Rasa Bersalah Orangtua yang Bekerja

by Ron Afable  
Filed under Keluarga, Umum
TheAsianParent: Helping Parents in Singapore, Malaysia, Indonesia and Hong Kong
space Rasa Bersalah Orangtua yang Bekerja
Karier atau Mengasuh Anak

Ketidak mampuan dalam memberi perhatian kepada anak karena bekerja, mengakibatkan banyak orangtua digerogoti dengan perasaan bersalah. Bahkan mereka yang bekerja dari rumah pun dapat mudah terganggu oleh rasa bersalah seperti itu.

Banyak di antara kita yang “terbebani” dengan rasa bersalah ini, hanya mencoba untuk mengabaikannya sebisa mungkin. Tapi berita yang mengejutkan: dengan cara seperti ini maka kita sedang sangat tidak adil kepada diri kita sendiri. Hidup dengan rasa bersalah adalah seperti mengemudikan mobil dengan rem tangan di atasnya. Perasaan negatif ini akan selalu menguras energi Anda,  selalu bisa membuat Anda merasa sengsara. Singkirkan beban tambahan ini dengan memecahkan masalahnya sekali untuk selamanya.

Saya selalu menangani problema dengan kembali ke akar permasalahan sehingga kita bisa mengatasinya secara objektif, dan untuk menghadapinya secara objektif berarti mengubah sudut pandang kita tentang problem itu.

Mari kita awali dengan latar belakang yang mendasarinya:

Dua dari perseteruan rasa bersalah pada anak/ bekerja yang umum:

1.  Pendapatan Keluarga Ganda

Selama 20 tahun terakhir, tempat kerja yang semula didominasi pria secara signifikan telah berevolusi  menjadi tempat bagi perempuan, bahkan sampai tingkat anak tangga yang tertinggi sekalipun. Gagasan tradisional bahwa perempuan terikat pada ikatan perkawinan dan hanya bisa tinggal di rumah setelah lulus kuliah sekarang sudah menjadi hal di masa lalu.

Tidak masalah jika salah satu orangtua bekerja di rumah – dia masih harus menjauhkan diri dari anak saat sedangbekerja (jika tidak, ia tak bisa berbuat apa-apa!)

Pekerjaan vs rasa bersalah pada anak terutama jelas terlihat pada masa pertama anak usia 3 sampai 4 tahun. Ini adalah masa-masa pembentukan anak-anak kita dan wajar saja jika Anda berharap untuk dapat menghabiskan setiap menit waktu bersama mereka.

2. Orangtua Tunggal

Mungkin sulit bagi pria untuk mengakui hal ini, tetapi orangtua tunggal wanita lebih rentan terhadap “rasa bersalah orangtua bekerja” dibandingkan dengan seorang laki-laki. Bagi kebanyakan kaum pria, kita dapat dengan mudah menitipkan anak pada orangtua kita atau mertua sehingga kita dapat berfokus pada karier kita. Kita lebih suka anak kita terjamin secara finansial daripada menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya, namun membiarkan dirinya dalam keadaan kekurangan.

Alasan paling umum dari terus bekerja meskipun rasa bersalah:

1. Keuangan

Tagihan harus dibayar. Pendidikan anak-anak yang tidak murah, dan ketika mereka masuk perguruan tinggi, maka semakin merogoh kantong kita. Orang tua tunggal tidak punya pilihan lain selain pergi keluar dan bekerja. Pendapatan keluarga ganda pun  melakukannya untuk memenuhi kebutuhan. Itu fakta kehidupan.

2. Terjebak dengan tanggung jawab

Orangtua tunggal tidak punya pilihan lain.  Dia terjebak dengan tanggung jawab pergi bekerja untuk memastikan ada makanan di meja. Bagi keluarga berpenghasilan ganda, Bisa jadi ayah memiliki bisnis yang sangat menguntungkan atau suatu pekerjaan dengan penghasilan tinggi yang sangat memuaskan untuk keluarga; dan sang istri mewarisi bisnis keluarga yang tidak dapat dimiliki oleh orang lain.

