Kapan Saat Tepat Memberitahu Anak Dia Adalah Anak Adopsi?

Stay Happy
Masih ingat, betapa malu hati dan kagetnya saya ketika bertemu seorang teman lama dan mengomentari betapa wajah anaknya mirip dengan dia. “Syukur deh, berarti Tuhan baik sama gue, dia anak yang saya adopsi,” katanya dengan enteng di depan sang anak. Kaget, karena tak menyangka dia bakal seterus terang itu. Belakangan dia bilang, dia dan suami memang sengaja sepakat akan memberitahu status sang anak sejak dini, agar tidak kaget. Yang penting anak harus tetap tahu bahwa dia dicintai, bahkan blessed karena punya dua pasang orangtua yang mencintainya.
Tak seperti yang ditakutkan orang-orang tua jaman dahulu, anak-anak itu tumbuh manis, dan bisa menerima dirinya apa adanya, karena sudah dipersiapkan sejak kecil. Ini berbeda dengan kasus yang dialami seorang tante saya, mati-matian menyembunyikan status anaknya. Alhasil setelah dewasa sang anak yang baru diberitahu jadi syok dan sempat memutuskan hubungan dengan orangtuanya.
Kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk memberitahu status anak bahwa dia diadopsi? Jawabannya memang beragam. Dr. Steven L. Nickman dari Child Psychiatric Clinic di Massachusetts General Hospital, Boston, menganjurkan usia yang ideal adalah antara 6-8 tahun. Pada saat itu anak umumnya sudah memiliki dasar hubungan yang kuat dengan keluarga adopsinya sehingga tak merasa terancam saat harus memahami soal adopsi. Anak-anak usia pra sekolah menurutnya masih memiliki ketakutan akan kehilangan cinta orang tua angkatnya. Dalam proses pengenalan tentang adopsi ini, orang tua harus lebih mengedepankan pengertian bahwa setiap anak –entah dia diadopsi atau tidak – selalu dikandung dan dilahirkan dari rahim seorang ibu.
Nickman tak menganjurkan orang tua menunggu sampai anak memasuki masa dewasa untuk memberitahu status adopsi. “Berterus terang pada usia itu akan sangat merusak self-esteem si anak, juga kepercayaan mereka pada orang tua,” tegas Nickman.
Sedikit berbeda dengan Nickman, Denrich Suryadi, M. Psi dari Pusat Bimbingan dan Konsultasi Psikologi Universitas Tarumanagara, beranggapan usia ideal bukanlah dasar yang tepat dalam mengungkapkan status adopsi anak. Hal itu dikarenakan setiap anak memiliki perkembangan kematangan psikologis masing-masing. Dalam hal ini, orang tualah yang perlu mengamati dan melihat taraf kesiapan anak untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.
“Apabila anak bertanya dan orang tua menganggap anak belum siap, orang tua bisa memberikan jawaban yang netral, yang lebih mengingatkan betapa orang tua sangat mencintai, atau bagaimana anak tak perlu ragu tentang cinta kasih orang tuanya.”
Bila tak disiapkan dengan hati-hati, usia berapa pun bisa membawa resiko. Usia remaja misalnya sering disebut sebagai masa labil, karena remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri, mendadak harus menerima kenyataan bahwa ia bukan anak kandung. Konsekuensinya cenderung negative terhadap self-esteem si remaja, dan beresiko menjerumuskan anak pada hal negative, apabila ia belum siap menerima kenyatan.
Denrich menganjurkan beberapa langkah yang dapat diambil oleh orang tua. Pertama, orang tua harus memerhatikan kondisi yang mungkin terjadi, serta konsekuensi positif-negatif yang mungkin terjadi. Kedua, perhatikan kesiapan psikologis anak untuk menerima kenyataan tersebut. Ketiga, siapkan langkah-langkah untuk selalu memperhatikan si anak karena mereka akan cenderung menjadi lebih sensitif setelah mengetahui statusnya sebagai anak adopsi. Keempat, orangtua juga harus bisa bersikap adil serta empatik terhadap perasaan si anak, terutama apabila si anak memiliki kakak/adik yang merupakan anak biologis dari orangtuanya. Siapkan pula si kakak/adik untuk tidak bersikap negatif terhadap si anak tersebut. Langkah keempat ini memang sulit dan harus dipersiapkan dengan baik oleh orangtua sebelum memberitahukannya kepada si anak. Kelima, beritahukan serta meminta bantuan kepada anggota keluarga lain untuk membantu proses ‘penyembuhan batin’ si anak setelah mengetahui kabar tersebut. Caranya cukup sederhana, yakni dengan tidak mengubah bentuk perhatian, serta bersikap lebih peka terhadap anak. Terakhir, bila orangtua membutuhkan pendampingan lebih pada si anak, ada baiknya meminta bantuan profesional seorang psikolog yang berpengalaman.


Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/email_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/stumbleupon_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/google_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/facebook_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/yahoobuzz_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/twitter_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/linkedin_48.png

Most Commented articles

theAsianparent Conversations. Jump in!

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Spam protection by WP Captcha-Free

    Arsip TheAsianParent

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Populer Sekali Stories

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Mengikuti theAsianparent.com

    • Starhub Security

    • SpongeBob at Sea

    • Nestle Menu Planner

    • Sponsor

    • Find us on Facebook