<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia parenting advice for orang tua, bayi, wanita, ibu, dan pasangan muda &#187; Anak Remaja</title>
	<atom:link href="http://id.theasianparent.com/articles/category/anak-remaja-indonesia/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://id.theasianparent.com</link>
	<description>The Online Home for Parents in Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Jul 2010 09:00:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sihir Penghargaan</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/sihir_enghargaan</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/sihir_enghargaan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2010 05:57:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Faridah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Anak yang lebih tua]]></category>
		<category><![CDATA[Kelakuan Anak Lebih Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Kesengsaraan proses bertindak sebagai orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Memperkaya]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat Dari Orang Tua Lain]]></category>
		<category><![CDATA[Waktu Kwalitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/?p=4742</guid>
		<description><![CDATA[Kadang-kadang anda bisa mendengar orang-tua berbicara, "Baik, mereka siapa?" Kami bekerja begitu keras untuk memberi makan mereka, rumah mereka, mereka sebaiknya berterima kasih kami!” hati-hati baik akrab kepada anda? Saya tidak mengenal anda, tetapi saya adalah salah satu yang perlu dididik untuk mencintai anak saya tanpa syarat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-4741" title="appreciating" src="http://theasianparent.com/new/wp-content/uploads/2009/10/appreciating-150x150.jpg" alt="appreciating 150x150 Sihir Penghargaan" width="150" height="150" />Dua orang anak perempuan saya di dapur berjam-jam. Mereka berdua menolak untuk membiarkan saya maupun suami saya masuk sedangkan mereka sibuk di kerja. Kedengarannya seperti mereka sedang memasak angin topan! Akhirnya mereka menghasilkan nampan kue cangkir yang paling bagus yang pernah saya lihat. Coklat yang diatasi dengan surat hijau dan biru yang berwarna-warni diatur ke dalam dengan kalimat: &#8220;Ibu dan Ayah kami mencintai anda dari kami&#8221;.</p>
<p>Kami sangat bahagia dan sangat rayu. Kue sangat enak. Tanpa Keragu-raguan saya mengatakan, &#8220;saya begitu diberkati, terima kasih gadis untuk menaruh usaha banyak memasakan kue ini bagus dan enak, Aku Sayang Kamu juga!&#8221; Saya cukup yakin mereka merasa dihargai untuk usaha mereka kedua dihabiskan. Kue ialah bonus, nilai nyata terletak di cinta kami meraba.</p>
<p>Kegembiraan sebenarnya melihat mereka begitu dekat, menikmati, membicarakan dan bekerja sama di dapur. Saya percaya ini adalah orang-tua yang mana ingin untuk melihat dan pengalaman &#8212; pertalian tulus di antara keturunan mereka dan tentu saja ucapan tanpa batas cinta mereka mempunyai bagi kami.</p>
<p>Saya berterima kasih sehari-hari. Bagi kami untuk mempunyai hubungan penyayang ini seperti pengairan tanaman sehari-hari. Kami sudah belajar membuat hubungan dengan pelukan dan komunikasi positif. Saya melihat mereka melakukan sesuatu tepat dan saya cepat untuk memuji mereka. Dengan mengakui mereka kami mengeluarkan potensi kebaikan mereka dan menguatkan mereka. <em>Kami menunjukkan bahwa kami menghargai mereka tidak oleh prestasi akademis mereka tetapi hal kecil dilakukan mereka sehari-hari.</em><em> </em></p>
<p>Beberapa tahun lalu, saya dengan tak sadar waspada terhadap hal &#8217;salah&#8217; dan menumpukan di seperti itu kelakuan. Tidak ada pengakuan positif dan kekurangan pasti penghargaan atas bagian saya. Saya mesti menghadiri banyak seminar dan percakapan radio atas proses bertindak sebagai orang tua serta kursus perkembangan diri untuk mengerti pentingnya hal yang sangat sederhana suka mengatakan, &#8220;Aku Sayang Kamu&#8221;; &#8220;Terima Kasih, saya begitu diberkati.&#8221;</p>
<p>Kadang-kadang anda bisa mendengar orang-tua berbicara, &#8220;Baik, mereka siapa?&#8221; Kami bekerja begitu keras untuk memberi makan mereka, rumah mereka, mereka sebaiknya berterima kasih kami!” hati-hati baik akrab kepada anda? Saya tidak mengenal anda, tetapi saya adalah salah satu yang perlu dididik untuk mencintai anak saya tanpa syarat.</p>
<p>Bagaimana saya melakukannya? Saya belajar mencintai sendiri. Saya hilang &#8216;ketua-tuaan&#8217; saya dan melupakan pengkondisian tua.<br />
<em>Saya frustrasi dengan kehidupan saya karena saya mencoba begitu keras memperbaiki anak saya lebih baik daripada membereskan sendiri. </em>Saya memikirkan terlalu banyak mengenai mereka. Saya belajar tentang kebebasan anak. Saya tahu itu sulit, tetapi waktu anda dilepaskan, mereka mau datang ke anda. Kalau anda berpegang pada mereka mereka tidak bisa nafas dan merasa dilemaskan. Anda mungkin berpikir, &#8220;saya tidak ingin mereka salah&#8221;. Baik kebenaran ialah, kesalahan menolong kami belajar. Lebih baik daripada menyuruh mereka ke kursus, saya menghadiri di kursus dan berganti sendiri. Karena saya mencintai mereka, saya sudah belajar mempunyai jiwa dan itu mempunyai baru saja. Mereka diberi cukup bebas untuk membuat keputusan dan mempelajari ketrampilan kehidupan lain. Saya mencintai sendiri dan oleh karena itu saya mempunyai lebih banyak cinta untuk memberi mereka sejak saya dipenuhi. Pekerjaan saya akan menuntun mereka, dan cinta mereka tidak menguasai mereka tergantung ide bentuk saya.</p>