3. Gaya Hidup yang dipilih

TheAsianParent: Helping Parents in Singapore, Malaysia, Indonesia and Hong Kong
space Rasa Bersalah Orangtua yang Bekerja
 

Cathy teman saya adalah seorang akuntan dengan MNC. Dia bekerja dengan mengendarai truk pick-up keluaran baru yang akan membuat para pria tergiur. Dia bisa membeli mobil, tapi dia suka ukuran dan kekuatan dari truk dengan 230 tenaga kuda, 4.7 liter, V-8 mesin. Plus, dia juga mampu membelinya. “Ini (gaya hidup bekerja) adalah hal yang terbiasa bagi saya. Saya telah bekerja sepanjang hidup saya dan, kecuali untuk cuti pendek setelah melahirkan bayi saya, saya tidak bisa membayangkan diri saya tinggal di rumah. ”

Ketika ditanya tentang hubungannya dengan bayinya, dia mengakui bahwa dia berharap dirinya dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang bayi, tetapi dia menambahkan, “Jika aku akan memaksa diri untuk menjadi ibu sepenuh waktu, saya kira saya akan menjadi gila!”

Rasa bersalah orangtua bekerja  mungkin timbul dari salah satu alasan, atau kombinasi atau ketiganya,dari alasan yang dinyatakan di atas. Tapi apa yang dimaksud rasa bersalah?

Rasa bersalah adalah apa yang Anda rasakan jika Anda berpikir (terlepas dari validitas pikiran Anda) bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang salah. Bersalah adalah perasaan subjektif. Umumnya, rasa bersalah adalah perasaan jengkel jika kita merasa kita terpaksa mengurangi suatu standar tertentu – pertanyaannya  adalah: Standar siapakah itu?

Apakah Anda dipengaruhi oleh ibu mertua Anda yang memandang dengan tidak setuju sambil menggelengkan kepala? Apakah tetangga Anda yang berkata, “Bagaimana Anda mampu meninggalkan anak Anda ke pengasuh sepanjang hari”?

Mari kita kembali ke tiga alasan mengapa orang tua mesti bekerja seperti dikutip di atas. Anda dapat melihat dengan jelas  bahwa ketiga  alasan tersebut sah (bahkan alasan teman saya Cathy) bahwa tak  seorangpun perlu merasa bersalah. Jangan terpengaruh oleh apa yang dikatakan maupun dipikirkan orang lain  – sebab perlu kau ketahui, jauh di dalam, mereka iri akan karir Anda yang sukses.

Hanya jangan lupa untuk menyeimbangkan karir Anda dengan waktu Anda untuk bayi Anda (dan saya tidak bermaksud agar mengatur waktu yang sama untuk pekerjaan dan anak Anda). Anda mungkin tidak bersama anak Anda sebagian besar dari waktunya sehari-hari namun Anda bisa memberikan waktu yang berkualitas saat Anda pulang ke rumah. Anda dapat menjadwalkan hari dalam seminggu (dan maksudku tidak selalu harus setiap minggu) yang semata-mata hanya Anda curahkan untuk  menjalin ikatan dengan bayi Anda.

Para orangtua tersayang, hal ini adalah tentang keseimbangan dan perspektif yang tepat. Anda harus berpikir keras tentang alternatif untuk tidak pergi bekerja. Tapi kemudian, Anda akan dihadapkan dengan serangkaian masalah lain yang pasti selalu berhubungan dengan kondisi finansial. Atau jika Anda seperti teman saya Cathy, Anda akan tidak bahagia dan sengsara bila terjebak di dalam rumah: ini pun dapat mempengaruhi hubungan Anda dengan anak Anda.

Tidak ada yang sempurna, hidup ini adalah tentang membuat pilihan sepanjang jalan. Selama Anda tidak lupa prioritas Anda, Anda berada pada jalur yang benar. Hitunglah berkat-berkat dan nikmati pasang-surut pola pengasuhan yang modern.

Silahkan bookmark artikel ini dengan media sosial, suara Anda iperhatikan dan dihargai:


Share on Facebook

button1 share Rasa Bersalah Orangtua yang Bekerja


Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/email_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/stumbleupon_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/google_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/facebook_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/yahoobuzz_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/twitter_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/linkedin_48.png

You will like these as well

theAsianparent Conversations. Jump in!

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Spam protection by WP Captcha-Free

    Arsip TheAsianParent

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Populer Sekali Stories

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Mengikuti theAsianparent.com

    • Starhub Security

    • SpongeBob at Sea

    • Nestle Menu Planner

    • Sponsor

    • Find us on Facebook