<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia parenting advice for orang tua, bayi, wanita, ibu, dan pasangan muda &#187; Martha W</title>
	<atom:link href="http://id.theasianparent.com/articles/author/martha-w/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://id.theasianparent.com</link>
	<description>The Online Home for Parents in Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Jul 2010 09:00:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Saya membunuh anak saya</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/saya_membunuh_anak_saya-2</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/saya_membunuh_anak_saya-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Martha W</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu-ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/new/i_killed_my_child</guid>
		<description><![CDATA[I caused a thunderstorm in my husband’s life three years ago. A thunderstorm that he has no clue about.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="2" cellpadding="2" width="20%" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-family: &quot;Bitstream Vera Sans [bitstream]&quot;, &quot;Helvetica [Adobe]&quot;, sans-serif; color: #ffffff;"><strong><span style="font-family: &quot;Bitstream Vera Sans [bitstream]&quot;, &quot;Helvetica [Adobe]&quot;, sans-serif; color: #000000;"><strong><span style="font-size: x-small;"><img src="http://theasianparent.com/upload_folder_news/folder_681/file_1_share a secret.jpg" alt="Share a secret" hspace="5" vspace="0" width="150" align="left" title="Saya membunuh anak saya" /></span></strong></span></strong></span></td>
</tr>
<tr>
<td>
<div class="s5"><img src="http://theasianparent.com/images/space.gif" alt="space Saya membunuh anak saya" width="10" height="10" title="Saya membunuh anak saya" /></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div><span style="font-family: &quot;Bitstream Vera Sans [bitstream]&quot;, &quot;Helvetica [Adobe]&quot;, sans-serif; color: #000000; font-size: xx-small;"><strong>Share a secret</strong></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Saya membaca entah di mana bahwa di setiap jiwa, sedikit hujan harus mulai membuatnya lebih menarik dan berarti. Tetapi saya menyebabkan badai petir di kehidupan suami saya  tiga tahun yang lalu. Badai petir bahwa dia tidak tahu petunjuk.</p>
<p>Suami saya adalah seorang pengusaha dan saya seorang guru piano. Kami mempunyai 3 orang anak laki-laki dan 2 orang gadis. Anak sangat dekat pada ketuaan yang tidak adalah kejutan sewaktu saya meletupkan mereka ke luar tahunan. Oleh waktu saya kelima tiba, saya tahu itu cukup. Saya memohon suami vasektomi saya tetapi dia menolak. Saya tersadar bahwa pil pembatasan kelahiran sedang pergi untuk menjadi satu-satunya hal bahwa bisa menyelamatkan kewarasan saya.</p>
<p>Tetapi, kita semua tahu bahwa pil, kondom dan metode lain pembatasan kelahiran hanya dapat menolong 99%. Dengan jenis keberuntungan I’m tidak punya, bahwa 1% kemungkinan  kehamilan, menjadi kehamilan yang ke enam untuk saya.</p>
<p>Mulanya, saya tidak tahu saya hamil. Suami saya dan saya adalah kupu-kupu sosial dan hampir setiap Sabtu, kami di makan malam atau partai atau semacam mendapat-bersama. Bagaimanapun juga, setelah sesuatu Sabtu seperti itu, kami baik agak agak mabuk dari minuman keras setelah itu teman suami saya menyetir mobil sehingga kami kembali rumah kami. Sesudah cocok (atau sedikitnya apa saya berpikir dilakukan kami) pada anak, kami berhasil menaiki tingkat dan belok kedua pojok ke dalam kamar tidur kami. Satu hal menyebabkan lain dan segera kami ialah tidur dengan cekikikan belasan tahun yang kadang-kadang di antara kami.</p>
