Memahami Agresi: Apa yang Perlu Dilakukan ketika Anak Anda Memukul atau Menggigit Anak Lain.
Filed under Anak yang lebih tua, Disiplin Anak Yang Lebih Tua, Pertumbuhan Anak Yang Lebih Tua
Baru-baru ini, putri saya sedang bermain bersama anak laki-laki tetangga kami, ketika anak itu menggigit pipinya. Ibunya segera meminta maaf kepada kami, dan menjelaskan bahwa anaknya cukup sering menggigit dan hanya melakukannya “karena rasa kasih sayang.” Dia terus membenarkan kebiasaan menggigit anaknya dengan penjelasan dan permintaan maaf saat kami mencoba menenangkan tangisan putri kami yang berusia 18-bulan itu. Tak ada yang dilakukan kecuali hanya memberi teguran pada anaknya. Tanpa banyak bicara, kami tidak lagi menerima tawaran bermain dengan anak tetangga ini. Dan kami juga waspada kapan pun anak itu berada di sekitar gadis kecil kami.
Penyebab Agresi
Sikap agresi yang sesekali diperlihatkan pada masa kanak-kanak sangat umum pada usia satu sampai tiga tahun ketika mereka memukul dan menggigit karena berbagai alasan – meniru teman, sakit karena sedang tumbuh gigi, frustrasi atau sedang menguji sebab dan akibat. Menurut American Academy of Child dan Adolescent Psychiatry, berbagai bentuk agresi fisik pada anak-anak cukup umum karena mereka belum belajar cara mengendalikan emosi mereka.
“Menggigit adalah hal yang sangat alami bagi anak-anak kecil yang tidak pandai menjelaskan segala hal kepada orang lain karena mereka baru mulai mengerti dan memahami bahasa. Jadi, ketika mereka sangat marah dan frustrasi, hal yang mudah hanyalah menggigit,” kata instruktur Early Childhood Education, Jennifer Hardacre.
Mencegah lebih baik daripada Menyembuhkan
Selalu lebih mudah untuk mencegah suatu kebiasaan daripada untuk menghentikannya. Setiap kali Anda melihat anak Anda mulai memukul atau menggigit Anda atau anak lain, tahanlah serangan ini sebelum timbul kontak fisik. Tegaskan tujuan Anda dengan peringatan keras, “Itu tidak boleh!”
Jika anak tidak dapat mengatasi ledakan emosi seperti ini, dekap dirinya dalam posisi terkunci yang lembut di mana ia tidak dapat menyakiti dirinya sendiri atau siapa pun sampai ia tenang. Atau, Anda mungkin ingin memberi dia zona ‘time-out’ yang sesuai dengan usianya.
Akhirnya, bicaralah dengannya dan jelaskan mengapa memukul atau menggigit tidak diperbolehkan. Menggunakan kata-kata seperti, “Tangan kita tidak untuk memukul,” atau “Menggigit sakit.”
Pikirkan dengan baik agar anak tahu bahwa perbuatan dan perilaku sedemikian yang tidak Anda sukai dan bukan anak itu.
Di atas semua itu, kenalilah rasa frustrasi anak atau pun amarah dan bantulah dirinya untuk mengenali emosi itu dan memberinya sebutan. Ajarkan dia untuk mengungkapkan secara verbal emosi itu daripada melakukannya secara fisik. Tunjukkan bahwa ketika dia merasa marah atau kecewa, anak boleh berkata, “Saya marah karena …” atau “Saya marah dengan …”
Pertegas Posisi Kepemimpinan Anda
Ketika mencegah mereka untuk memukul atau menggigit, kebanyakan anak akan menjawabnya dengan air mata atau menantang. Cara orangtua bereaksi menghadapi hal ini, penting untuk perilaku masa depan anak. Melihat air mata mengalir di wajah anak mereka sudah cukup untuk meluluhkan hati sanubari dari setiap orangtua. Banyak orangtua salah-kaprah mengganti kesabaran dan kasih sayang dengan sikap non-disiplin dan anak-anak cepat menangkap ‘tumit Achilles’ ini. Orangtua lain mengalami kesulitan menangani sikap anak mereka yang menantang, dan bersembunyi di balik pernyataan-pernyataan seperti: “Anak lelaki memang begitu” atau “Itu cuma sebuah fase.”
Penelitian telah menunjukkan bahwa perilaku masa kanak-kanak agresif yang tidak diperbaiki, menghasilkan orang dewasa dengan kecenderungan akan kekerasan. Oleh karena itu, memang bijaksana apabila orang tua bersikap tegas pada otoritas mereka sebagai pemimpin dari keluarga dan dengan jelas mendefinisikan apa yang dianggap sebagai perilaku yang berterima di dalam rumah dan saat berinteraksi dengan orang lain di luar rumah.
Faktor lain
Sementara beberapa perilaku menggigit dianggap normal, menggigit atau memukul berulang-ulang mungkin menunjukkan masalah perilaku yang lebih serius sehingga memerlukan campur tangan ahli. Anak-anak yang secara teratur memukul, menggigit atau mencakar bisa jadi memperlihatkan emosi mendasar seperti cemburu, ketidaksukaan, ketidakbahagiaan, atau kecemasan. Setelah kebutuhan ini terpenuhi, agresi akan hilang secara alami.
Naomi Aldort, penulis Raising Our Children, Raising Ourselves, mengklaim bahwa anak-anak berperilaku agresif sebagai mekanisme pertahanan dari perasaan mereka yang “tak berdaya.” Dia merekomendasikan bermain permainan kekuasaan seperti ‘Simon Says’ dan menggabungkan kegiatan yang sesuai anak yang memberi kesempatan bagi anak untuk punya sedikit kendali atas rutinitas keluarga.
Terlalu sering menyaksikan program televisi kekerasan bisa jadi pemicu lain atas sikap agresi dan orangtua harus memantau menu tontonan anak-anak mereka dengan sangat hati-hati.
Hal lain yang sedikit dikenal sebagai biang kerok telah dikaitkan dengan perilaku masa kanak-kanak agresif adalah Salisilat. Hal ini ditemukan oleh Dr Benjamin Feingold, seorang dokter anak dan Kepala Alergi di Kaiser Permanente Medical Center di San Francisco. Salisilat adalah zat kimia yang umumnya ditemukan di aspirin dan banyak makanan alami, dan diyakini menjadi salah satu penyebab gejala ADHD (perilaku mengganggu, gelisah, impulsif dll).
Sementara banyak orangtua yang malu dan ngeri dengan tingkah laku anti-sosial anak mereka, mereka dapat menghilangkan pola ini dengan keluar dari penyangkalan, mengubah situasi, mengajar alternatif yang bisa diterima daripada menggigit dan memberikan pengawasan lebih dekat. Sebagaimana layaknya semua perilaku yang menantang, orang tua diingatkan untuk melatih pola asuh positif secara konsisten dengan memuji anak mereka karena perilaku yangberterima bahkan saat mereka sedang berusaha untuk menghilangkan tanggapan dan reaksi yang tidak berterima tadi yang mungkin menimbulkan kekhawatiran bagi semua yang terlibat.






(No Ratings Yet)






Facebook
Twitter