<p>Dolly Yeo adalah pelatih kepala dan pendiri Mindset Coaching yang berspesialisasi dalam hidup yang melatih. Dia adalah Results Certified Coach (Australia) dan seorang anggota Federasi Pelatih Internasional, Singapura. Dia adalah juga Active Parenting Certified Leader serta Certified Parent Facilitator for Parenting Workshops. Anda bisa mencari tentang  Dolly Yeo dan Mindset Coaching di http://www.mindset-coaching.com atau untuk berlangganan laporan berkala bebasnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/sihir_enghargaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kapan Anak Boleh Punya Binatang Peliharaan?</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/kapan-anak-boleh-punya-binatang-peliharaan</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/kapan-anak-boleh-punya-binatang-peliharaan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 06:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pangesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Anak yang lebih tua]]></category>
		<category><![CDATA[Disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[binatang peliharaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/?p=7681</guid>
		<description><![CDATA[Kapan waktu terbaik memperkenalkan anak untuk memiliki hewan peliharaan Artikel ini lengkap membahasnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7683" title="1228369_persian_kitten" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/1228369_persian_kitten-150x150.jpg" alt="1228369 persian kitten 150x150 Kapan Anak Boleh Punya Binatang Peliharaan?" width="150" height="150" /></p>
<p>Putri tertua saya sejak kecil suka sekali pada anjing, tapi kami terus menunda-nunda membelikan anjing untuknya. Sampai di ulang tahunnya yang ke 8, akhirnya saya belikan dia seekor anjing Shihtzu. Ia suka sekali dan terlihat sangat menyayangi anjingnya. Tapi namanya juga anak-anak, lama-lama dia sering lupa menyisiri lambut Titi yang memang harus rajin disisir.</p>
<p>Setahun setelah Titi kami beli, tiba-tiba saja dia jatuh sakit, bahkan kemudian tak tertolong lagi dan kemudian mati. Putri saya tentu sangat terpukul, tapi kejadian itu spontan membukakan mata saya, bahwa kami terlalu cepat membelikan binatang peliharaan untuk Kitkit.</p>
<p>Kejadian itu lantas menjadi pelajaran berharga yang selalu saya bagi dengan teman-teman yang ingin membelikan binatang peliharaan untuk anaknya. Dalam sebuah artikel yang tidulis oleh Antique dan Fadila Fikriani Armadita untuk vivanews,  pada 13 September 2009 disebutkan rekomendasi binatang peliharaan yang cocok untuk anak-anak seperti yang direkomendasikan oleh aspca.org.</p>
<p>Beberapa di antaranya mengatakan:</p>
<p>Bayi<br />
Bayi tak bisa memegang dan berhati-hati pada hewan peliharaan. Apabila Anda memiliki hewan peliharaan dan anak Anda baru saja lahir, berhati-hatilah, jangan sampai si kecil dilukai oleh hewan peliharaan.</p>
<p>Balita<br />
Pada usia ini, si kecil sedang aktif bergerak. Mereka akan penasaran dan merasa gemas dengan hewan peliharaan. Jangan sampai pula si kecil memegang tempat makan kucing atau anjing kesayangan. Bahkan, jika Anda memiliki ikan kecil pada aquarium, ada baiknya jauhkan dari jangkauan si kecil.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7685" title="1046659_turtle" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/1046659_turtle-150x150.jpg" alt="1046659 turtle 150x150 Kapan Anak Boleh Punya Binatang Peliharaan?" width="150" height="150" /><br />
Usia 3-5 Tahun<br />
Pada usia 3-5 tahun, anak-anak belajar berkomunikasi dan berempati. Anda bisa mengajari si kecil memberi makan hewan peliharaan. Buah hati pasti senang dilibatkan dalam memberi makan hewan peliharaaan.</p>
<p>Memasuki usia lima tahun ke atas, anak mulai menunjukkan ketidakkonsistenannya. Mereka mulai menyukai hewan-hewan yang kecil, seperti marmut atau ikan mas. Mereka sangat senang membersihkan kandang, mengisi air, memberi makan, dan menghias kandang si hewan peliharaan. Tapi, pastikan anak-anak membersihkan tangan usai bermain dengan si hewan.</p>
<p>Dalam artikel tersebut juga dijelaskan bahwa anak-anak berusia 10-13 tahun sudah memiliki respon yang bagus terhadap binatang peliharaan. Juga sudah bisa diajari member makan, mengajak jalan-jalan atau membersihkan kandang.  Untuk anak 14-17 tahun yang sudah mulai sibuk dianjurkan untuk memelihara burung atau ikan.  Jika buah hati beranjak dewasa, tak ada salahnya orangtua memelihara anjing atau kucing sebagai kawan di rumah.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7682" title="745346_little_memo" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/745346_little_memo-150x150.jpg" alt="745346 little memo 150x150 Kapan Anak Boleh Punya Binatang Peliharaan?" width="150" height="150" /><br />
