuk melindungi identitas penulis.


Vote This Post DownVote This Post Up (-15 rating, 9 votes 444)
Loading ... Loading ...

http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/email_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/stumbleupon_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/google_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/facebook_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/yahoobuzz_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/twitter_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/linkedin_48.png

You will like these as well

Conversations

67 Responses to “Saya Membunuh Anak Saya”
  1. umiyuyi says:

    sebenernya perasaan semacam baby blues syndrome itu bisa dimengerti, apalagi lima anak,hamil setiap tahun? mempertaruhkan nyawa tiap tahun? ngurus bayi merah tiap tahun? waw what amazing!, kebayang repotnya. apalagi kalo gak ada bantuan dari suami dan keluarga, ditambah persoalan rumah tangga lainnya… ckckck…berumah tangga itu memang tidak gampang. menjadi ibu itu tanggungjawab yang sangat berat. bayangin aja, anak kita sakit satu aja kita udah gak bisa tidur (baru satu..gmn lima?apalagi kal satu sakit, yang lain ketularan), gak masuk kerja, belom lagi kalo pembantu gak ada, ditambah ekonomi pas-pasan…., makanya banyak ibu-ibu jadi gila trus pada bunuh diri setelah sebelumnya membunuh anak-anaknya…
    anyway…hidup itu emang perjuangan, begitu juga menjadi ibu. amanah yang sangat berat.disitulah iman dibutuhkan.semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, yang kecil/besar, yg sadar/tidak, yg tersembunyi/kelihatan, yg sengaja/tidak sengaja dan semoga Allah memberi kita pelajaran dengancara yang bisa kita pahami. amin.

  2. Mrs. Alyanz says:

    Anak adalah anugerah Semua yg diberikan adalah rencana Tuhan Syukuri lah semua yg telah diberikan oleh Nya

  3. Fitri says:

    ini mah masalah personality mbak Martha n dipicu faktor eksternal,aborsi cuma salah satu dampaknya aja.Lebih baik mbak Martha ke psikiater or psikolog aja,masalh mbak tu kompleks bgt n butuh orang yg ahli di bidangnya.Juga butuh orang yang paham akan kondisi mbak.Semoga Allah SWT memaafkan mbak Martha n memberikan jalan yg terbaik utk mbak martha dlm ngejalanin hidup ini.Amin

  4. Donny says:

    Orang bijak bilang semua ada waktunya. Bahkan Tuhan mencipta juga ada waktunya. Oleh karena itu akan ada waktunya seluruh keluarga anda untuk tahu. Dengan menulis disini mungkin bisa membuat perasaan menjadi lega, tetapi perasaan itu tak akan hilang. Saya saran akuilah dan siaplah dengan konsekuensinya! Saran saya, buatlah anak lagi dan lahirkan dia. Sayangi dia dan kemudian beritahukan pada suami anda apa yang anda buat ini. Dijamin dia marah! Tapi dia sudah senang karena cita2nya punya anak 6 terwujud. Tuhan menyayangi anda!

  5. @ita says:

    saya ibu baru , baru saja nikah lalu baru saja melahirkan. Sedang berpikir tentang KB, membaca ini jadi bingung KB apa dan apakah menjamin. Hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan yg terbaik – terbaik pada waktunya dan untuk segala sesuatunya…Amin

  6. icha says:

    berusaha tdk menghakimi…
    berusaha berpendapat senetral mungkin krn jujur aku tdk berasa di posisi yg kurang lebih sama dengan mba
    karena aku jg tdk bisa membayangkan diriku di posisi mba tp akan kucoba membayangkannya…
    pastinya gag mudah mba…

    dr yg aku tangkap…mba bahkan uda coba KB yg hanya bs menjamin 99% dan tyt 1%nya melahirkan anak ke-6 (smoga Ia tenang disisi-Nya)…

