Depresi Saat Hamil

Setiap orang berharap Anda tetap ceria selama masa kehamilan, namun nyatanya depresi lebih umum terjadi daripada yang kita pikirkan.Bagaimana rasanya jika mengalami Depresi Sebelum Melahirkan-Antenatal Depression? Christina Rutherford membagikan ceritanya dengan theAsianparent.

Indian Family
space Pregnancy Depression
Here’s looking at you babe


Hai nama saya Christina Rutherford dan umurku 24 tahun. Kehamilan saya cukup normal, kecuali nyatanya saya mengalamai Antenatal Depression (AD) dalam bulan ketujuh kehamilan!

Seperti yang dapat Anda bayangkan, perasaan itu memang mengerikan. Aku tidak mau bekerja, berbicara dengan siapa pun, dan saya bahkan tidak menginginkan bayiku. Saya akan memikirkan cara-cara untuk menginduksi persalinan dini hanya supaya aku tidak akan hamil. Aku tahu itu kedengarannya mengerikan, namun itu semua sampai ke titik yang sangat mengerikan sehingga keluarga saya benar-benar melihat adanya perubahan dan berusaha mendapatkan bantuan untuk saya. Saya akhirnya memutuskan untuk menelepon Dokter, yang segera memberi saya obat anti-depresi, yang terbukti amat membantu.

Sebelum terjadi AD, tunanganku dan aku begitu gembira karena akan mempunyai anak. Bahkan, kami mulai menyiapkan segala sesuatunya berbulan-bulan sebelum aku melahirkan bayi ini. Aku telah menyiapkan kamarnya saat berumur delapan bulan! Namun ketika kami berada di penghujung bulannya, secara alamiah kami agak cemas mengingat ini kali pertama kami menjadi orangtua!
Saat Melahirkan

Aku diinduksi pada 9 September 2007, pukul 5:30 di pagi hari. Dokter menyarankan bahwa jika aku tidak segera induksi (saya sudah mendekati 39 minggu) aku mungkin tidak akan mampu mendorong bayinya keluar padahal aku sudah cukup besar (kami mengharapkan bayi dengan berat 4 kg).

Ketika ia menginduksi saya, saya telah melebar sekitar dua cm. Ketika mereka memeriksa saya empat jam kemudian, saya hanya 2 1 / 2 cm. Aku hanya bisa bertanya-tanya apakah obat itu memang bekerja. Akhirnya  sekitar pukul 10 malam, saya air ketubanku pecah. Pada saat itu saya mangalami kontraksi  setiap tiga sampai empat menit dan datangnya begitu cepat dan menyakitkan.

Sekitar pukul 3:30, aku mencapai empat cm dan mendapat Epidural. Suatu ketikadi malam hari, sekitar pukul 6  Dokter saya datang dan berkata ia tidak menyukai detak jantung bayi saya yang berpacu sehingga Dokter memasukkan monitor internal untuk memeriksa bayi saya. Jam 6:30, ia memberitahu saya bahwa suhu badan kami berdua naik hingga hampir 39 derajat celcius dan tekanan darah saya melonjak melewati ambang  batas. Selain itu, detak jantung bayiku menurun setiap kontraksi. Semua hal ini, ditambah dengan kenyataan bahwa aku hanya mampu membesar sampai lima cm, akhirnya membuat dokter memutuskan untuk melakukan c-section.

Dua hal yang saya khawatirkan pada waktu itu adalah putri saya dan fakta bahwa epidural saya tidak berguna! Jadi mereka harus memberikan aku anestesi total segera mungkin! Ketika aku masuk ruang operasi mereka memberiku obat itu sebanyak tiga dosis. Ketika kami berpikir bahwa obat yang terakhir berhasil,  saat mereka mulai memotong aku merasakan semuanya!!

Tunanganku, yang sudah panik sebelum ini, bahkan semakin panik lagi setelah mendengar hal itu! Saat masa pemulihan, Dokter saya bilang bahwa tali pusatnya melilit di leher dan kakinya. Tapi ia adalah seorang bayi perempuan yang benar-benar sehat. Kami berdua diinfus antibiotik setiap enam jam selama empat hari. Kemudian kami diijinkan untuk pulang ke rumah.
Dari Editor

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2001 oleh Dr Jonathan Evans di Universitas Bristol, sekitar sepuluh persen wanita mengalami beberapa bentuk depresi selama kehamilan. Jika Anda merasa Anda menderita dari suasana hati yang terpuruk maka Anda harus berbicara dengan dokter umum, gynea atau seseorang yang bisa Anda percaya. Dokter mungkin bisa menyarankan bentuk-bentuk bantuan seperti konseling. Jika depresi parah, mereka mungkin menyarankan saja antidepresan yang akan aman untuk dikonsumsi selama kehamilan.

Ingin berbagi cerita kelahiran Anda? Drop kami mail dengan cerita dan gambar Anda di labourstory@theasianparent.com. Harap sertakan nama Anda dan alamat lengkap dengan cerita Anda.


Vote This Post DownVote This Post Up (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/email_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/stumbleupon_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/google_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/facebook_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/yahoobuzz_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/twitter_48.png http://id.theasianparent.com/wp-content/plugins/sociofluid/images/linkedin_48.png

You will like these as well

theAsianparent Conversations. Jump in!

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

Spam protection by WP Captcha-Free

    Arsip TheAsianParent

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Populer Sekali Stories

    Latest 20, 21-40, 41-60, 61-80, 81-100

    Mengikuti theAsianparent.com

    • Starhub Security

    • SpongeBob at Sea

    • Nestle Menu Planner

    • Sponsor

    • Find us on Facebook