Pengorbanan Bukanlah Cinta!
Filed under Hubungan, Keluarga, Kesengsaraan proses bertindak sebagai orang tua, Nasihat
Kebanyakan orangtua mendapatkan dorongan yang kuat dari keinginan mencintai. Banyak di antara mereka bersedia melakukan apa pun untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak mereka. Kini semakin banyak kalangan profesional, baik pria maupun wanita, yang rela menukar karier mereka yang menjanjikan untuk menjadi pengasuh purna waktu bagi anak-anak mereka (istri saya adalah salah satunya). Jumlah ibu dan ayah yang tinggal di rumah selama purna waktu kini semakin meningkat tajam.
Beberapa orang menganggap hal ini sebagai pengorbanan, sementara orang lain menganggap tindakan itu sebagai perwujudan dari rasa cinta. Garis batas antara cinta dan pengorbanan seringkali tidak jelas, namun perbedaan antara kedua hal ini sangat dapat memengaruhi pengalaman seseorang sebagai orangtua. Kita sering mendengar orangtua mengeluh: “Bagaimana mungkin kau melakukan ini kepadaku setelah semua pengorbanan yang kulakukan untukmu?”
Lumrah saja bagi seorang anak untuk membalas ucapan itu dengan polis (dan akan terlihat sebagai sikap yang tidak tahu berterimakasih): “Memangnya kapan saya meminta Anda berkorban untukku?”
Kata-kata anak seringkali mengandung kebenaran. Kebenaran biasanya menyakitkan. Dan seringkali penyebab dari rasa sakit hati atau penderitaan kita itu bersumber pada konsepsi kita yang keliru tentang realita. Kabar baiknya adalah mengetahui kebenaran akan sangatlah melegakan. Hal itu dapat membukakan mata kita untuk melihat hal-hal dari perspektif baru dan untuk melakukan tindakan baru untuk mewujudkan pengalaman yang kita inginkan.
Berkorban berarti meninggalkan atau merelakan sesuatu yang bernilai tinggi demi hal-hal lain yang seseorang anggap lebih berharga. Orangtua seringkali salah memahami pengorbanan dengan cinta yang tanpa mementingkan diri sendiri (selfless love), padahal pada kenyataannya, pengorbanan adalah aksi untuk melayani diri sendiri (self -serving act) yang didorong oleh hasrat seseorang untuk mencapai sesuatu yang dia idealkan. Pada saat kita mulai menghargai tindakan pengorbanan sebagai tindakan memilih untuk mendedikasikan waktu dan energi seseorang untuk melakukan sesuatu yang kita anggap lebih penting dari yang lain, maka terbukti sebuah pengorbanan tidaklah bersifat ‘tidak mementingkan diri sendiri’ (selfless). Yang lebih sering terjadi adalah , pengorbanan adalah tindakan melayani diri sendiri (self-serving) yang membantu menghilangkan rasa bersalah karena tidak dapat memenuhi idealisme diri sendiri tentang apa yang dilakukan atau semestinya dilakukan oleh orangtua yang ‘baik’.
Namun demikian, self-serving atau melayani diri sendiri tidak selalu berarti negatif. Sangatlah manusiawi untuk melakukan hal-hal sesuai hasrat untuk mencari kesenangan dan menghindari penderitaan. Mencintai anak sendiri adalah bentuk lain dari melayani diri sendiri yang dapat melahirkan rasa bahagia. Kita memiliki kemampuan untuk mencintai dan butuh dicintai. Menjadi orangtua mempresentasikan kita dengan sejumlah peluang untuk mewujudkan rasa mencintai, sedangkan pernikahan memenuhi kebutuhan untuk dicinta.
Rasa cinta orangtua pada anak seringkali disebut sebagai bentuk cinta yang paling ‘murni’. Untuk mencintai seorang anak sudah pasti berarti menerima mereka apa adanya. Dengan kata lain untuk menerima mereka apa adanya (dengan segala kekurangan), apa pun kondisinya. Namun demikian kita cenderung menyangkalkan anak kita di bagian-bagian yang juga kita sangkal dari diri sendiri, biasanya secara tidak sadar. Kelanjutannya adalah kemampuan menerima anak-anak kita sebagaimana apa adanya, biasanya mungkin terjadi apabila kita sendiri sudah menerima diri sendiri sebagaimana apa adanya.
Bukanlah rahasia untuk mengatakan bahwa mencintai anak-anak harus diawali dengan mencintai diri sendiri. Kebajikan ini telah dikenal orang sejak ribuan tahun lalu. Buddha pernah mengatakan “Kau, dirimu sendiri, seperti halnya mahluk lain di seluruh jagad raya, berhak untuk mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang darimu sendiri.” Yesus juga mengajarkan kepada kita untuk “mencintai tetanggamu sebagaimana mencintai diri sendiri”. Sebelum kita dapat mencintai dan menerima diri sendiri secara utuh, bagimana mungkin kita dapat mencintai anak-anak kita dengan sepenuh hati?






(+15 rating, 7 votes 444)






Facebook
Twitter
To sacrifice or not is a personal choice and I personally do not think it is doing our kids any good by saying things like “I gave up my career to look after you…”. To say that to a child is not being responsible for your own action and is not something that I’d like to teach my kids. Perhaps parents who end up feeling that way expects something in return from their children, and perceive their choice as another ‘career’ to pursue?
yup…. Paradigma Orang Tua (indonesia) ;terkadang mejalankan peran sebagai orangtua , selalu berperan menjadi orang yang paling benar, dan menempatkan diri diatas karena labeling “orang tua”,ada batasan antara orang tua dan anak.. karena tidak mengerti secara mendasar alasan atau tujuan memiliki punya anak…
masalah pengorbanan… bagi saya itu hanyalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai orang tua.. seseorang yang memutuskan memiliki anak artinya sudah siap menerima apapun resikonya, sekecil apapun resikonya..
so, perlakukanlah anak anda secara manusiawi.. apapun nantinya dia, seperti apa dia nantinya, tetap perlakukan secara manusiawi…