    saranku mba, takutnya yg 1 terulang kembali…
    Mungkin bs vasektomi diam2 (duh ga recommend kali ya..namanya uda pny suami) atau coba KB yg lebih menjamin (ada ga ya?) habisnya takut ada yg ke-7 dst masa iya mau aborsi trs kan ya gag mungkin … dosa yg hrs mba pertanggung jawabkan (menghilangkan nyawa) sudah cukup besar… sebenarnya (aku yakin) mba akan selalu dihantui perbuatan mba… jd better stop it right now… jangan sampe mba…

    smoga menemukan kebahagiaan sejati

  7. mutia says:

    mba Martha W. kenapa ga pake IUD or steril sekalian sih..kayak tinggal di wilayah tertinggal saja. Toh anak udah 5. Anak yg wafat bisa jadi kifarat penebus dosa kita, tapi anak/jani tak bdosa yg dibunuh sama Ibunya… hii… Ibunya disumpahin ngga bakal masuk surga sama dia.
    Bertobatlah mba.. daripada sengsara dunia akhirat.
    First of all,langsung steril dl sekarang

  8. anonymous says:

    just to inform u

    abortion is “a back up for contraception” and thats the main idea for it

    most country can accept abortion before 12 weeks or 3 months. so there is no baby bone like in the sinetron or something like baby teeth can be found. if there was found some thing like that or it perform in older gestational age it calls fetocyde (fetal killing) not abortion or safe abortion

    90% couples or women under going abortion is not an unmaried couples, prostitute, or cheating couples but married couples with the same problem as the lady we are talking about and sometimes due to madical problems.

    the risk of pregnancy it self is more than twice abortion risk of mortality. still, pregnancy is a work of art that some of the problems is not 100% clearly understand worldwide. speak of the mortality rate of eclampsia (intoxication due to pregnancy), post partum haemorhage, infection, ect. and statistically, prengnancy is even more deadly than aircrash accident.

    there’s no any fertility control method or contracepton that can reasure you for 100% guarantee for no pregnancy.

    and do you know? IUD? do you think its not abortion? some of its type, is not preventing the conseption. its only prevent the implantation so the human zygote cannot stay in the womb and then die due to cannot perform implantation to the endometrium. so…. its your choice

    its not like the human thats want to play as god, but its the women it self has the right to choose about their life… please appreciate that

  9. agung says:

    aduh.. rasanya miris sekali membaca tulisan mbak. ngeri membayangkan kalimat yang mbak keluarkan untuk menyebut ke 5 buah hati anda. perasaan saya meyakini anda tidak punya rasa kasih sedikitpun kepada mereka ,dengan menyebut mereka MONSTER. 6 tahun yang lalu saya melahirkan anak pertama saya, dalam 9 hari saya sudah kehilangan dia. walaupun hari ini saya sudah dikaruniai 2 orang putri yang sehat2 dan cantik tapi rasa sedih saya akan kehilangan anak saya yang pertama masih saya rasakan sampai saat ini. mbak syukurilah apa yang Tuhan telah berikan kepadamu, bukankah dalam kristus kita selalu diajarkan untuk saling mengasihi. kasihilah buah hatimu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. saya kelak mereka akan memberikan kebahagiaan yang berlimpah untuk dalam hidup anda. jangan sebut mereka monster, bagaimanapun mereka tumbuh dan berkembang itu semua bermula dari bagaimana cara anda merawat dan bagaimana anda mendidik mereka. mereka akan jadi jahat kalau anda mengajari mereka yang jahat dan mereka akan menjadi baik kalau anda mengajari mereka yang baik. ingatlah anak2 adalah jendela hati orang tuanya.biar kesalahan pertama tidak terulang kembali, seperti yang lain jua menyarankan lebih baik anda saja yang disteril. semoga anda barsedia menerima saran kami semua.