Tidak terlalu sulit untuk menentukan kapan si kecil boleh punya binatang peliharan bukan? Kata kuncinya adalah harus terlebih dahulu menanamkan pemikiran bahwa memelihara binatang memerlukan tanggung jawab yang besar.</p>
<p>Sayangnya di Indonesia belum ada petshop yang bisa menyewakan hewan peliharaaan sehari dua hari agar anak/calon pemilik bisa mengira-ira sebesar apa tanggung jawab yang harus dipikul bila memilih memelihara binatang peliharaan.</p>
<p>Artikel lengkap dapat dibaca di: http://kosmo.vivanews.com/news/read/89949-binatang_peliharaan_yang_tepat_untuk_anak</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/kapan-anak-boleh-punya-binatang-peliharaan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Beres-beres Rumah Bersama Anak!</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/ayo-beres-beres-rumah-bersama-anak</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/ayo-beres-beres-rumah-bersama-anak#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 01:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pangesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Anak yang lebih tua]]></category>
		<category><![CDATA[Disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[Disiplin Anak Yang Lebih Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Beres-beres rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/?p=7689</guid>
		<description><![CDATA[Mengajari anak beres-beres rumah dapat membantu anak-anak menjadi bertanggung jawab dan menjadi dewasa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7690" title="695106_doll_house" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/695106_doll_house-150x150.jpg" alt="695106 doll house 150x150 Ayo Beres beres Rumah Bersama Anak!" width="150" height="150" /><br />
Pernah punya pengalaman sulit mengajak anak-anak membersihkan kamarnya sendiri? Wah&#8230;berarti Anda tidak sendirian kok. Banyak orangtua lain juga mengalami hal yang sama. Rasanya sudah 1000 kali diberitahu, tapi sepulang kantor, Anda tetap menemukan kamar mereka superberantakan. Kesal&#8230;pastilah begitu perasaan Anda, tetapi menurut sebuah penelitian terakhir, mengajari anak beres-beres rumah dapat membantu anak-anak menjadi bertanggung jawab dan menjadi dewasa.</p>
<p>Dalam artikel berjudul &#8220;7 Trik Melatih Anak Merapikan Rumah&#8221; yang dimuat pada 28 November 2009 di vivanews.com, Petti Lubis dan Lutfi menulis, penugasan bisa dimulai dengan meminta si kecil merapikan mainannya setelah selesai bermain. Dengan cara ini bisa secara otomatis melatih ketrampilan mengatur barang sekaligus melatih mereka belajar menghormati orang lain.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7691" title="673519_blue_house" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/673519_blue_house-150x150.jpg" alt="673519 blue house 150x150 Ayo Beres beres Rumah Bersama Anak!" width="150" height="150" /></p>
<p>Charlie Taylor, Kepala Sekolah di salah satu Sekolah Dasar di AS, dan penulis buku &#8216;The Secrets to Having a Much Better Behaved Child&#8217;, juga mengatakan, penugasan-penugasan kecil untuk anak bisa dimulai sejak mereka berusia 3 tahun. Karena akan lebih mudah melatih mereka ketika usianya masih muda.</p>
<p>“Dengan cara ini bisa melatih mereka membangun rasa tanggung jawab,” katanya seperti dikutip dari mirror.co.uk life and style.</p>
<p>Caranya tentu beragam, mulai dari menetapkan rutinitas untuk melatih tanggung jawab, memberikan pujian bila anak rajin beres-beres (tapi bukan menyuap lho), hingga memberi contoh cara beres-beres dan membuat tim kerja dengan anak.</p>
<p>Khusus untuk memberikan pujian,  Profesor Julian Elliot berpesan: &#8220;Jangan membayar anak-anak untuk melakukan tugas,&#8221; kata profesor dari Durham University&#8217;s School of Education. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa tidak satupun anak akan bekerja setelah mereka diberikan bayaran. Lebih baik berikan pujian, terutama jika mereka membantu tanpa diminta, biarkan mereka bangga dengan pekerjaan dilakukan dengan baik.</p>
<p>Jadi tunggu apa lagi, segera beri contoh dan buat tim kerja serta jadwal beres-beres dengan si kecil. Awalnya mereka hanya senang untuk bermain atau mungkin malas-malasan. Tapi jika Anda dapat menciptakan suasana yang seru saat beres-beres, mereka akan segera belajar dari rutinitas ini.</p>
<p>Artikel selengkapnya di: http://kosmo.vivanews.com/news/read/109523-7_trik_melatih_anak_merapikan_rumah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/ayo-beres-beres-rumah-bersama-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Sampai Cintamu&#8230;&#8217;membunuhnya&#8217;.</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/jangan-sampai-cintamu-membunuhnya</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/jangan-sampai-cintamu-membunuhnya#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 01:23:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pangesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Anak yang lebih tua]]></category>