<p>Sesudah sekitar 2 bulan, saya mulai muntah secara teratur dan merasa murung. Kejadian itu terjadi 5 waktu, oleh sebab itu saya tahu di mana ini dikepalai. Namun, saya menerima tes kehamilan untuk menegaskan. Histeria sangat besar pada realisasi!! Saya tak percaya saya hamil untuk waktu keenam! Saya masih mengingat pembantu saya yang membintangi di saya sewaktu saya menyumpah di dialek berbeda (dengan bersyukur suami dan anak saya tidak di rumah). Saya mulai menangis secara tak terkendali dan memukul perut saya. Ini tak terjadi. Saya baru saja membuat cukup waktu bagi sendiri dengan 5 raksasa sudah timbul!</p>
<p>Saya tahu suami saya bermaksud menjadi tetap tentang menyimpan anak jika saya berkata kepadanya. Dia selalu sudah mengatakan bahwa 6 adalah jumlah mujurnya dan selalu bersembahyang kami akan mempunyai anak lain saja untuk mengumpulkan ke-5 ke 6. Juga, karean dia orang Katolik setia dan orang yang percaya besar di keluarga-keluarga besar, tidak ada cara dia bermaksud menyerahkan anak ini untuk adopsi atau yang lain. Saya tahu saya tidak ingin anak ini dan saya mesti menyingkirkannya sendiri. Oleh sebab itu saya berdiri di atas tangga saya. Saya menempatkan sendiri di tempat pembuangan tangga tertinggi dan menutup mata saya. Sebelum badan saya bisa mundur, saya berhenti. Saya tidak kuat.</p>
<p>Lalu, saya berlari seperti seorang maniak mengitari rumah saya, dengan sengaja menabrak hal seperti akhir tajam meja, pinggir piano saya. Satu-satunya hal yang menarik saya adalah memar di garas dan balapan anjing keluarga berpikir saya bermain-main dengannya. Sesudah bertubrukan dengan jambangan dan membuat kaca hancur di seluruh saya, saya menjadi sadar kembali. Kelakuan bodoh ini akan paksa berhenti dan saya memikirkan cara  dengan serius untuk pergi dari ini.</p>
<p>Mencari Klinik</p>
<p>Oleh sebab itu sesudah memeriksa beberapa tempat yang menawari servis aborsi, saya memilih yang satu ini paling jauh dari rumah saya. Saya awalnya sudah mempertimbangkan melewati jalan yang ditinggikan untuk dilakukanitu tetapi kerepotan menerangkan saya kepada tiap orang memaksa saya membatalkan rencana itu. Agak terlalu riskan.</p>
<p>Senin pagi. Saya masih teringat hari ini secara jelas karena saya bangun dengan ingin saya tidak pernah merasa. Muda kembali, bahagia dan benar-benar penuh antusiasme selama hari. Sampai saya mendapat hari ini, saya bermaksud membunuh bayi saya.</p>
<p>Saya memakai rok kesayangan saya dan naik taksi ke klinik. Merasakan sedikit surreal dan hampir seperti versi membelit ‘Rosemary’s Baby’. Setelah prosedur tanda-tangani selasai, saya diputardi rumah operasi. Kata, ‘kebebasan&#8217; melintas secepat kilat di pikiran saya seperti lampu neon.</p>
<p>Setelah apa yang nampaknya seperti perjalanan sampai yang tak dikenal dan kembali, saya bangun dengan jejak anestesi. Beristirahat untuk sedangkan, saya naik taksi dan kemabli rumah saya. Di rumah, saya memerintahkan anak dan pembantu untuk membiarkan saya sendiri sewaktu saya mempunyai kasus jelek flu.</p>
<p>Suami saya percaya dusta flu dan semua keluarga utuh tidak mendapati saya cukup panjang bagi saya untuk beristirahat. Hari ini, saya seorang ibu bahagia sebanyak 5 orang anak sehat dan seorang istri puas sedangkan semua tak tahu tentang rahasia saya.</p>
<p>Ya, aborsi jelek, aborsi kejam tetapi mungkin anda berpikir membawa seorang anak ke dalam dunia ini dan mengabaikannya, dua kali lebih jelek? Sedikitnya cara ini, janin tak meraba hal!</p>
<p>*Nama sudah diganti untuk melindungi identitas penulis.</p>
<p><strong>Suka apa yang dibaca? Facebook itu! </strong></p>