    • molina rae says:

      untuk ibu agung..mempunyai anak adalah dambaan bagi semua ibu di dunia ini. tp dalam merawat dan membesarkan mereka tidaklah mudah. jgn menghakimi ibu yg mengaborsi tadi secara sepihak. kita semua sangat prihatin pd kasus aborsi tersebut tapi sudahkah kita mencari apa penyebab aborsi. si ibu td jelas sdh merasa kelelahan dan stres sedangkan sang suami sama sekali tdk peduli akan hal tersebut, bahkan masih ingin nambah anak. jd ada baiknya sebagai pasangan suami istri yg saling mencintai, memperhatikan pasangan masing2 dan saling membantu dalam segala hal..mungkin ibu agung sangat beruntung memiliki suami yg begitu perhatian, syukurilah hal tersebut dan doakan ibu2 di seluruh muka bumi ini yg kurang beruntung agar diberi kekuatan dan ketabahan melalui hidup yg berat dan penuh tantangan..saya turut berduka atas kehilangan yg ibu rasakan..terimakasih..

  10. novi says:

    salam mbak,
    saya tidak mau menyalahkan keputusan yang mbak ambil tetapi sangat sungguh disayangkan mbak melakukan aborsi. walaupun mungkin itu membuat mbak bahagia tetapi kenapa tidak mengendalikan kelahiran anak2 sebelumnya.Buat planning mau berapa punya anak? selain jeni2 kb yang disebutkan oleh mbak apakah pernah memakai spiral atau bila suami tidak mau divasektomi, apa mbak pernah konsul dengan dokter kandungan sebelumnya bagaimana mencegah kehamilan? karena saya punya teman, dia tidak boleh melahirkan lagi (setalah punya anak 3) dikarenakan ada darah tinggi. dokter menyarankan dia untuk disteril dan skrg dia sudah disteril dan teman saya adalah seorang Katolik yang taat. Sebelum melakukan hal tsb dia terlebih dahulu konsul dengan romo dan diperbolehkan. semoga apa yang sy share dapat menjadi masukan buat mbak.

  11. dian says:

    Saya bersyukur,ibu saya tidak punya pemikiran seperti anda,klo pun ibu saya punya pemikiran seperti anda,saya tetap bersyukur ibu saya tidak pernah melakukan aborsi karena saya adalah anaknya yang ke delapan dari sembilan bersaudara….dan saya pun telah menjadi seorang ibu…Semoga Allah mengampuni dosa2 anda……

  12. marina says:

    saya sekarang sedang hamil muda anak ke 6. Berat… sekali. Karena setiap hamil muda saya selalu ‘morning sick’. Saya dan suami sebenarnya ingin tidak punya anak lagi. Tapi kami menerima takdir itu karena yakin bahwa dari setiap keikhlasan menerima takdir Tuhan, pasti balasannya manis. Saya tidak keberatan punya anak, karena bagi saya bayi itu lucu. Saya sayang mereka walau kadang mereka membuat saya kesal. Tapi saya bisa berbangga ketika mereka berprestasi. Kami bukanlah orang kaya, tapi dari tahun ke tahun rezeki kami bertambah. Sehingga standar hidup kami, sama saja dari dulu sampai sekarang. Jadi boleh dibilang kami “kaya” anak. Biarlah, yang pasti harapanku sebagai ibunya, saya ingin anak2 saya bisa tampil membangun dunia (setidaknya dunia mereka sendiri), dan mereka akan berkata:”Ibukulah yang memulai segala sesuatunya…”. Kalau pun tidak, Tuhan Maha Melihat apa yang saya lakukan, mudah2an menjadi bekal di alam sana.

  13. dhanny says:

    Menurut saya,suami anda sama bermasalahnya. Apa hubungannya anak dengan angka enam keberuntungan itu? Jika memang penganut katolik taat,mengapa percaya tahyul? Apakah dalam ajaran katolik diajarkan untyuk melakukan segala hal sesuai dengan “angka keberuntunhan”? Tidak heran si istri jd stres dan tega aborsi. Coba dilihat sehari2,bgaimana kontribusi sang ayah dalam membesarkan kelima anak yg lain.apa dia ikut bangun saat anaknya rewel di malam hari? Apa dia ikut menemani saat sang istri ysng sdh lelah mengurus empat nyawa kecil terpaksa terjaga jam 3 pg demi mnyusui anak yang kelima? Apakah sang suami pernah menanyakan si istri mengenai apa yang membuat istri bahagia? It took two for tango.rumah tangga tak bs dijalankan sndirian.jngan krena istri yg hamil dan melahirkan lalu dianggap perawatan dan pengasuhan anak adalah tanggung jawab ibu seorang.si ibu sampe aborsi juga ada tanggung jawab suami.memang,anak adlah anugerah dan jika tuhan sudah mengatakan “jadilah”,sebesar apaun usaha menolak tk. Mngkin berhasil.saran saya,ajak suami bicara mengenai kondisi anda.jika iya benar penganut katolik yabg baik,yg percaya bahwa istri ada untuk disayang dan dilindungi bukan untuk dijadikan pemuas nafsu dan ambisi serta obsesi sperti obsesi pd angka enam td,ia akan mengerti.andalah iobu,yang paling mengerti.tuhan membuat proses kehamilan dan kelahiran tidak mudah tentu ada sebabnya. Ia memberi dan mengambil kembali tentu ada pula sebabnya.yakinlah itu

  14. torasham says:

    Sepertinya ada salah persepsi dalam diri bu Martha..
    Anak adalah kekayaan yg terharga. Saya pribadi juga kurang setuju akan vasektomi tsb, karena biar bagaimanapun mencegah kehamilan = mencegah anugrah dari Tuhan.

    Saya punya 5 anak yg jg jaraknya dekat, tetapi saya percaya bahwa ALLAH memberikan kita hidup yg cukup. Maksud saya, kalo anak kita cuman seorang, maka ALLAH pasti memberi kita rezeki untuk 3 orang demikian seterusnya. Ini anggapan pribadi saya. Mohon untuk diketahui, saya adalah pegawai administrasi rendahan…tapi sejauh ini baik2 saja dalam masalah ekonomi, karena saya percaya akan rahmat ALLAH.

  15. joe says:

    Dari pengalaman org2 yg pernah melakukan hal seperti mbak, mrk dihantui seumur hidup dan pada saat diujung umur, itulah saat2 yg paling … (maaf tdk tega menyebutnya). Dan kebetulan saya diberi kesempatan menyaksikan kehidupan mrk hingga meninggal. Mbak bukan org pertama dan (mungkin) juga bukan terakhir. Perbanyaklah mendekatkan diri pada Tuhan, semoga Tuhan dapat memaafkan apa yg Mbak lakukan.

  16. Uci Gauthama says:

    Dear u….

    Saya sedih sekali membaca cerita Anda. Saya adalah seorang ibu dari seorang putri kecil yang cantik. Dan saya amata sangat bersyukur dengan anugrah Allah ini. Ibu saya mempunyai 5 anak dengan berbagai macam keunikan dan kebandelan masing-masing, tapi ibu saya tidak pernah mengeluh dan tidak pernah menganggap kami MONSTER…seperti yang Anda sebut untuk lima buah hati Anda.
    Sebaiknya Anda saja yang steril, jangan menyalahkan suami Anda yang tidak mau di vasektomi. Kalau Anda memang ingin membatasi kehamilan kenapa bukan Anda yang berkorban??? Kenapa harus bayi tak berdosa Anda yang harus dikorbankan. Mungkin Anda bisa bilang bahwa sekarang Anda adalah sorang ibu dan istri yang bahagia……but sure, di hati kecil Anda pasti akan ada penyesalan sumur hidup karena Anda sudah membunuh bayi Anda.
    Cobalah berpikir jernih……bagaimana jika Anda yang menjadi bayi korban aborsi dengan alasan yang teramat egois seperti yang Anda utarakan???????

theAsianparent Conversations. Jump in!

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Spam protection by WP Captcha-Free

      Mensponsori

    Arsip TheAsianParent

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Populer Sekali Stories

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Mengikuti theAsianparent.com

        Mensponsori