		<category><![CDATA[Disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[Disiplin Anak Yang Lebih Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Kelakuan Anak Lebih Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Anak Yang Lebih Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Perlatihan Anak Yang Lebih Tua]]></category>
		<category><![CDATA[cara mendisiplinkan anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/?p=7560</guid>
		<description><![CDATA[Rasa cinta yang berlebihan terhadap anak terkadang bisa menutup mata orangtua bahwa anaknya mungkin telah melakukan perbuatan yang kurang baik. Jadi bila ada tetangga atau teman yang melaporkan hal negatif tentang anak...jangan buru-buru meradang. Selidiki dulu kebenarannya agar Anda bisa menentukan langkah yang tepat. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6943" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-6943" title="toddler" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/10/toddler-150x150.jpg" alt="Disiplin yang dikombinasikan dengan rasa cinta akan lebih efektif mendisiplinkan anak" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Disiplin yang dikombinasikan dengan rasa cinta akan lebih efektif mendisiplinkan anak</p></div>
<p>&#8220;Cinta ini membunuhku&#8221;, begitu lirik lagu band D&#8217;Masiv. Itu memang lagu tentang sepasang kasih yang sedang berpacaran. Tapi sebetulnya&#8230;untuk urusan mendidik anak, cinta seorang ibu atau ayah, seringkali bisa &#8216;membunuh&#8217; sang anak.<br />
Kejadian yang dialami seorang teman lama saya mungkin bisa dijadikan contoh. Suatu hari, ia menelepon sambil menangis, curcol soal putranya yang diskor sekolah karena tertangkap basah merokok. Dengan berapi-api dia bilang &#8220;Gila tuh guru, anak gue kan alim, soleh&#8230;mana mungkin dia ngerokok&#8230;nggak tahu kali dia siapa gue.&#8221;</p>
<p>Di balik telepon, saya mesem-mesem saja. Soalnya, reputasi negatif putra teman saya ini sudah kelewat kondang sejak bocah ini masih berusia pra sekolah dulu. Sayangnya teman saya ini penganut filsafat &#8220;Right or Wrong my Son&#8221; pokoknya apa pun yang dilakukan oleh anaknya selalu benar, dan anaknya tak pernah berbuat salah.</p>
<p>Waktu anaknya masih di TK dulu, saya ingat dia juga pernah marah-marah kepada guru TK yang melaporkan kelakukan buruk anaknya suka merebut makan siang teman sekelasnya.  Padahal, memang itu yang terjadi. Tapi alih-alih menyelidiki kebenaran laporan tadi, dia malah memindahkan anaknya ke sekolah lain. Begitu seterusnya, setiap kali ada laporan negatif tentang anaknya, teman saya ini membela mati-matian tanpa pernah mau mengetahui dengan pasti seperti apa tingkah laku anaknya.</p>
<p>Bisa dipastikan apa yang dilakukannya adalah wujud rasa cinta dan sayang, plus penyangkalan. Boleh jadi teman saya ini juga gengsi mengakui kalau ia gagal mendidik anak. Boleh jadi juga, dia menganggap setiap kelakukan buruk anak bisa diatasi dengan sekadar mengatakan &#8220;nggak boleh begitu ya,&#8221; tanpa ada teguran yang keras ataupun tindakan pendisiplinan yang sesuai dengan usia anak.</p>
<p>Ini yang lalu saya bilang mirip dengan lirik lagu D&#8217;masiv &#8220;Cinta ini membunuhku&#8221;. Atas dasar cinta teman saya mati-matian melindungi putranya tanpa sadar bahwa dengan begitu ia telah &#8216;membunuh&#8217; kesempatan bagi sang anak untuk tumbuh menjadi anak yang baik.</p>
<p>Anda tentu tidak ingin hal ini terjadi pada anak Anda bukan? Solusinya sebenarnya gampang saja kok. Sekarang sudah ada begitu banyak buku yang bisa memandu Anda untuk menjadi orangtua yang penuh kasih sayang, namun tetap bisa mengajarkan etika, budi pekerti dan disiplin kepada anak. Dan kalau ada tetangga atau guru yang melaporkan hal negatif tentang anak&#8230;jangan buru-buru meradang (kecuali kalau sang informan memang biang gosip yang suka adu domba orang) Justru harusnya Anda berterima kasih, karena telah diberi &#8216;petunjuk&#8217; mudah untuk lebih mengenal anak Anda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/jangan-sampai-cintamu-membunuhnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya baju apa yang yang cocok untuk anak?</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/gaya-baju-apa-yang-yang-cocok-untuk-anak</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/gaya-baju-apa-yang-yang-cocok-untuk-anak#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 08:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pangesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Anak yang baru belajar berjalan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak yang lebih tua]]></category>
		<category><![CDATA[Berbelanja]]></category>
		<category><![CDATA[baju anak]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/?p=7536</guid>