<p><script type="text/javascript">// <![CDATA[
function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u=' encodeURIComponent(u) '&#038;t=' encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return false;}
// ]]&gt;</script><br />
<!--  html .fb_share_link { padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?0:26981) no-repeat top left; } --></p>
<p><a class="fb_share_link" onclick="return fbs_click()" href="http://www.facebook.com/share.php?u=&lt;url&gt;" target="_blank">Mengikuti di Facebook</a></p>
<p><!-- AddThis Button BEGIN --></p>
<p><script type="text/javascript">// <![CDATA[
addthis_pub  = 'roshni';
// ]]&gt;</script></p>
<p><a onclick="return addthis_sendto()" onmouseover="return addthis_open(this, '', '[URL]', '[TITLE]')" onmouseout="addthis_close()" href="http://www.addthis.com/bookmark.php"><img src="http://s9.addthis.com/button1-share.gif" border="0" alt="button1 share Saya membunuh anak saya" width="125" height="16" title="Saya membunuh anak saya" /></a><script src="http://s7.addthis.com/js/152/addthis_widget.js" type="text/javascript"></script></p>
<p><!-- AddThis Button END --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/saya_membunuh_anak_saya-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>75</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya Membunuh Anak Saya</title>
		<link>http://id.theasianparent.com/articles/saya_membunuh_anak_saya</link>
		<comments>http://id.theasianparent.com/articles/saya_membunuh_anak_saya#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 02:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Martha W</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ibu-ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.theasianparent.com/new/saya_membunuh_anak_saya</guid>
		<description><![CDATA[Saya pernah baca bahwa di setiap kehidupan, gerimis harus turun untuk membuatnya menarik dan bermakna. Tapi saya menciptakan badai dalam kehidupan suami saya tiga tahun yang lalu. Sebuah badai yang dia tidak ketahui.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellspacing="2" cellpadding="2" width="20%" align="left">
<tbody>
<tr>
<td><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; color: #ffffff;"><strong><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; color: #000000;"><strong><span style="font-size: x-small;"><img src="http://theasianparent.com/upload_folder_news/folder_690/file_1_file_1_share a secret.jpg" alt="Saya Membunuh Anak Saya" hspace="5" width="150" align="left" title="Saya Membunuh Anak Saya" /></span></strong></span></strong></span></td>
</tr>
<tr>
<td>
<div class="s5"><img src="http://theasianparent.com/images/space.gif" alt="space Saya Membunuh Anak Saya" width="10" height="10" title="Saya Membunuh Anak Saya" /></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<div><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; color: #000000; font-size: xx-small;"><strong>Saya Membunuh Anak Saya</strong></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Saya pernah baca bahwa di setiap kehidupan, gerimis harus turun untuk membuatnya menarik dan bermakna. Tapi saya menciptakan badai dalam kehidupan suami saya tiga tahun yang lalu. Sebuah badai yang dia tidak ketahui.</p>
<p>Suami saya pebisnis dan saya guru piano. Kita memiliki tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan. Anak-anakku usianya dekat satu sama lain, hal ini bukan kejutan karena saya melahirkan tiap tahun. Ketika anak ke lima tiba saya tahu saya sudah merasa cukup. Saya memohon suami saya untuk vasektomi tapi dia menolak. Saya sadar bahwa pil pengendali kelahiran adalah hal yang bisa menjaga saya waras.</p>