		<description><![CDATA[memilih baju anak yang nyaman, gaya tetapi tetap tidak meninggalkan kepolosan anak memang susah-susah gampang. Anda punya tip-tipnya? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/P.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7537" title="bubblegirl" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/P-150x150.jpg" alt="bubblegirl" width="150" height="150" /></a>Bagi kebanyakan ibu, punya anak perempuan rasanya seperti punya &#8216;pelampiasan&#8217; baru untuk menyalurkan hobi mendandani boneka seperti waktu kecil dulu. Begitu tahu akan melahirkan bayi perempuan, biasanya ibu-ibu langsung heboh, sibuk belanja bando kecil, rok kecil, sepatu kecil&#8230;</p>
<p>Setelah anak perempuan Anda tumbuh besar pun kehebohannya mungkin makin menjadi-jadi. Tidak jarang si kecil bahkan didandani seperti layaknya orang dewasa. Pakai sepatu atau selop berhak tinggi lah&#8230;rok super mini dengan potongan mirip baju orang dewasa lah&#8230;ujung-ujungnya faktor kenyamanan dan kesehatan anak jadi terabaikan. Sepatu atau selop berhak misalnya tak baik untuk kesehatan kaki anak. begitu pula dengan baju yang terlalu terbuka atau ketat.</p>
<p>Nah, seperti apa ya baiknya mendandani anak? silakan sharing jika ibu-ibu memang punya pengalaman. Sementara itu, artikel di link ini mungkin bisa membantu memberi inspirasi. Sekarang sudah banyak kok produk baju khusus untuk anak yang membuat anak terlihat cantik dan menarik tanpa harus kehilangan kepolosannya sebagai anak.</p>
<p><a href="http://www.ayahbunda.co.id/Advertorial/Topik+Umum/kejutan.november.gelar.fashion.anak.dan.tema.utama/006/001/31/all/0/1"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/gaya-baju-apa-yang-yang-cocok-untuk-anak/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manfaatkan Batik untuk Mengenalkan Budaya Bangsa</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/manfaatkan-batik-untuk-mengenalkan-budaya-bangsa</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/manfaatkan-batik-untuk-mengenalkan-budaya-bangsa#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 06:55:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pangesti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Anak yang lebih tua]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kearifan lokal]]></category>
		<category><![CDATA[warisan budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/?p=7715</guid>
		<description><![CDATA[Batik bisa dijadikan sarana untuk mengenalkan budaya bangsa. Bagaimana dengan Anda di negara Anda? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7716" title="batik anak" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/batik-anak-150x150.jpg" alt="batik anak" width="150" height="150" /></p>
<p>Perayaan Hari Batik Nasional 2 Oktober lalu benar-benar membuat saya bangga. Sebagai orang Jawa yang salah satu gudangnya batik, terharu rasanya melihat karya bangsa Indonesia diakui dunia.</p>
<p>Rasanya bersemangat sekali ketika sekolah tempat anak saya menuntut ilmu mewajibkan anak memakai batik agar lebih menghargai karya bangsa ini. Uniknya batik yang dikenakan boleh bebas. Sehingga setiap hari kamis atau jum&#8217;at sekolah terlihat ceria dengan warna-warni batik.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7946" title="DA011S-slip-dress-batik" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/12/DA011S-slip-dress-batik-150x150.jpg" alt="DA011S slip dress batik 150x150 Manfaatkan Batik untuk Mengenalkan Budaya Bangsa" width="150" height="150" /></p>
<p>Ini adalah langkah mengenalkan budaya bangsa yang sangat baik. Buktinya anak-anak saya langsung kepingin tahu. Ini batik Pekalongan, Madura atau dari mana? Apa arti gambarnya? Mengapa yang ini warnanya cokelat yang itu warnanya merah, dan sebagainya.</p>
<p>Jakarta Fashion Week 09/10 lalu pun juga mempertunjukkan fashion show batik khusus untuk anak. Agaknya sebagai orangtua kita memang bisa memanfaatkan banyak hal untuk mengajarkan budaya. Entah itu lewat fashion, kesenian atau bahkan makanan sekalipun.</p>
<p>Anda punya ide lain untuk memperkenalkan kekayaan budaya bangsa pada anak? Mari berbagi<img class="alignleft size-thumbnail wp-image-7717" title="daster batik" src="http://id.theasianparent.com/wp-content/uploads/2009/11/daster-batik-150x150.jpg" alt="daster batik" width="150" height="150" /><a href="http://video.vivanews.com/read/6286-anak_sekolah_dan_pns_antusias_memakai_batik_1">anak-anak pakai batik</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/manfaatkan-batik-untuk-mengenalkan-budaya-bangsa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak hiper-aktif</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/hiper-aktif_anak_alan_yip_orangg-tua_nasihats</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/hiper-aktif_anak_alan_yip_orangg-tua_nasihats#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 01:32:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Asian Parent</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/new/hyperactive_kids_alan_yip_parenting_tips</guid>