<p>Tapi kita tahu bahwa pil, kondom dan metode pengendalian kelahiran lain hanya membantu sebanyak 99%. Dengan persentase keberuntungan seperti itu, yang 1% ternyata menjadi kehamilan saya yang ke enam.</p>
<p>Awalnya saya tidak tahu saya hamil, tapi ketika saya sering muntah dan perasaan berubah-rubah saya mencoba mengambil tes kehamilan untuk pastinya. Histeris sekali ketika sadar! Saya tak percaya ini terjadi untuk ke enam kalinya! Saya masih ingat pembantu menatap saya ketika saya mengutuk dalam berbagai macam dialek (untungnya suami dan anak-anak saya tidak ada di rumah). Saya mulai menangis tak terkendali dan memukul perut saya. Ini harusnya jangan terjadi. Saya sama sekali tak punya waktu dengan saya sendiri dengan lima monster yang sudah ada!</p>
<p>Saya tahu suami saya akan kukuh mempertahankan anak ini jika saya memberitahu dia. Dia selalu mengatakan pada saya bahwa 6 adalah angka keberuntungannya dan selalu berdoa bahwa kita akan punya anak lagi agar lima menjadi enam. Juga, sebagai penganut Katolik yang taat dan percaya pada keluarga besar, tak mungkin ia akan memberikan anak ini untuk adopsi atau hal yang lain. Saya tahu saya tak menginginkan anak ini dan saya harus menyingkirkannya sendiri. Jadi saya berdiri di atas tangga dan melihat ke bawah. Saya berdiri di ujung tangga dan menutup mata. Sebelum tubuh saya mundur ke belakang, saya berhenti. Saya tak sekuat itu.</p>
<p>Lalu saya berlari seperti maniak di rumah saya, dengan sengaja menabrakkan tubuh saya ke ujung meja dan piano yang tajam dan lain sebagainya. Tapi saya hanya memar dan anjing keluarga mengira saya bermain dengannya. Setelah menabrak vas dan kaca pecah di sekitar saya, saya mulai mencoba untuk masuk akal. Perilaku konyol ini harus berhenti dan saya harus mencari jalan keluar dengan serius.</p>
<p><strong>Mencari Klinik </strong></p>
<p>Maka setelah mencari beberapa tempat yang menawarkan jasa aborsi saya mencari yang terjauh dari rumah. Awalnya saya ingin menyebrang pematang tapi karena, untuk ke situ saya harus menjelaskan keberadaan saya pada semua orang rencana itu batal. Terlalu beresiko.</p>
<p>Hari itu Senin pagi. Saya masih ingat hari itu dengan jelas karena saya bangun merasakan hal yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Muda, bahagia dan penuh antusiasme untuk hari itu. Sampai saya menyadari bahwa ini adalah hari di mana saya akan membunuh bayi saya.</p>
<p>Saya memakai baju kesukaan saya dan menuju klinik. Saya merasa agak aneh dan seperti versi gila dari film ‘Rosemary’s Baby’. Setelah prosedur penandatanganan selesai, saya dibawa. Kata ‘merdeka’ muncul di kepala saya layaknya kilatan lampu neon.</p>
<p>Setelah sebuah perjalanan ke antah berantah dan kembali, saya bangun dengan sisa pembiusan. Istirahat sebentar saya bisa pulang dengan keadaan agak pusing. Di rumah saya meminta anak-anak dan pembantu untuk membiarkan saya sendiri karena saya kena flu berat.</p>
<p>Suami saya percaya akan kebohongan flu ini dan seisi rumah menjauhi saya cukup lama sehingga saya cukup waktu untuk beristirahat. Sekarang saya ibu yang bahagia dengan lima anak sehat dan istri yang puas karena tak ada yang tahu rahasia saya.</p>
<p>Ya aborsi buruk, aborsi kejam tapi bukankah membawa anak di dunia ini dan mengabaikannya adalah dua kali lebih buruk? Setidaknya dengan cara ini janin tak merasakan apapun!</p>
<p>*Nama dirubah untuk melindungi identitas penulis.</p>
<p><!-- AddThis Button END --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.theasianparent.com/articles/saya_membunuh_anak_saya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