		<description><![CDATA[Alan Yip, pendiri Mind Edge dan pengarang buku dijual terbaik - FUNtastic Parenting, tentang pemeliharan anak hiper-aktif]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alan Yip, pendiri Mind Edge dan pengarang buku dijual terbaik &#8211; FUNtastic Parenting, tentang pemeliharan anak hiper-aktif menyatakan:</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="320" height="265" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/syXmcD_RmkA&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="320" height="265" src="http://www.youtube.com/v/syXmcD_RmkA&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;rel=0" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>&#8220;Tentang anak yang hiper-aktif, terlebih dulu semua orang tua silahkan tidak memakai kata hiper-aktif, karena kata hiper-aktif ini, adalah tanda negatif, menganjurkan anak menjadi hiper-aktif. Kami perlu berubah tanda ini ke penuh semangat. Saya setiap kali bicara bahwa anak saya tidak hiper-aktif. Tidak boleh membolehkan orang lain bertanda secara salah anak anda dengan kata hiper-aktif. Malahan mengatakan, anak saya penuh semangat, anak saya mempunyai banyak tenaga.!&#8217;</p>
<p>Sekarang kami menumpukan di bagaimana caranya untuk menyalurkan tenaga kelebihan sampai penggunaan konstruktif dan kreatif. Jika anak masih tidak bisa duduk, meminta anak anda berjalan berkeliling dan membaca buku waktu itu. Saya melakukan itu, saya masih tidak bisa duduk terlalu lama. Tidak arti ada apa saja salah dengan kami. Arti, hanya bahwa gaya belajar kami berbeda. Kami belajar di cara unik, dengan laju unik. Oleh sebab itu, jika anak anda masih tidak bisa duduk, tak ada masalah, menyuruh anak anda untuk berdiri. Misalnya, melakukan suatu ejaan di udara A -P-P-L-E. Sekarang dia memakai badannya, dia memakai gerak-gerik fisiknya. Ini adalah sesuatu konstruktif untuk menyalurkan tenaga sampai penggunaan.</p>
<p>Apa yang anda melakukan adalah fokus atas gaya belajar anak anda, suka dan tidak suka, aspirasi, mimpi, harapan, ketakutan dan permasalahan. Memusatkan pikiran pada kekuatan dan kualitas unik. Tolong memmbantu anak anda untuk menjadi yakin, percaya diri, termotivasi dan bahagia perseorangan&#8230; mulai dari tiang kekuatan dan tidak dari defisit atau kelemahan.&#8221; &#8211; Alan Yip, Pendiri Mind Edge.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/hiper-aktif_anak_alan_yip_orangg-tua_nasihats/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 tip menjadi orangtua anak remaja</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/5-tip-menjadi-orangtua-anak-remaja</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/5-tip-menjadi-orangtua-anak-remaja#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 01:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dolly Yeo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertumbuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/?p=4777</guid>
		<description><![CDATA[Aku punya tiga remaja dan saya telah membuat banyak kesalahan. Putri sulung saya menolak untuk memberitahukan tentang di mana ia akan pergi sebagian besar kali. Aku harus menelepon ponselnya dan mengemudi di sekitar seperti seorang detektif berusaha untuk mencari tahu di mana menemukannya. Rasanya seperti mimpi buruk. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-4776" title="teenagers" src="http://theasianparent.com/new/wp-content/uploads/2009/10/teenagers-150x150.jpg" alt="teenagers 150x150 5 tip menjadi orangtua anak remaja" width="150" height="150" /><span id="result_box"><span style="background-color: #ffffff;" title="I have three teenagers and I have made many mistakes." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Aku punya tiga remaja dan saya telah membuat banyak kesalahan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="My eldest daughter refused to inform me about where she was going most of the times." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Putri sulung saya menolak untuk memberitahukan tentang di mana ia akan pergi sebagian besar kali. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="I had to call her cell phone and drive around like a detective trying to figure out where to find her." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Aku harus menelepon ponselnya dan mengemudi di sekitar seperti seorang detektif berusaha untuk mencari tahu di mana menemukannya. </span><span title="It was like a nightmare." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Rasanya seperti mimpi buruk. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="I couldn't get my son to stop playing computer games even when his O-Level examination was less than two months away." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Aku tidak bisa membuat anakku untuk berhenti bermain game komputer bahkan ketika ujian O-Level kurang dari dua bulan lagi. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="My relationship and communication were thrown out of the window." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Hubungan dan komunikasi saya dengan mereka seperti terlempar keluar jendela. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="It took time and consultation with other parents but I was able to learn the hard way through introspection and an objective look at myself." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Butuh waktu dan konsultasi dengan orangtua lain tapi aku bisa belajar dengan cara yang keras melalui introspeksi dan objektif melihat diriku sendiri.</span></span></p>
<p><strong><span style="background-color: #ffffff;" title="The Five Most Common Mistakes in Parenting Teenagers" onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Lima Kesalahan Paling Umum dalam menjadi orang tua untuk Remaja</span></strong></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;" title="Mistake No. 1 - Not listening to your teenagers : I know it sounds silly, but many parents talk to their teenagers but they don't listen to them." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Kesalahan No 1 &#8211; Tidak mendengarkan anak remaja Anda: Aku tahu kedengarannya konyol, tapi banyak orangtua berbicara dengan anak remaja mereka tetapi mereka tidak mendengarkan mereka. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Either they are too busy and in a hurry or they don't make time to listen." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Entah mereka terlalu sibuk dan terburu-buru atau mereka tidak menyediakan waktu untuk mendengarkan.<br />
</span><span style="background-color: #ffffff;" title="Solution: Listen to your teenagers." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Solusi: Dengarkan anak remaja Anda. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Make time just to listen to them, put your newspaper down or stop what you are doing." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Meluangkan waktu hanya untuk mendengarkan mereka, meletakkan koran Anda turun atau menghentikan apa yang Anda lakukan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Putting aside time for them becomes a habit and each time they have something to share with you, they know you are willing to listen." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Menyisihkan waktu untuk mereka menjadi kebiasaan dan setiap kali mereka memiliki sesuatu untuk berbagi dengan Anda, mereka tahu bahwa Anda bersedia untuk mendengarkan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="They may just want someone to listen and not necessarily a solution." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Mereka mungkin hanya ingin seseorang untuk mendengarkan dan tidak harus sebuah solusi.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;" title="Mistake No. 2 - Busy Parents: You may find yourself completing your teenagers' sentences because you assume you already know what your teenagers are trying to communicate." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'"><strong>Kesalahan No 2 -  Orangtua sibuk</strong>: Anda mungkin menemukan diri Anda menyelesaikan remaja &#8216;kalimat karena Anda menganggap Anda sudah tahu apa anak remaja Anda sedang berusaha untuk berkomunikasi. </span><span title="They will then feel that you are making a lot of assumptions." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Mereka kemudian akan merasa bahwa Anda membuat banyak asumsi. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Hurried parents will experience hurried teenagers who will end up bottling their feelings." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Bergegas orangtua akan mengalami bergegas remaja yang akan berakhir pembotolan perasaan mereka. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="You may not realise that you are raising angry children." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda marah membesarkan anak-anak.<br />
</span><span style="background-color: #ffffff;" title="Solution: Let your teenagers complete their sentences." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Solusi: Biarkan anak remaja Anda menyelesaikan kalimat. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Become aware of whether you are thinking of giving them solutions or listening to them completely." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Menjadi sadar apakah Anda sedang berpikir untuk memberikan mereka solusi atau mendengarkan mereka sepenuhnya. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="When they feel listened to, they get the feeling that they are important to you and they feel respected." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Ketika mereka merasa didengarkan, mereka merasa bahwa mereka penting bagi Anda dan mereka merasa dihormati.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;" title="Mistake No. 3 - Using the word 'Should': This is a word that makes your teenagers feel that they have to take orders from you and they may resent their lack of options." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'"><strong>Kesalahan No 3 &#8211; Menggunakan kata &#8216;Haruskah&#8217;</strong>: ini adalah sebuah kata yang membuat anak remaja Anda merasa bahwa mereka harus menerima perintah dari Anda dan mereka mungkin membenci kurangnya pilihan mereka. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="The obedient ones may end up doing it to please you." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Yang patuh yang mungkin berakhir melakukannya untuk menyenangkan Anda. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="You may get obedient children but a frustrated adult later in life." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Anda mungkin mendapatkan anak-anak yang patuh tetapi frustrasi dewasa di kemudian hari. </span><span title="Frustrated teenagers become angry adults." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Frustrasi remaja menjadi marah orang dewasa.<br />
</span><span title="Solution: Avoid using &quot;Should&quot; when communicating with your children." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Solusi: Hindari penggunaan &#8220;Haruskah&#8221; ketika berkomunikasi dengan anak-anak Anda. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Give them choices and consequences where possible and let them make a decision on their own." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Beri mereka pilihan dan konsekuensi di mana mungkin dan membiarkan mereka membuat keputusan mereka sendiri.</span></p>
<p><span style="background-color: #ffffff;" title="Mistake No. 4 - Protective Parents: If you find yourself cushioning your teenagers at every opportunity to protect them from being hurt, they learn fear instead of courage." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'"><strong>Kesalahan No 4 &#8211; Perlindungan Orangtua:</strong> Jika Anda menemukan diri Anda bantalan remaja Anda di setiap kesempatan untuk melindungi mereka dari disakiti, mereka belajar takut bukan keberanian. </span><span title="Fear stops them from making a choice to step up and make decisions." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Takut berhenti mereka dari membuat pilihan untuk meningkatkan dan membuat keputusan.<br />
</span><span style="background-color: #ffffff;" title="Solution: Provide options - Allow your teenagers to make decisions." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Solusi: Menyediakan pilihan &#8211; Biarkan anak remaja Anda untuk membuat keputusan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="Talk to them about the various options and explain to them the possible consequences or outcome." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Berbicara dengan mereka mengenai berbagai pilihan dan menjelaskan kepada mereka kemungkinan konsekuensi atau hasil. </span><span title="They will learn the way to make decisions in the future." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Mereka akan belajar cara untuk membuat keputusan di masa depan.</span></p>
<p><span title="Mistake No. 5 - Criticising your Teenagers: Ongoing criticism could be interpreted as a lack of respect for them and that could escalate into suspicions that you don't trust them." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'"><strong>Kesalahan No 5 &#8211; Kritik Remaja Anda:</strong> Terus menerus melontarkan kritik dapat ditafsirkan sebagai kurangnya rasa hormat untuk mereka dan yang dapat meningkat menjadi kecurigaan bahwa Anda tidak mempercayai mereka. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="When they don't feel trusted, they lose confidence in themselves." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Ketika mereka tidak merasa dipercaya, mereka kehilangan kepercayaan pada diri mereka sendiri. </span><span title="They may end up avoiding you." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Mereka mungkin berakhir menghindari Anda.<br />
</span><span style="background-color: #ffffff;" title="Solution: Catch them doing things right and compliment them sincerely." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Solusi: Ketika  mereka melakukan hal-hal yang benar berikan pujian mereka tulus. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="What you focus on positively expands to become habits." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Apa yang Anda fokuskan mengembang positif menjadi kebiasaan. </span><span style="background-color: #ffffff;" title="They will feel respected, appreciated and will tend to behave more appropriately to get more of your positive acknowledgments." onmouseover="this.style.backgroundColor='#ebeff9'" onmouseout="this.style.backgroundColor='#fff'">Mereka akan merasa dihormati, dihargai dan akan cenderung berperilaku lebih tepat untuk mendapatkan lebih banyak pengakuan positif Anda.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/5-tip-menjadi-orangtua-anak-remaja/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

